Bagaimana Industri Fashion Bertahan Selama Tahun Pandemi 2020

Oleh: Hasya Nindita - 21 Januari 2021
Dibaca Normal 4 menit
Situasi pandemi membuat tren busana bergeser dan memaksa industri fesyen mengubah model bisnis mereka.
tirto.id - Harus diakui, 2020 adalah tahun yang begitu sulit. Pandemi memaksa semua orang dari serbaneka kalangan mengaktifkan mode bertahan. Semua lini terus berusaha beradaptasi untuk tetap hidup di kala krisis, termasuk industri fesyen. Meski begitu, krisis industri fesyen sebenarnya sudah terjadi sejak akhir 2019.

Imran Amed dan Achim Berg dalam laporannya untuk Business of Fashion menyebut, industri fesyen berada pada posisi high alert atau siaga tinggi pada awal tahun karena titik harga pada laporan akhir tahun 2019 yang tidak baik. Jadi, industri fesyen sudah diramalkan akan mengalami krisis dan para eksekutifnya sudah pesimistis menghadapi 2020. Pandemi kemudian membuatnya semakin suram.

Business of Fashion mencatat, hampir tiga perempat dari perusahaan fesyen yang terdaftar mengalami kerugian. Terjadi penurunan penjualan sebesar 34 persen pada periode Januari-Maret 2020, kala pandemi COVID-19 baru saja meledak. Pada akhir tahun, berdasarkan analisis McKinsey Global Fashion Index (PDF), tingkat laba jatuh hingga 90 persen dibanding 2019.

Menurut pendiri dan CEO Business of Fashion Imran Amed, industri fesyen sedang mengalami krisis eksistensial selama 2020. Perekonomian yang kacau akibat pandemi membuat konsumen mengurangi pengeluaran untuk fesyen. Itu terjadi secara alami sebagai upaya untuk bertahan hidup.

“Mereka fokus membeli barang-barang penting dan esensial untuk bertahan selama lockdown. Saya pikir semua orang secara alami hanya fokus pada hal itu. Jadi fesyen hanyalah pemikiran setelahnya atau malah tidak ada dalam pemikiran sama sekali dalam konteks seperti ini,” kata Amed sebagaimana dikutip BBC.

Sepanjang 2020, industri fesyen terancam oleh tingginya risiko bangkrut. Para pemimpin industri harus putar otak untuk mengubah strategi dan model bisnis baru untuk bertahan. Pilihan-pilihan pahit pun pada akhirnya tak terelakkan, mulai dari menutup ribuan gerai di seluruh dunia, memecat karyawan, hingga membatalkan gelaran fashion show.

Transformasi Lanskap Industri Fesyen

Selama ini, menurut Amed, industri fesyen sangat mengandalkan penjualan dari gerai fisik. Data menunjukkan, lebih dari 80 persen transaksi fesyen terjadi di toko fisik. Karena penerapan penjarakan sosial selama pandemi, konsumen lalu beralih pada pembelian daring.

Perubahan perilaku ini membuat banyak perusahaan fesyen menutup gerainya dan ikut beralih memanfaatkan teknologi digital. Berbagai label mode memaksimalkan media sosial dan platform e-commerce untuk mendorong akselerasi penjualannya. Label mode pun memilih mempekerjakan selebgram atau influencer untuk menyiasati biaya promosi. Tak hanya itu, banyak label juga memberikan diskon besar-besaran untuk mendongkrak penjualan langsung melalui laman resmi mereka.

Sebagaimana ditulis Business of fashion, untuk keluar dari krisis ini, perusahaan fesyen juga harus berkolaborasi dan meminimalisasi kompetisi. Tidak ada perusahaan yang bisa keluar dari situasi pandemi sendirian. Maka, para eksekutif harus bersedia untuk saling berbagi data, strategi, juga wawasan tentang bagaimana menavigasikan perusahaan di tengah badai.

Pandemi COVID-19 tidak hanya mengubah lanskap bisnis, tapi juga menggeser tren busana. Pasalanya, tradisi merilis koleksi busana untuk satu musim tertentu sulit dipertahankan selama pandemi. Berbagai label lantas menyiasatinya dengan memproduksi busana yang seasonless atau tanpa musim tertentu.

“Tidak seperti makanan atau obat-obatan, busana memang tidak kedaluwarsa, tetapi kebanyakan menjadi ketinggalan zaman,” tulis The Economist. “Terkadang, seperti halnya koleksi pakaian musiman, tren berlalu dengan cepat.”

Salah satu yang menarik adalah naiknya tren pakaian olahraga dan pakaian santai yang nyaman dikenakan di rumah. Berdasarkan laporan The New York Times, ketika penjualan pakaian di Amerika Serikat turun sebesar 79 persen pada akhir April 2020, penjualan pakaian olahraga justru naik sebesar 80 persen. Berbagai label mode pun turut meramaikan tren ini dengan memproduksi beragam model setelan olahraga.

Business of Fashion menulis, pandemi COVID-19 memberikan kesempatan bagi industri fesyen untuk mereka ulang rangkaian nilai-nilai industri secara keseluruhan.

“Saya pikir ini adalah kesempatan bagi kita semua untuk melihat kembali industri ini dan juga kehidupan kita. Juga untuk memikirkan kembali nilai-nilai yang kita miliki. Memikirkan kembali tentang limbah, jumlah uang, konsumsi, berbagai kelebihan yang kita nikmati, dan bagaimana kita benar-benar harus memikirkan kembali apa arti dari industri ini,” kata editor Vogue Dame Anna Wintour.

Krisis yang terjadi juga mendorong percepatan tren sustainable fashion. Konsumen semakin memperhatikan model bisnis yang meminimalisasi limbah. Hal itu meningkatkan ekspektasi masyarakat akan produksi busana berkelanjutan yang memiliki tujuan tertentu.

“Kondisi ini mempercepat keterlibatan industri fesyen dengan teknologi digital dan kebutuhan untuk memikirkan kembali agenda fesyen. Di sisi lain, kondisi ini juga mempercepat pendekatan akan keberlanjutan dan pembangunan bisnis yang bertanggung jawab. Itu artinya memakai rantai suplai pembuatan pakaian yang berkelanjutan dan memperhitungkan dampaknya pada planet ini, juga orang-orang yang membuat pakaian kita,” kata Imran Amed.

Infografik Kilas Balik Industri Mode 2020
Infografik Kilas Balik Industri Mode 2020. tirto.id/Quita



Krisis Kemanusiaan

Pandemi juga turut memperburuk krisis kemanusiaan yang berkaitan dengan industri fesyen. Forbes mencatat, berbagai lini busana dunia Barat membatalkan lebih dari $2,8 miliar pesanan kepada para pemasok dari Bangladesh. Pembatalan pesanan itu berdampak pada penutupan sejumlah pabrik dan kemudian menyebabkan sekira 1,2 juta pekerja kehilangan sumber pendapatan.

Seturut laporan Elle, 72,4 persen dari ribuan pabrik dan pemasok pakaian di negara itu menyatakan tidak sanggup membayar upah pekerja yang dirumahkan sementara. Lalu, 80,4 persen pabrik menyatakan tidak sanggup memberikan pesangon kepada pekerja yang dipecat. Sementara itu, penutupan sejumlah pabrik pakaian di Myanmar berujung pada aksi protes ribuan buruh yang menuntut pembayaran gaji.

Krisis ini lantas memicu munculnya tagar #PayUP di media sosial. Tagar ini menuntut perusahaan mode besar untuk membayar pesanannya kepada pabrik sehingga para pekerja mendapat upah yang layak.

Beberapa perusahaan besar, baik label mode premium hingga perusahaan fast fashion, memberikan respons yang berbeda-beda. Seturut laporan Fashion Revolution, label fesyen ternama, seperti H&M, Target, Marks & Spencer, Inditex, Kiabi, dan PVH, secara publik mengumumkan rencananya untuk menerima dan membayar pesanan yang sudah diselesaikan pemasok. Meski demikian, tidak ada keterangan pasti mengenai tenggat waktu pelunasannya.

Saling Berdonasi

Berbagai organisasi nonprofit juga turut melakukan upaya untuk membantu para pekerja pabrik pakaian yang terdampak. AWAJ Foundation—organisasi nonprofit yang berlokasi di Bangladesh, misalnya, menggalang donasi untuk menyokong sebanyak 740.000 pekerja yang kehilangan pekerjaan.

Sementara itu, The Garment Worker Centre turut menggalang dana untuk para pekerja pabrik pakaian berupah rendah di Los Angeles. Ada pula GoodWeave International yang menyuplai donasi untuk para pekerja di India, Nepal, dan Afghanistan. Di Afrika Selatan, The South African Clothing and Textile Workers Union membuat persetujuan dengan National Bargaining Council agar memastikan para pekerja menerima 100 persen gaji mereka selama lockdown.

Terlepas dari krisis yang terjadi, sejumlah label mode premium turut pula memberikan donasi untuk penanggulangan COVID-19. Dilansir dari Elle, LVMH, mendonasikan sebesar $2,2 juta kepada The Red Cross China. Kering juga berdonasi untuk Hubei Red Cross Foundation di China dan empat rumah sakit besar di Italia. Bersama dengan LVMH, Kering juga menyuplai jutaan masker medis.

Lini mode premium lainnya, seperti Prada, Versace, Moncler, Giogio Armani, Lacoste, hingga Dolce & Gabbana, juga memberikan donasi dengan total miliaran Euro yang disumbangkan ke berbagai organisasi dan rumah sakit yang berbeda.

“Kami merasa harus melakukan sesuatu untuk menghadapi virus yang mematikan ini. Meski datang dari China, ia mengancam seluruh kehidupan manusia,” ucap Domenico Dolce dan Stefano Gabbana kepada Elle.

Tidak hanya lini mode premium, berbagai label busana independen kecil juga turut berpartisipasi menyumbang untuk penanggulangan pandemi. Three Graces, misalnya, memberikan 100 persen laba penjualannya sampai 8 April 2020 kepada Crisis Charity. Ada pula Sleep Society, Veronica Beard, dan Paula Knorr yang mendonasikan sekian 15-20 persen dari laba penjualannya kepada beberapa organisasi kemanusiaan.

Baca juga artikel terkait INDUSTRI atau tulisan menarik lainnya Hasya Nindita
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Hasya Nindita
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
DarkLight