Perang Dagang

Bagaimana Trump Mendukung Perang Dagang Sejak 1980an

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berpartisipasi dalams acara Memorial Day di USS Wasp (LHD 1) di Yokosuka, selatan Tokyo, Jepang, Selasa (28/5/2019). ANTARA FOTO/REUTERS/Jonathan Ernst/wsj/cfo
Oleh: Dea Chadiza Syafina - 30 Agustus 2019
Dibaca Normal 4 menit
Donald Trump sejak lama telah mengusulkan kebijakan proteksionisme dengan mengenakan tarif pajak impor.
tirto.id - Hari itu, 2 September 1987, warga Amerika Serikat (AS) pembaca surat kabar New York Times, Washington Post dan Boston Globe, dikejutkan oleh sebuah surat yang dimuat satu halaman penuh. Surat terbuka itu ditulis oleh seorang muda bernama Donald Trump, yang kini menjadi Presiden AS ke-45.

"Kepada Rakyat Amerika," Trump memulai surat terbuka itu. "Selama beberapa dekade, Jepang dan negara-negara lain telah mengambil keuntungan dari Amerika Serikat. Dunia menertawakan para politisi AS karena kita melindungi kapal-kapal yang tidak kita miliki, membawa minyak yang tidak kita butuhkan dan diperuntukkan bagi sekutu yang tidak membantu," tulis Trump, dilansir The Politico.

Paragraf selanjutnya, pena berujung tebal Trump bertutur, "... akhiri defisit besar kita, kurangi pajak kita, dan biarkan ekonomi Amerika tumbuh tidak terbebani oleh biaya untuk membela negara lain yang dengan mudah mampu membayar kita ... Jangan biarkan negara besar AS ditertawakan lagi," imbuh Trump yang menandatangani surat terbuka itu dengan tegas.

Perang Dagang dengan Jepang

Surat terbuka itu menjadi legitimasi Trump memasuki ranah politik di usianya yang ke-41 tahun. Pebisnis sukses ini terdaftar sebagai anggota Partai Republik di Manhattan, yang kemudian mengubah afiliasi partainya sebanyak lima kali, sebelum akhirnya menjadi kandidat Presiden AS dari Partai Republik pada pemilu 2016.

Sebagai pebisnis, pandangan yang diutarakan Trump tidak pernah jauh dari seputar ekonomi dan bisnis, termasuk defisit perdagangan. Sudah sejak lama Trump menyalahkan negara adidaya ekonomi di Asia Timur atas masalah yang membelit AS, salah satunya Jepang. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Jepang pada periode 1980an merupakan ancaman bagi hegemoni AS.

Pada periode tersebut, pertumbuhan ekonomi Jepang memang sedang melambung ke peringkat ekonomi terbesar kedua dunia, sebagian besar dilatarbelakangi oleh strategi pengembangan orientasi ekspor yang agresif.

"Mereka datang ke sini, mereka menjual mobil mereka, mereka membuat bangkrut perusahaan-perusahaan AS. Kamu bisa menghormati seseorang yang mengalahkan mu, tapi mereka mengalahkan negara ini," ungkap Trump dalam salah satu episode talkshow Oprah Winfrey tahun 1988.

AS menganggap strategi proteksionis impor Jepang yang dilakukan sejak 1970an mengganggu hubungan dagang kedua negara. Pada periode itu, pemerintahan AS yang dinahkodai Jimmy Carter mencari cara untuk membuka pasar Jepang dan upaya itu terus berlangsung hingga kepemimpinan Ronald Reagan.

Taktik perdagangan Reaganomics kemudian diusung AS yang tengah terperosok resesi ekonomi. Caranya dengan membatasi impor mobil dari Jepang. Kala itu, AS memang menjadi pasar tujuan ekspor empuk barang produksi Jepang, seperti mobil, onderdil mobil, mesin kantor, dan barang elektronik lainnya.

Ekspor mobil Jepang ke AS pada saat itu mencapai 1,8 juta unit. Di saat yang sama, hanya 4.201 mobil pabrikan AS yang laku terjual di Jepang menurut laporan Washington Post tahun 1982 sebagaimana dilansir South China Morning Post (SCMP).


Tapi pembatasan impor mobil Jepang belum membuahkan hasil maksimal. Defisit perdagangan AS dengan Jepang pada 1983 mencapai USD36,8 miliar atau naik sekitar USD15 miliar dibanding defisit pada 1982.

Meski tidak pernah terlibat langsung dalam perang dagang dengan Jepang, tapi Trump menyuarakan pandangan tentang pajak bea masuk impor sebesar 20 persen untuk semua barang impor asal Negeri Sakura. Harapannya, bisa menghasilkan pendapatan miliaran dolar untuk AS.

Pemerintah AS kemudian mengenakan tarif impor sebesar 45 persen terhadap motor pabrikan Jepang, dalam upaya menyelamatkan perusahaan perakitan sepeda motor AS Harley Davidson (HOG) yang penjualannya terjun payung akibat persaingan dengan Kawasaki dan Yamaha.

Sanksi lebih keras terjadi pada 1987 di mana AS mengenakan 100 persen pajak bea masuk impor untuk produk komputer, televisi, dan peralatan listrik asal Jepang. Akibatnya, rakyat AS akhirnya harus membayar banyak untuk pengenaan tarif bea masuk tersebut.

Biaya rata-rata chip memori menjadi dua kali lipat mencapai $5,5 pada awal 1988. Padahal, harga barang tersebut hanya senilai USD2,5 pada 1986, menurut sebuah laporan yang dibuat oleh Cato Institute sebagaimana dilansir CNN.

"Sangat tidak mungkin untuk membantu semua orang Amerika melalui proteksionisme ... ini adalah kekeliruan besar di baliknya. Dengan membantu satu kelompok, kamu menyakiti kelompok lain," tulis Sheldon Richman, mantan editor Cato yang menulis laporan bertajuk "Cato Institute Policy Analysis No. 107: The Reagan Record on Trade: Rhetoric vs. Reality" (PDF).

Kebijakan ini memang mampu menghentikan industri semikonduktor AS yang berdarah-darah akibat larangan ekspor ke Jepang. Akhirnya, Jepang kembali mengizinkan perusahaan AS untuk menjual produk ke negara tersebut. Hal ini dianggap sebagai kemenangan dan pengenaan tarif bea masuk impor dipandang sebagai keberhasilan oleh sebagian besar orang.

Usai Jepang Terbitlah Cina

Kebijakan tarif 'Reaganomics' inilah yang tampaknya ditiru Trump. Ambisi Trump sejak akhir 1980an untuk mengurangi defisit negara dagang masih menyala seiring pencalonannya sebagai salah satu kandidat Presiden ke-45 AS. Jika dulu AS membidik Jepang, kini Paman Sam membelokkan arah senapan ke Cina.

Juni 2016, Trump menjabarkan rencana untuk melawan praktik perdagangan tidak adil yang dilakukan Cina terhadap AS. Trump menerapkan tarif bea masuk impor berdasarkan pasal 201 dan 301 Undang-Undang Perdagangan AS.

Kebijakan ini diambil demi mengurangi defisit perdagangan AS-Cina yang terus menggunung dan telah menembus angka USD500 miliar per tahun, dengan pencurian kekayaan intelektual senilai USD300 miliar. US Trade Representative (USTR) menyusun proposal penerapan tarif bea masuk impor sampai dengan 25 persen kepada lebih dari 1.300 produk asal Cina dengan nilai berkisar USD50 miliar yang terus ditingkatkan menjadi USD100 miliar.

Kesenjangan neraca dagang AS dengan Cina terus meningkat, dari USD315 miliar pada 2012 menjadi USD367,3 miliar di 2015. Defisit sempat mengecil pada 2014 menjadi USD346,9 miliar, namun dalam dua tahun setelahnya kembali membengkak masing-masing menjadi USD375,6 miliar di 2017 dan USD419,2 miliar di 2018.


Akankah AS Menang Lawan Cina?

Beberapa ahli mengatakan taktik perdagangan Trump tidak sama dengan yang dilakukan Reagan. Menurut mereka, tindakan Reagan terkait perdagangan dengan Jepang sangat spesifik dan tepat sasaran. Sementara itu, Trump ingin menghancurkan NAFTA, kesepakatan perdagangan antara Kanada, Meksiko dan AS, yang justru dulu diperjuangkan oleh Reagan.

"Trump berbicara tentang menarik diri dari NAFTA, sementara Reagan memiliki ide untuk NAFTA," kata Douglas Irwin, Junior Staf Ekonomi era kepemimpinan Reagan dilansir CNN. Ia menambahkan, Reagan kemungkinan akan mewaspadai Cina seperti Trump, tetapi tidak mengesampingkan hubungan masa depan terkait kedua negara.

Hal senada diungkap Julian Evans-Pritchard, ekonom senior Cina dari Capital Economics kantor Singapura yang berbasis di London.

Menurutnya, ada perbedaan mendasar antara dua negara yang dihadapi AS terkait taktik dagang. Pertama, Jepang telah menjadi sekutu dekat AS sejak akhir perang dunia dua dan sangat menggantungkan keamanannya kepada AS.

Selain itu, sistem politik dan ekonomi Jepang mirip dengan AS dan memiliki tujuan yang sama yaitu membatasi pengaruh Cina yang semakin besar. Dengan begitu, "[Jepang] memiliki lebih banyak alasan untuk mengikuti tuntutan dan tekanan dari AS," ucap Julian Evans-Pritchard, dilansir SCMP.

Bertolak belakang dengan Jepang, pertumbuhan ekonomi Cina tidak sepenuhnya bergantung pada ekspor. Oleh karena itu, sulit bagi AS untuk memaksa Cina mengubah kebijakan industrinya. Sistem politik Cina pun sangat berbeda dengan banyak negara di dunia, sehingga AS mendapat lawan yang kuat saat ini.

"Cina berada dalam posisi yang kuat dan tidak akan segera bergeming terhadap isu-isu perdagangan yang membuat marah negara mitra dagang," sebut Arthur Kroeber, pendiri sekaligus kepala peneliti Gavekal Dragonomics yang berbasis di Hong Kong, masih dari SCMP.

Baca juga artikel terkait PERANG DAGANG AS-CINA atau tulisan menarik lainnya Dea Chadiza Syafina
(tirto.id - Ekonomi)

Penulis: Dea Chadiza Syafina
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight