STOP PRESS! Beda Sikap Soal Densus Tipikor Polri: Presiden Gelar Ratas

Al-ilmu nuurun

Aziz Sancar Pemain Sepakbola yang Menang Nobel Kimia

Aziz Sancar Pemain Sepakbola yang Menang Nobel Kimia
Aziz Sancar. Max Englund/AFP/Getty Images
12 Juni, 2017 dibaca normal 3 menit
Aziz Sancar, ilmuwan Turki yang di masa mudanya menjadi pemain sepakbola, menemukan cara memperbaiki DNA.
tirto.id - Ketika komponen kendaraan kita rusak, kita tinggal ke bengkel untuk memperbaikinya. Namun apa jadinya jika komponen DNA kita yang rusak? Tentu saja akan terjadi abnormalitas pada fungsi tubuh. Sebab, molekul DNA berhubungan langsung dengan kinerja sel-sel dalam tubuh. Akibatnya bisa beragam, mulai dari mutasi sampai pembentukan tumor ataupun kanker karena pembelahan sel yang tak terkendali.

Tubuh manusia pun berpotensi mengalami kerusakan. Seperti halnya mesin kendaraan, DNA rusak perlu tempat reparasi. Hingga kemudian, di tahun 2015 lalu muncullah ‘bengkel molekuler’, dan enzim menjadi montirnya.

Temuan ‘bengkel molekuler’ ini dibawa oleh tiga ilmuwan dunia, yaitu Aziz Sancar, Tomas Lindahl, dan Paul Modrich. Ketiganya mendapat Nobel yang diumumkan pada 7 Oktober 2015 lalu.

"Riset ketiganya memberikan pengetahuan yang fundamental tentang bagaimana sel yang hidup bekerja dan itu bisa berguna untuk, misalnya, mengembangkan pengobatan anti-kanker," kata panitia Nobel dalam press release di situs Nobel Prize.

Selama dua puluh tahun setelah struktur DNA terungkap, para peneliti mempercayai bahwa molekul dasar penyusun kehidupan itu stabil. Kalaupun akan terjadi perubahan, itu adalah hal yang sangat jarang. Maka, Thomas Lindahl menantang gagasan tersebut.

Molekul DNA mengandung komponen basa nitrogen yang disebut sitosin. Basa ini yang sangat mudah kehilangan gugus amino penyusunnya sehingga memicu mutasi dalam DNA. Lindahl berhasil menemukan enzim yang berperan dalam memperbaiki DNA, yang salah satunya adalah dengan enzim glikosilase. Ketika sitosin kehilangan amino, sitosin berubah menjadi basa urasil. Enzim glikosilase bertugas menemukan kecacatan itu dan mengoreksinya. Dua enzim lain berperan menyempurnakan proses reparasi tersebut.

Adapun Paul Mordich menyatakan bahwa terdapat dua enzim yang berperan menemukan kesalahan dalam penyalinan DNA, yaitu MutS dan MutL.

Sementara itu, Aziz Sancar, ilmuwan kelahiran Turki, juga mengungkap mekanisme "bengkel molekuler", tapi dengan pemahaman dan cara yang berbeda. Sancar menemukan bahwa proses perbaikan molekul itu berlangsung ketika sel mengalami mutasi, yang salah satunya bisa karena terpapar sinar ultraviolet.

Dia menemukan adanya enzim yang berperan mempertahankan sel dari kerusakan akibat sinar ultraviolet. Salah satu enzim yang berperan itu adalah eksinuklease. Saat DNA terpapar sinar ultraviolet, basa timin yang menyusunnya "lengket" satu sama lain. Kemudian, enzim eksinuklease menemukan kelainan ini dan mengoreksinya. Selanjutnya, dua enzim lain yang bernama DNA polimerasi dan DNA ligase menyempurnakan koreksiannya.

Ketiga mekanisme perbaikan DNA itu sebenarnya tidak saling bertentangan, melainkan saling melengkapi. Jadi semua proses reparasi DNA tersebut menyesuaikan dengan kondisi yang terjadi di dalam sel dalam berbagai situasinya.

Perbaikan DNA bergantung pada banyak faktor, meliputi jenis sel, usia sel, dan lingkungan eksternal. Sel dapat secara efektif memperbaiki kerusakannya lagi. Namun, jika sel mengalami kerusakan dan tidak bisa melakukan perbaikan lagi, yang terjadi adalah: keadaan dormansi ireversibel yang dikenal sebagai proses penuaan, bunuh diri sel atau apoptosis, dan pembelahan sel yang tak teregulasi. Dampak terakhirlah yang menyebabkan pembentukan tumor ataupun kanker.

Kemampuan suatu sel mereparasi DNA sangatlah penting bagi integritas genom sel tersebut. Jika dilihat secara jangka panjang, kegagalan perbaikan DNA yang membentuk gamet dapat menyebabkan mutasi pada genom keturunan, sehingga mempengaruhi laju evolusi.

Aziz Sancar Pemain Sepakbola yang Menang Nobel Kimia

Kehidupan Pribadi

Sancar saat ini adalah seorang Profesor Biokimia dan Biofisika di University of North Carolina School of Medicine dan anggota dari UNC Lineberger Comprehensive Cancer Center. Ia juga merupakan co-founder Aziz & Gwen Sancar Foundation, yang merupakan organisasi non-profit untuk mempromosikan budaya Turki dan untuk mendukung mahasiswa Turki di Amerika Serikat.

Abdulgani Sancar, Keponakan Aziz Sancar, bercerita bahwa Aziz adalah seorang anak yang tumbuh dalam keadaan sulit. “Kakek kami membesarkan dan mendidik anak-anaknya sambil bekerja sebagai petani," cerita Abdulgani seperti dikutip Phys. Kerabat Aziz yang lain bernama Hikmet Kaya bercerita bahwa pemenang Nobel Kimia 2015 itu di masa kecil belajar di bawah cahaya lilin karena pasokan listrik sangat kurang.

Dilansir sumber yang sama, Aziz Sancar sendiri pernah bercerita kepada televisi Haber Turk, bahwa dirinya berasal dari sebuah keluarga petani dengan delapan bersaudara. Ia mengatakan orangtuanya sangat mementingkan pendidikan. Ibu Sancar adalah seorang pegiat masjid yang mengajari Sancar kecil nilai-nilai Islam dan nasionalisme.

Meski tidak bisa membaca dan menulis, ibunya sangat mengidolakan Mustafa Kemal Ataturk, dan bertekad tinggi untuk menyekolahkan semua anak-anaknya. Kedelapan anaknya menjadi lulusan universitas.

Sehari sebelum pengumuman pemenang Hadiah Nobel, panitia Nobel di Oslo mengumumkan nama pemenang Nobel adalah dari bidang kedokteran. Kejutan itu datang keesokan harinya. Nama Sancar diumumkan sebagai salah satu pemenang, bukan untuk bidang kedokteran, tetapi bidang kimia. Profesor biokimia dan biofisika itu menerima telepon pada pukul 5 pagi dari Oslo yang mengabarkan bahwa ia dan dua ilmuwan lainnya memenangi Hadiah Nobel untuk bidang kimia.

“Saya tentu saja menghargai pengakuan atas semua pekerjaan yang telah saya lakukan selama bertahun-tahun ini. Ini untuk keluarga saya dan negara saya. Khusus untuk Turki, penghargaan ini cukup penting,” kata Sancar seperti dilansir The Guardian. 

Meskipun Aziz Sancar menekuni bidang sains di sepanjang hidupnya, ia juga sangat mencintai bidang olahraga, terlebih sepakbola. Aziz Sancar berada di posisi penjaga gawang ketika mewakili kesebelasan SMA-nya tanding. Ketekunannya di bidang olahraga ini juga yang mendorong ia untuk mengikuti seleksi regional timnas U18.

Ridho Assidicky, seorang mahasiswa biomolekuler di Bilkent University, Ankara bercerita pada Turkish Spiritketika Aziz Sancar memberi ceramah di kampus Bilkent, ia mengeluarkan satu kartu keanggotaan tim kesebelasan Galatasaray. Ia ingin menunjukkan bahwa ia masih sangat mencintai sepakbola, meski akhirnya memilih jalan akademik. 


Sepanjang Ramadan, redaksi menayangkan naskah-naskah yang mengetengahkan penemuan yang dilakukan para sarjana, peneliti dan pemikir Islam di berbagai bidang ilmu pengetahuan, dan teknologi. Kami percaya bahwa kebudayaan Islam—melalui para sarjana dan pemikir muslim—pernah, sedang, dan akan memberikan sumbangan pada peradaban manusia melalui ilmu pengetahuan dan teknologi. Naskah-naskah tersebut akan tayang dalam rubrik "Al-ilmu nuurun" atau "ilmu adalah cahaya".


Baca juga artikel terkait AL-ILMU NUURUN atau tulisan menarik lainnya Yulaika Ramadhani
(tirto.id - ylk/msh)

Keyword