Bagaimana Egy Maulana Vikri Seharusnya Bersikap Layaknya Bintang

Oleh: Renalto Setiawan - 24 Oktober 2018
Dibaca Normal 3 menit
Menurut John Duerden, Egy Maulana Vikri adalah salah satu pemain paling bertalenta. Namun, untuk menjadi pemain bintang, Egy masih perlu banyak belajar.
tirto.id - Sebagai pesepakbola muda, Egy Maulana Vikri memiliki kualitas jempolan. Saat menggiring, bola seperti lengket di kakinya. Ia juga lihai dalam mengatur kecepatan yang seringkali membuat lawan-lawannya kebingungan. Saat lawan mengira ia akan mengurangi kecepatan untuk mengambil nafas, ia bisa langsung melejit dengan kecepatan penuh. Instingnya di depan gawang lawan juga tidak boleh disepelekan begitu saja. Dalam turnamen Piala AFF U-18 di Myanmar 2017 lalu, Egy berhasil mencetak delapan gol dan didaulat sebagai mesin gol terbaik di turnamen tersebut.

Lantas, untuk itu semua, John Duerden, pengamat sepakbola Asia, tak mau nanggung dalam memberikan pujian: Egy adalah salah satu talenta muda terbaik di dunia.

Egy mulai mencuri perhatian Duerden saat berlaga di Turnamen Toulon pada Juni 2017 lalu. Meski Indonesia gagal total dalam turnamen yang membesarkan nama Cristiano Ronaldo, Zinedine Zidane, serta bintang-bintang top dunia lainnya tersebut, Egy mampu menggenggam penghargaan Breakthrough Player of The Tournament. Saat itu ia begitu menonjol dan segera mendapatkan perhatian dari para pemandu bakat klub-klub Eropa yang memang senang ngetem di turnamen prestisius tersebut.

“Ia (Egy) berhasil membuat banyak mata memandang ke arahnya dengan kemampuannya membuat bek lawan terbirit-birit. Kabar mengenai kemampuannya pun segera menyebar ke Eropa dan ada usahan nyata untuk membawanya ke Benua Biru,” tulis Duerden di FourFourTwo.

Kemudian, penulis senior yang memasukkan nama Egy ke dalam 60 besar pemain paling bertalenta di dunia tahun 2017 versi The Guardian tersebut menyebut bahwa Indonesia pantas bangga memiliki pemain seperti Egy. Tapi, ia juga menambahkan bahwa “membiarkan Egy langsung pergi ke bukan pilihan bagus”. Menurutnya, Egy sebaiknya menjajal kompetisi profesional di Indonesia terlebih dahulu barang satu atau dua musim.

Alasan Duerden sederhana: Egy adalah orang Indonesia, negara gila bola. Senior atau junior, pemain-pemain yang dinilai mampu memperbaiki sepakbola Indonesia akan selalu kena lampu sorot secara berlebih. Indonesia tak akan mau mengerti bahwa punggung pemain berusia 18 tahun tersebut masih belum begitu kuat untuk menanggung beban yang amat berat.

“Jika Egy pergi ke Eropa sekarang, semua pergerakannya akan dimonitor. Ia mungkin bisa berkembang, tapi juga bisa tidak, dan yang pasti ini akan membebani seorang anak muda yang belum pernah bermain profesional sebelumnya,” tulis Duerden.


Namun sekitar delapan bulan setelah Duerden menyampaikan pandangannya tersebut, tepatnya pada tanggal 8 Juli 2018 lalu, Egy pergi ke Eropa. Ia memilih berlabuh bersama Lechia Gdansk, salah satu klub di divisi tertinggi Liga Polandia. Ia menandatangani kontrak selama tiga tahun, hingga 30 Juni 2021, dengan opsi perpanjangan kontrak selama dua tahun. Sesuai dugaan Duerden, lampu sorot pun benar-benar tak pernah berkedip memandang Egy.

Media-media Indonesia beramai-ramai mengulik kehidupan Egy, bahkan ada yang "mengawalnya" hingga pergi ke Eropa. Selain media, publik sepakbola Indonesia pun tak kalah antusias. Setelah Egy bergabung, akun media sosial Lechia Gdansk dibanjiri oleh orang-orang Indonesia.

“Melihat apa yang terjadi di media sosial Lechia, itu adalah fenomena. Jumlah pengikut Instagram dan Twitter menanjak di angka yang mencenangkan,” tutur Piotr Wisniewski, penulis sepakbola di media Polandia Przeglad Sportowy, dilansir dari Pandit Football.

Di Polandia, Egy lantas berjuang keras. Lawan yang harus ia kalahkan bukan hanya hal-hal yang berkaitan dengan bola. Sementara di atas lapangan ia akan lebih sering beradu fisik dan otot, ia juga harus mampu membuat tubuhnya beradaptasi dengan cuaca, belajar bahasa asing, juga menyesuaikan lidah dengan makanan yang asing.

Hebatnya, meski sempat diturunkan ke tim kedua Lechia Gdansk yang berkompetisi di divisi kelima liga Polandia, secara perlahan Egy mulai mampu beradaptasi. Seiring bergantinya musim di Eropa, ia mulai berkembang. Dan Egy akhirnya menjalani debut bersama tim utama Lechia Gdansk pada September 2018 lalu. Saat itu, dalam laga ujicoba melawan Karpaty Lviv, bermain sebagai starter, Egy tampil selama 60 menit.

“Saya ingin belajar dari pertandingan-pertandingan seperti ini, yang sangat berharga di masa depan,” ujar Egy setelah pertandingan yang berakhir untuk kemenangan Karpaty Lviv tersebut.

Semuanya tampak baik-baik saja bagi Egy setelah pertandingan debutnya bersama tim utama Lechia itu. Melalui salah satu tulisannya di Pzeglad Sprotowy, Wineswski menyebut “sebagaimana layaknya anak berbakat, Egy Maulana Vikri membuat kemajuan reguler di tim Gdansk." Dan dalam pertandingan perdana timnas Indonesia di AFC Cup U-19 melawan Cina Taipei, Egy juga tampil selayaknya pemain bintang: ia mencetak satu gol dan mencatatkan satu assist, membawa Indonesia menang 3-1.


Namun dalam pertandingan kedua melawan Qatar, Minggu (21/10/18), Egy menjadi sosok yang berbeda. Ia bukan lagi seorang pemain bintang, melainkan seorang pemain yang memaksa tampil sebagai bintang. Ia bermain sangat egois, seolah menganggap bahwa hanya dirinyalah yang mempunyai beban untuk membawa Indonesia menang. Hasilnya: Indonesia kalah 5-6 setelah sempat tertinggal 1-6.

Menurut catatan statistik dari situs resmi AFC, Egy menyentuh bola sebanyak 35 kali. Dari sentuhannya itu, ia hanya melakukan operan sebanyak 21 kali dan sisanya ia paksakan untuk melakukan dribel atau melakukan percobaan tembakan ke gawang Qatar. Yang menjadi masalah, pendekatan yang dilakukan Egy tersebut ternyata jauh dari efektif.

Infografik Egy Maulana Vikri


Pertama, saat mengoper, dengan tingkat akurasi umpan hanya sebesar 57%, umpan-umpan Egy jelas jarang menemui sasaran. Kedua, dribel yang dilakukan pemain asal Medan itu seringkali berakhir dengan kegagalan. Ketiga, ia sama sekali tidak menciptakan peluang. Dan keempat, hanya satu dari tiga percobaan tembakan ke gawang yang dilakukannya yang mengarah tepat sasaran. Jika disimpulkan, apa yang dilakukan Egy tersebut justru menghambat permainan Indonesia.

Yang menarik, Egy sebenarnya dapat belajar dari rekannya, Todd Rivaldo Ferre tentang bagaimana bersikap seperti pemain bintang, Valdo, sapaan akrab Todd Rivaldo Verre, baru masuk pada menit ke-54 atau dua menit sebelum Indonesia ketinggalan 1-6. Setelah 10 menit berada di atas lapangan, Valdo kemudian menciptakan gol indah melalui tendangan bebas. Dan sekitar 16 menit setelahnya, pertandingan seperti menjadi milik Valdo, membuat Gabriel Tan, penulis Fox Sport Asia, menyebut Valdo “satu orang, satu perlawanan yang maha dahsyat”.

Pemain Persipura Jayapura tersebut mencetak dua gol tambahan yang sedap dipandang mata. Gol keduanya diawali dengan tusukan dari luar kotak penalti, empat sentuhan efektif yang membingungkan pemain-pemain Qatar, dan diakhiri dengan tembakan keras. Sedangkan gol ketiganya pada pertandingan tersebut membuat harapan Indonesia untuk menciptakan keajaiban bergelora: setelah Salah Zakaria gagal membendung tembakan Valdo, delapan pemain Qatar yang berada di dalam kotak penaltinya sendiri saling menatap tak percaya.

Hebatnya, saat Valdo melakukan aksi heroiknya itu, semuanya tampak alamiah. Ia tahu kapan harus mengoper, melakukan dribel, atau membidikkan bola ke arah gawang lawan (tiga percobaan tembakan ke arah gawang Valdo semuanya menjadi gol). Hal inilah yang tidak diperlihatkan Egy di sepanjang pertandingan. Apa-apa yang dilakukan Egy seolah hanya berdampak terhadap dirinya sendiri, bukan terhadap timnya sekaligus rekan-rekannya.

Benar bahwa Egy adalah bintang utama timnas U-19. Di antara pemain-pemain timnas Indonesia U-19 lainnya, termasuk Valdo, ia dianggap paling bertalenta. Namun, menyitir apa yang pernah dikatakan oleh Haruki Murakami dalam Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage, meski bakat bisa menciptakan loncatan jiwa yang mengagumkan, Egy harus tahu bahwa, tanpa didukung konsentrasi dan kesadaran yang teguh, bakat juga bisa dengan mudah lenyap. Ada banyak yang bisa menjadi penyebabnya: beban yang terlalu berlebih, lampu sorot yang tiada akhir, hingga merasa menjadi seorang pemain yang paling bisa diandalkan.

Baca juga artikel terkait PIALA AFC U-19 2018 atau tulisan menarik lainnya Renalto Setiawan
(tirto.id - Olahraga)


Penulis: Renalto Setiawan
Editor: Nuran Wibisono