Menuju konten utama

Baju Baru, Uang Baru... Awas Palsu!

Menukar dan membagi-bagikan uang kertas baru kini sudah menjadi sebuah tradisi tahunan ketika Lebaran. Namun, tradisi ini ibarat seperti dua sisi mata pisau. Di satu sisi bisa membantu Bank Indonesia (BI) melancarkan sirkulasi uang di masyarakat, di sisi lain hal itu menjadi celah longgar masuknya uang palsu.

Baju Baru, Uang Baru... Awas Palsu!
Bank Indonesia melayani penukaran uang receh di Lapangan Parkir Irti Monumen Nasional, Jakarta. Tirto/Andrey Gromico.

tirto.id - Membagi-bagikan uang dalam kondisi baru, yang masih licin dan “bau uang” kini menjadi sebuah tradisi bagi kebanyakan orang Indonesia. Uang pecahan kecil Rp1.000, Rp2.000 atau Rp5.000, tapi dengan kondisi baru seolah jadi nilai lebih bagi yang memberi apalagi yang menerimanya.

Yayan (27), warga Jatiasih, Bekasi, Jawa Barat, memberikan uang pecahan Rp2.000, kepada keponakan yang masih berusia lima hingga 10 tahun dan memberikan Rp5.000 kepada keponakan yang berusia 10 tahun ke atas saat lebaran. Bisa memberi merupakan sebuah kebahagiaan. Apalagi bisa memberikan lebih banyak lembaran uang dengan kondisi gres meski dengan nominal tak besar.

"Biasanya, nominal pecahannya berbeda walaupun secara nilai sama. Misalnya untuk keponakan, saya kasih yang Rp2.000 sebanyak 10 lembar. Sedangkan kakek dan nenek saya, dikasih pecahan Rp10.000 dua lembar," kata Ralenti (35), warga Perumnas I, Bekasi Barat dikutip dari Antara.

Pengalaman Yayan dan Ralenti pastinya dialami oleh sebagian besar masyarakat Indonesia yang merayakan lebaran. Tidak hanya jiwa dan pakaian yang baru, tapi uang pun ikut-ikutan baru.

Untuk mendapatkan uang baru, jelang lebaran masyarakat beramai-ramai menukarkan uangnya. Sebagian ada yang datang ke bank, dan menyerbu kas keliling yang disediakan Bank Indonesia (BI). Tradisi ini mendorong lonjakan kebutuhan uang tunai, dalam bentuk uang kertas baru pecahan kecil jelang lebaran.

Misalnya, jumlah penukar uang pecahan kecil dan baru yang digelar BI dan 11 bank di Lapangan Benteng, Medan sudah didatangi 10.634 orang, sejak loket penukaran uang itu dibuka 13 Juni hingga 1 Juli 2016. Jumlah uang kecil yang paling banyak ditukar masyarakat berupa uang Rp5.000.

Berdasarkan catatan BI, jumlah uang baru yang disiapkan untuk penukaran jelang lebaran setiap tahun terus bertambah. Pada 2013 jumlah uang baru yang disiapkan hanya Rp103,1 triliun, dalam dua tahun meningkat jadi Rp125 triliun. Tahun ini, BI menyiapkan Rp160,4 triliun uang baru. Kenaikan ini dibarengi dengan tingkat pertumbuhan penukaran uang oleh masyarakat secara resmi melalui BI. Pada 2013 terjadi kenaikan 20 persen, di 2014 naik 14,9 persen, dan 2015 naik hanya 4,40 persen.

Kenaikan penukaran uang baru oleh masyarakat jelang lebaran secara langsung berdampak positif. Salah satunya, membantu BI dalam sirkulasi peredaran uang. Adanya penukaran uang membantu BI menarik uang-uang tak layak edar. Dampaknya bisa menekan risiko adanya penyebaran uang palsu secara meluas di masyarakat. Namun, masyarakat yang menukar uang baru di tempat tak resmi sangat berisiko mendapatkan uang palsu.

Waspada Uang Palsu

BI mencatat temuan uang palsu secara nasional cukup berfluktuasi. Pada 2010 temuan uang palsu sebanyak 204.450 lembar, pada 2011 tercatat ada 117.955 lembar, 2012 sebanyak 92.686 lembar, 2013 ada kenaikan dengan temuan 141.266 lembar uang palsu. Pada 2014 ada sedikit penurunan dengan temuan 122.091 lembar. Selama Januari-Oktober 2015 ditemukan ada 280.655 lembar uang palsu.

Yang menarik, berdasarkan hasil analisa cetak pada temuan rupiah palsu, terjadi kecenderungan peningkatan kualitas dari uang palsu. Artinya butuh upaya ekstra masyarakat dan untuk lebih jeli mengenali rupiah yang asli.

Secara rasio temuan uang palsu juga berfluktuasi, pada 2010 rasionya sempat mencapai 20 lembar/1 juta lembar dari uang yang beredar. Kemudian pada 2011 turun jadi 11 lembar/1 juta uang yang beredar. Pada 2012 rasionya turun lagi menjadi 8 lembar/1 juta uang kertas yang beredar di masyarakat. Sedangkan untuk 2013, tercatat ada kenaikan sebanyak 11 lembar/1 juta uang. Berselang setahun rasionya turun jadi 9 lembar/1 juta uang. Rekor tertinggi terjadi pada tahun lalu tercatat ada 19 lembar/1 juta lembar uang kertas.

Pada 2016, penemuan uang palsu cenderung berkurang, selama Januari-Mei 2016 rasionya tercatat hanya 5 lembar/1 juta lembar uang. Namun memasuki Juni 2016 apalagi mendekati bulan Ramadan dan Idul Fitri peredaran uang palsu diperkirakan bakal cenderung tinggi. Masyarakat diharapkan waspada terhadap peredaran uang palsu.

Dalam operasi terakhir pada 2016 yang dilakukan BI dan Polri, ditemukan 18.000 lembar uang palsu. Mayoritas uang palsu tersebut ditemukan di Pulau Jawa, khususnya di kota-kota sentra ekonomi. BI mengintensifkan kerja sama dengan Polri untuk mengatasi peredaran uang palsu. Selain kerja sama itu, BI juga minta kepada kepolisian, untuk memaksimalkan tuntutan hukuman kepada pelaku peredaran uang palsu, agar dapat memberikan efek jera. BI juga akan meningkatkan sosialisasi mengenai perbedaan uang palsu dan asli agar masyarakat dapat lebih waspada.

Menjelang Lebaran, BI kembali mengingatkan ganasnya peredaran uang palsu. Sosialisasi perbedaan uang palsu dan asli semakin digencarkan.

"Apalagi ketika ingin mendekati hari raya lebaran, kita terus masif untuk mensosialisasikan perbedaan uang asli dan palsu," kata Deputi Gubernur BI Ronald Waas dikutip dari Antara.

Peringatan BI memang perlu diwaspadai. Peredaran uang baru yang meningkat menjelang Lebaran dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para oknum dengan menyebarkan uang palsu. Ada baiknya masyarakat waspada dan tidak menukarkan uang kecuali di tempat-tempat yang resmi.

Penukaran uang di luar tempat yang resmi memang menjadi pilihan karena layanan kas keliling yang disediakan BI atau perbankan masih terbatas apalagi menjelang lebaran. Masyarakat juga harus antre dan bersaing dengan para calo penukar uang. Selain itu, ada ketentuan pembatasan transaksi maksimal hanya Rp3,7 juta untuk setiap orang sehingga masyarakat tidak leluasa.

Bagi masyarakat yang ingin praktis, mereka lebih memilih menukarkan uangnya di tepi jalan. Namun, menukarkan uang baru di pinggir jalan bukannya tanpa risiko. Ada risiko jumlahnya tidak sesuai ataupun ada uang cacat. Selain itu, ada pula risiko tersisipnya uang palsu. Jadi pilihan ada di tangan Anda untuk menyambut tradisi serba baru ini.

Baca juga artikel terkait EKONOMI atau tulisan lainnya dari Suhendra

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Suhendra
Penulis: Suhendra
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti