Astra, dari Perusahaan Mati Suri Jadi Raksasa Otomotif

Oleh: Petrik Matanasi - 26 Agustus 2017
Dibaca Normal 3 menit
Astra bermula dari sebuah perusahaan yang punya hak impor tapi sedang mati suri. Ia kemudian tumbuh besar berkat kegigihan William Surjadjaja.
tirto.id - Benjamin alias Tjia Kian Joe merasa prihatin dengan nasib abangnya, Tjia Kian Liong—yang meringkuk satu setengah bulan di Penjara Banceuy, Bandung. Si abang dibui karena tuduhan korupsi di perusahaan yang dibangunnya. Nama baiknya rusak. Benjamin yang masih kuliah di Institut Teknologi Bandung itu pun minta tolong pada abangnya yang lain, Tjia Kian Tie, yang menetap di Amsterdam, Negeri Belanda.

Keduanya berusaha membukakan jalan bagi Kian Liong yang sedang terpuruk, agar bisa menjalani hidup baru dengan sebuah perusahaan baru. Perusahaan yang diinginkan adalah perusahaan dagang. Kian Liong punya pengalaman dagang yang cukup panjang sejak remaja. Benjamin ingin perusahaan itu nantinya "bisa impor".

Memiliki perusahaan yang bisa impor tentu bukan hal yang mudah pada saat itu. Pada tahun 1950an, hak impor sangat sulit didapat. Mereka pun berpikir untuk membeli perusahaan yang bisa impor, tetapi sedang mati suri. Kian Liong dan saudara-saudaranya pun berkongsi dengan salah seorang kawan zaman sekolah bernama Liem Peng Hong—seorang pengusaha rokok di Malang. Pada zaman Program Benteng—yang sangat pro pengusaha pribumi—orang-orang Tionghoa macam mereka agak sulit hidup dalam dunia usaha.

Mereka akhirnya berhasil mendapatkan perusahaan mati suri yang masih memegang hak impor. Nama Kian Liong tidak tercantum dalam anggaran dasar perusahaan untuk sementara, karena masalah hukum yang menimpanya. Sementara nama Benjamin menjadi salah satu pemegang saham. Perusahaan itulah cikal bakal dari Astra. Demikian sejarah perusahaan besar Astra, seperti tertulis Man of Honor: Kehidupan, Semangat, dan Kearifan William Soeryadjaya (2012).

Perusahaan itu berkantor di Jalan Sabang nomor 36A Jakarta. Perusahaan kecil itu, mirip lebih mirip toko kelontong ketimbang importir. Lokasinya pun sering terancam banjir.

Mereka kemudian mengganti nama perusahaan. Kian Tie — adik Kian Liong yang doktorandus lulusan Belanda — mengusulkan nama Astra. Nama itu berasal dari mitologi Yunani kuno, yang berarti terbang ke langit dan menjadi bintang terang. Kian Liong dan Liem Peng Hong setuju. Lengkapnya, perusahaan itu bernama Astra International Inc. Tak lupa logo bola dunia yang diembeli pita dengan tulisan "astra" mereka buat. Mereka mendaftarkan diri ke Notaris Sie Khwan Djioe pada 20 Februari 1957. Modal mereka kala itu senilai Rp2,5 juta.

Selama sepuluh tahun pertama, jumlah karyawan Astra tak lebih dari 5 orang. Pada dekade awal itu, Astra awalnya sempat pula jadi distributor dan importir limun merek Prim Club kornet CIP. Tak hanya produk impor, tetapi juga lokal dari Bandung seperti pasta gigi Fresh O Dent, pasta gigi Odol Dent sempat didistribusikan. Bisnis pengiriman fosfat alumunium dan bohlam lampu. Pernah juga mengekspor kopra dan minyak goreng.

Baca juga: (Gobel) Panasonic Berawal dari Kesuksesan Radio Tjawang

Belakangan hanya Kian Liong yang mengelola Astra. Kian Tie malah bekerja di sebuah bank di Palembang sementara Pang Hong asyik dengan bisnisnya yang lain. Saham-saham pun beralih ke tangan Kian Liong semua pada 1961. Setelah itu, Astra memasuki babak baru. Pada masa-masa sulit Demokrasi Terpimpin orde lama Presiden Sukarno, antara 1962 hingga 1964, Astra sempat menjadi pemasok lokal proyek pembangunan waduk Jatiluhur.

Memasuki tahun 1965, Astra tak mampu berkembang di tengah situasi ekonomi yang buruk. Ketika itu, perekonomian Indonesia memang sedang menghadapi kejatuhan, inflasi membubung tinggi hingga 600 persen. Daya beli masyarakat hancur-hancuran sehingga membuat perusahaan satu per satu berjatuhan. Kian Liong mencoba mempertahankan perusahaannya agar bisa tetap hidup.

