Bahaya Konsumsi Kopi bagi Balita: Insomnia, Hiperaktif & Kematian

Oleh: Dewi Adhitya S. Koesno - 17 September 2019
Dibaca Normal 1 menit
Bayi dan balita minum kopi sebagai pengganti susu, apa bahayanya bagi kesehatan?
tirto.id -

Minum kopi bagi orang dewasa, tentu menjadi hal yang umum, tetapi bagaimana jika kopi diberikan kepada bayi atau balita? Beberapa alasan orang tua yang memberikan kopi kepada anaknya karena tidak sanggup membeli susu, sehingga memberikan kopi sebagai penggantinya.

Menurut laman Live Strong, kopi memang tidak menghambat pertumbuhan anak seperti yang diperkirakan sebelumnya, tetapi ada banyak efek negatif dari kopi jika diberikan pada bayi atau balita secara terus-terusan.

Berikut ini bahaya mengonsumsi kopi bagi balita dan anak-anak:

1. Menyebabkan insomnia

Balita membutuhkan tidur lebih dari 11 jam setiap harinya, sementara anak-anak usia 5 hingga 12 tahun membutuhkan setidaknya 11 jam tidur per hari.

Jika balita atau anak-anak mengonsumsi kopi, tentu saja hal ini membuat mereka jadi kurang tidur.

Kopi adalah stimulan yang memiliki kafein lima kali lebih banyak daripada soda. Kafein dapat bertahan dalam tubuh hingga delapan jam, yang membuat orang jadi kurang tidur, dan biasanya siklus itu bisa bertahan lama.

Karenanya sebisa mungkin balita dan anak-anak sebaiknya tidak mengonsumsi kopi untuk meningkatkan energinya.

2. Membuat gigi berlubang

Kopi bersifat asam. Minuman asam dapat membuat kerusakan pada mulut dan gigi yang menyebabkan gigi berlubang, karena kafein akan menurunkan enamel pada gigi dan rongga.

Balita dan anak-anak biasanya lebih rentan terhadap gigi berlubang daripada orang dewasa, karena membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk enamel baru mengeras setelah gigi susu copot.

Anak-anak yang minum kopi tentu saja lebih memungkinkan memiliki masalah kesehatan mulut daripada orang dewasa.


3. Nafsu makan berkurang

Kopi adalah stimulan, yang bisa menyebabkan nafsu makan berkurang.

Balita dan anak-anak yang sedang tumbuh tentu membutuhkan nutrisi dan gizi seimbang yang biasanya diperoleh dari protein, biji-bijian, buah-buahan, dan sayuran.

Ketika bayi atau balita minum kopi, maka akan menyebabkan penurunan nafsu makan dan penurunan nutrisi secara keseluruhan.

4. Tulang Keropos

Kopi bersifat diuretik dan meningkatkan produksi urin. Peningkatan buang air kecil menyebabkan hilangnya kalsium dari tubuh, yang dapat menyebabkan keropos tulang.

Selain menjadi diuretik, kopi juga mengandung banyak kafein yang melepaskan kalsium dari tubuh.

Untuk setiap 100 mg kafein yang dicerna, maka akan menghilangkan 6 mg kalsium. Bagi balita dan anak-anak, kalsium sangat penting untuk pertumbuhan tulang.

5. Hiperaktif

Kopi dapat menciptakan sejumlah masalah perilaku pada anak-anak, termasuk hiperaktif, gelisah dan ketidakmampuan untuk berkonsentrasi.

Hal ini karena kafein dalam kopi yang bisa meningkatkan energi dan kewaspadaan. Jika orang dewasa dapat mengambil manfaat dari efek samping ini, hal tersebut tentu tidak berlaku bagi balita dan anak-anak.

Efek kafein dapat berlangsung selama berjam-jam, sehingga berbahaya bagi perkembangan dan pertumbuhan balita atau anak-anak.

Bisa Sebabkan Kematian


Percaya atau tidak, balita adalah kelompok individu terbaru yang masuk dalam kategori penyuka kopi, demikian seperti yang diwartakan Very Well Family.

Padahal, selain 5 dampak di atas, masih banyak efek samping membahayakan lainnya jika kopi diberikan kepada balita, salah satunya bisa menyebabkan kematian.

Hal ini karena dosis kafein yang sangat tinggi pada kopi dapat menyebabkan balita menjadi kejang dan berisiko terkena jantung, yang dampak terburuknya dapat menyebabkan kematian.

Anak-anak terutama balita, lebih berisiko tinggi saat mengonsumsi kafein karena memiliki massa tubuh lebih sedikit dan tubuhnya susah saat memproses kafein.

Risiko terbesar dan paling tidak diketahui saat balita mengonsumsi kopi dalam jangka panjang adalah membuat otak sulit berkembang serta menghambat pertumbuhan.


Baca juga artikel terkait BALITA MINUM KOPI atau tulisan menarik lainnya Dewi Adhitya S. Koesno
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Dewi Adhitya S. Koesno
Editor: Agung DH
DarkLight