Aris Santoso
Peneliti militer, terutama TNI AD. Bekerja sebagai editor buku paruh waktu.

72 Tahun Kodam Siliwangi

25 Mei 2018
Dibaca Normal 4 menit
Pada 11 Mei lalu, Panglima TNI meresmikan empat satuan baru. Salah satunya Divisi Infanteri 3 Kostrad, yang sebelumnya hanya jadi wacana selama bertahun-tahun. Peresmian empat satuan tersebut adalah tindak lanjut Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 12/2018 yang terbit tiga hari sebelumnya (8 Mei).

Sebenarnya ini peristiwa historis, namun luput dari perhatian publik karena kurang mendapat liputan yang memadai dari media. Sebab waktunya bersamaan dengan insiden di Markas Komando Brimob yang menyita perhatian publik.

Sebuah fenomena menarik terkait sejarah satuan bila Divisi Infanteri 3 Kostrad baru mengawali sejarahnya di bulan Mei ini, sementara Kodam III/Siliwangi yang juga didirikan di bulan Mei, tepatnya 20 Mei 1946, sudah menjadi narasi besar. Kiranya Kodam Siliwangi bisa dijadikan rujukan bagi satuan besar lain yang baru didirikan, seperti Divif 3 Kostrad, Kodam 18/Kasuari, Kodam XIII/Merdeka, dan seterusnya.

Mengatasi Gerakan Ekstremis

Pembicaraan tentang Kodam Siliwangi hari-hari ini menjadi aktual, mengingat sejak awal mereka sering terlibat penumpasan gerakan DI/TII, selaku kombatan pembawa aspirasi NII (Negara Islam Indonesia). Sebagian pelaku aksi teror beberapa tahun belakangan ini adalah generasi penerus cita-cita NII. Dari sini kita melihat, selalu ada yang linier dalam sejarah, bahwa dua pihak yang pernah berhadapan, yakni Kodam Siliwangi dan “anak ideologis” NII masih sama-sama eksis.


Nama besar Kodam Siliwangi sebagian diperoleh karena operasi-operasi penumpasan gerakan ekstremis seperti DI/TII yang jejaknya masih terlihat sampai sekarang. Salah satu yang terlibat adalah Kopassus, yang awalnya merupakan satuan organik Kodam Siliwangi. Mereka dilibatkan sebagai bagian dari strategi mempercepat penumpasan gerakan DI/TII. Satuan lain yang bisa disebut adalah Yonif Para Raider 330/Kujang I dan Yonif Para Raider 328/Kujang II, yang kini bergabung di Kostrad. Perlu diketahui, satuan-satuan ini dibentuk saat posisi Pangdam Siliwangi dipegang Kolonel Alex Evert Kawilarang (1951-1956), panglima Siliwangi yang paling legendaris.

Terkait kelanjutan gerakan NII, kita bisa mengingat kembali peristiwa pembajakan pesawat Garuda di Bangkok (Maret 1981), yang operasi penumpasannya dikenal dengan nama sandi “Operasi Woyla”. Para pelaku aksi pembajakan adalah “generasi penerus” pembawa asprasi NII. Sebagaimana kita ketahui, aksi pembajakan ini kemudian ditumpas oleh (embrio) satuan antiteror Kopassus, yang kini dikenal sebagai Satgultor-81, satuan garda depan dalam mengatasi berbagi tindak terorisme.

Tapi bisa jadi Operasi Woyla sendiri adalah anakronisme. Jenderal Benny Moerdani adalah perwira intelijen yang memprakarsai pembentuan satuan antiteror di Kopassus, yang meraih prestasi gemilang dalam operasi pertamanya di Bangkok. Sementara senior Benny di dunia intelijen, yakni Ali Moertopo, di masa hidupnya dikenal memelihara jaringan NII untuk kepentingan operasi intelijen dengan cara menjinakkan dan menyalurkan aspirasi eks-NII ke Golkar.

Soal apakah pelaku aksi pembajakan pesawat Garuda di Bangkok tersebut masih memiliki keterkaitan dengan sel-sel NII binan Ali Moertopo, masih jadi misteri. Namun setidaknya, melalui satuan-satuan yang pernah dilahirkannya, Kodam Siliwangi selalu berperan penting dalam dinamika kebangsaan.

Obsesi Soeharto

Ibarat bunyi pepatah, semakin tinggi pohon, semakin kencang pula angin yang menerpanya. Kejayaan Siliwangi dan kedekatan khususnya dengan figur Sukarno menimbulkan rasa kurang nyaman bagi komando lain, terutama Soeharto (secara pribadi) dan Kodam Diponegoro.

Sejak masa awal republik, performa antara Kodam Diponegoro dan Kodam Siliwangi selalu diperbandingkan, kalau tidak boleh disebut sebagai persaingan terselubung. Atmosfer persaingan inilah yang membuat Soeharto (bagian dari rumpun Diponegoro) begitu terobsesi untuk menghentikan dominasi Kodam Siliwangi.

Selain prestasi dalam operasi tempur, kedekatan dengan Sukarno juga penting bagi tingginya citra Siliwangi. Faktor kedekatan itu bisa terjadi secara alamiah karena kesamaan tradisi. Perwira-perwira Siliwangi pada umumnya, dan juga Sukarno, adalah bagian dari kultur kosmopolitan Kota Bandung. Sukarno menempuh pendidikan tinggi (teknik) di Bandung, seperti halnya dua figur legendaris Siliwangi, yaitu AH Nasution (Panglima Siliwangi pertama) dan AE Kawilarang, yang menempuh pendidikan Akademi Militer di Bandung. Kolonel Kawilarang bahkan sempat disebut sebagai perwira kesayangan Sukarno, terlebih bila dikaitkan dengan fakta bahwa hubungan Sukarno dan Nasution (selaku KSAD) tidak selamanya mulus.


Salah satu tanda tradisi kosmopolitan dimaksud adalah bahasa pengantar di kalangan perwira Siliwangi, termasuk bila bertemu Sukarno tentunya. Mereka memakai bahasa Belanda. Ini berbeda dengan kebiasaan di lingkungan perwira Diponegoro (termasuk Brawijaya di Jatim), yang lebih sering menggunakana bahasa daerah, termasuk dalam pembicaraan formal.

Segala kemuliaan Kodam Siliwangi secara perlahan surut ketika Soeharto mulai berkuasa. Bertepatan dengan upacara peringatan 20 tahun Kodam Siliwangi (20 Mei 1966) di Bandung, Jenderal Soeharto (selaku KSAD), meresmikan berdirinya Brigade Infanteri Lintas Udara 17/Kujang I, satuan elite di bawah Kodam Siliwangi. Sampai sekarang, 20 Mei masih diperingati sebagai hari lahir brigade yang kini sudah berganti nama menjadi Brigif Para Raiders 17/Kujang I Kostrad itu.

Upacara peresmian Brigif 17 tersebut terkesan sangat simbolis. Upacara ini adalah cara Soeharto untuk menggembosi dominasi Kodam Siliwangi demi Kodam Diponegoro. Yang ditunjuk sebagai Komandan pertama Brigif 17 adalah Kol Inf Himawan Soetanto, perwira Siliwangi yang dikenal sangat setia pada Soeharto.

Pada upacara tersebut, Pangdam Siliwangi masih dijabat Mayjen Ibrahim Adjie, seorang jenderal legendaris yang dianggap Sukarnois sejati. Mengeliminir Ibrahim Adjie dan jenderal-jenderal Sukarnois lainnya adalah bagian dari skenario “kudeta merangkak” Soeharto untuk mengkonsolidasikan kekuasaan. Tepat dua bulan kemudian (20 Juli 1966), posisi Ibrahim Adjie selaku Pangdam Siliwangi digantikan oleh Mayjen HR Dharsono (Pak Ton). Namun selanjutnya, Pak Ton juga termasuk figur rumpun Siliwangi yang paling awal tersingkir di masa Orde Baru.


Nominasi KSAD

Pasca lengsernya Soeharto, Kodam Siliwangi seolah memasuki fase revitalisasi. Dalam rentang 10 tahun terakhir, sudah tiga mantan panglimanya yang kemudian berhasil menjadi KSAD, capaian yang sulit disamai oleh satuan setara lainnya. Nama dimaksud adalah George Toisutta (Akmil 1976), Pramono Edhi Wibowo (Akmil 1980), dan Moeldoko (lulusan terbaik Akmil 1981).

Pergantian zaman diikuti pula dengan penyusunan road map sebuah satuan guna meraih nama besar. Bagi tentara zaman sekarang, setidaknya ada dua poin yang menjadi penandanya. Pertama, adanya rotasi pimpinan yang relatif cepat. Kedua, semakin minimnya operasi tempur.

Bagi satuan yang sudah “terlanjur” melegenda seperti Siliwangi, minimnya operasi tempur bukanlah masalah besar, karena prestasi di masa lalu masih bisa dijadikan rujukan. Kita tidak tahun persis jalan satuan-satuan yang baru didirikan—misalnya Divif 3 Kostra—dalam membangun sejarahnya kelak.

Kodam Siliwangi memiliki catatan menarik soal rotasi pimpinan yang cepat. Ketika kodam-kodam di Tanah Air masih dipimpin Generasi 1945, durasi jabatan panglima (pangdam) bisa berlangsung bertahun-tahun. Mayjen Ibrahim Adjie, misalnya, menjabat Pangdam Siliwangi sekitar enam tahun (1960-1966). Masa jabatan yang terlalu lama terkadang menimbulkan dampak yang kurang baik. Kultus individu adalah salah satu dampaknya.

Ketika generasi lulusan Akmil mulai memasuki formasi pangdam, durasi jabatan paling lama dua tahun. Masa jabatan di atas dua tahun akan mengganggu proses alih generasi, karena setiap tahun lembaga pendidikan seperti Akmil, Seskoad, dan Sesko TNI selalu menghasilkan lulusan. Khusus untuk Pangdam Siliwangi, masa jabatan bahkan bisa lebih pendek lagi. Dua panglima sebelumnya, yakni Letjen Doni Munardo (Akmil 1985, kini Sesjen Wantannas) dan Letjen M Herindra (lulusan terbaik Akmil 1987, kini Irjen TNI), masing-masing hanya menjabat sekitar empat bulan. Termasuk perwira tinggi sekelas Moeldoko, yang tidak genap dua tahun saat menjabat Pangdam Siliwangi (2011-2012).

Sekali lagi, revitalisasi Kodam Siliwangi salah satunya ditandai dengan mantan panglimanya yang kemudian berlanjut sebagai KSAD. Dengan kata lain, bila “musim” pergantian KSAD telah tiba, mantan Pangdam Siliwangi seperti Doni Munardo dan Herindra otomatis akan selalu masuk nominasi. Terlebih sekarang ini, ketika Moeldoko sudah masuk lingkaran dalam Presiden Jokowi, peluang (sebagai KSAD) jadi lebih kuat.

Beberapa bulan yang lalu nama Letjen Andika Perkasa (Akmil 1987), seolah-olah masih berjalan sendiri menuju orang nomor satu di Angkatan Darat, tanpa kandidat pendamping. Kini dengan masuknya Moeldoko di Istana, saya kira sang kepala KSP bakal lebih meng-endorse yuniornya sesama mantan Panglima Siliwangi, seperti Doni atau Herindra. Bila ini yang terjadi, Andika akan diproyeksikan pada posisi bintang empat lainnya, misalnya sebagai Kepala BIN seperti sang mertua, Hendropriyono.

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id.
DarkLight