Kian Liong dan stafnya kemudian memindahkan kantor dari Jalan Sabang ke Jalan Juanda III nomor 8. Pada tahun-tahun itu pula dia mengubah namanya menjadi William Surjadjaja—atas saran seorang jaksa Bandung bernama Suryakusuma Dinata.

infografik william surjadjadja


Setelah terjungkalnya orde lama dan Demokrasi Terpimpin, dunia usaha mulai bangkit lagi. Banyak pelarian di era Sukarno seperti Profesor Soemitro Djojohadikusumo pulang dan dipekerjakan di pemerintahan baru. “Soemitro berkawan baik dan sering dibantu oleh Kian Tie, yang menetap di Malaysia sejak 1961. Di Indonesia, ibunda sang Profesor sering dibantu oleh William, sebuah tindakan berisiko di era Sukarno,” catat buku Man of Honor: Kehidupan, Semangat, dan Kearifan William Soeryadjaya.

Perekonomian perlahan membaik bagi William. Tahun 1966, Astra menjadi importir 80 ribu ton aspal dari Marubeni Jepang untuk membangun jalan. Ia bahkan mendapat pinjaman dana dari USAID sebesar $2,9 juta. Dengan dana itu, William boleh mengimpor apapun, termasuk truk dari Amerika.

“William menggunakan dana tersebut untuk mengimpor 800 unit truk merek Chevrolet buatan General Motor Co. dan menjualnya kepada Pemerintah,” tulis Bisuk Siahaan dalam Industrialisasi di Indonesia: Sejak Rehabilitasi Sampai Awal Reformasi (2000). Sayangnya, William tak bisa mengimpor lebih banyak lagi truk-truk dari General Motor. Apalagi dia pernah dianggap melanggar dan tidak memahami ketentuan USAID yang melarang jadi pemasok ke pemerintahan.

Baca juga: Sejarah Truk di Indonesia dari Zaman Penjajahan


Tak mampu dapat truk dari Amerika, tahun 1969, William pun menoleh ke Jepang. “Hidung bisnis William yang tajam segera mengendus-ngendus peluang lain. Truk-truk bermerek Toyota segera terbayang di kepalanya,” tulis Amir Husin Daulay dalam William Soeryadjaya, Kejayaan dan Kejatuhannya (1993). Kebetulan, Hideo Kamio—yang pernah jadi manager di Gaya Motor waktu zaman Jepang—bersikeras truk-truk Toyota yang akan masuk Indonesia harus dirakit di Gaya Motor.

Orang-orang Toyota itu pun diarahkan Suhartoyo dari Kementerian Perdagangan. “Kalau Anda mau Gaya Motor, ya harus berhubungan dengan Astra dan owner-nya. Anda harus melepas dulu MoU dengan perusahaan lain dan join dengan Astra untuk jadi agen tunggal,” kata Suhartoyo seperti dikutip dalam Man of Honor: Kehidupan, Semangat, dan Kearifan William Soeryadjaya. Kala itu, Gaya Motor sudah dipegang oleh William. “PT Gaya Motor, bukan lagi PN Gaya Motor) dengan akte notaris Eliza Pondag tanggal 25 Februari 1969. Di mana Tjian Kian Liong (William Soeryadjaya) sebagai Presiden,” tulis Amir Husin.

Jadilah Toyota sebagai mitra penting dari Astra. Truk-truk Toyota membanjiri areal proyek-proyek maupun kawasan industri Indonesia. Tak hanya truk saja. Sejak 1971, setelah Amerika tidak memproduksi truk dan jip dengan stir kanan, Astra akhirnya menguasai pasar truk dan jeep Indonesia. Astra berjaya. Tak hanya merek Toyota, belakangan juga Honda, Isuzu, Daihatsu dan lainnya. Bisnis William pun merambah ke bidang lain, tak hanya dunia otomotif bersama Astra.

Ketika William makin tua, dua anaknya, Edward dan Edwin juga terjun ke dunia bisnis. Anak William, Edward mendirikan Bank Summa—dalam grup bisnis keluarga Surjadjaja. Namun, bank tersebut bermasalah dan keuangannya tidak sehat. Pada 14 Desember 1992, bank itu pun dilikuidasi pemerintah. Kredit macet bank Summa kala itu mencapai Rp1,2 triliun. Menurut Kees Bartens dalam Pengantar Etika Bisnis (2000), “masalah kredit macet akibat mismanagement anggota keluarganya […] William Surjadjaja terpaksa harus membantu dengan melepaskan semua sahamnya di Astra.”

Melepas Astra yang dibangunnya tentu bukan hal mudah bagi William yang sudah menjelang senja usianya. Namun, ia tak punya pilihan lain. Nama baik keluarga harus dijaga dengan tanggung jawab. Demi mengembalikan dana nasabah, Astra akhirnya dilepas.

Saat ini, sebanyak 51,11 persen saham Astra International dikuasai oleh Jardine Cycle & Carriage Limited, sebuah perusahaan yang berbasis di Singapura. Sisa saham Astra dimiliki oleh masyarakat. Nama William memang sudah tak lagi tercantum dalam daftar pemilik Astra. Namun, siapapun pasti akan mengingat bahwa Astra adalah buah keringat William Seryadjaya.

Baca juga artikel terkait ASTRA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Marketing)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti