26 April 1984

Arnold Ap dan Mambesak Menyanyikan Hati Nurani Tanah Papua

Oleh: Fahri Salam - 26 April 2021
Dibaca Normal 7 menit
Antropolog dan musisi ini ditembak mati oleh Kopassus pada 1984 karena dicurigai telah membangkitkan ‘nasionalisme Papua’.
tirto.id - Hati nurani tanah Papua adalah Arnold Clemens Ap. Mungkin bahkan hati nurani bangsa Papua. Lahir di Biak-Numfor, sebuah pulau indah di tengkuk Papua yang kini dalam ancaman kerusakan ekologis, Arnold Ap menjadi antropolog dan musisi terkemuka berkat perannya membentuk grup musik Mambesak (istilah bahasa Biak untuk ‘burung Cenderawasih’), yang terbang menjadi gerakan kultural dan identitas rakyat Papua. Lantaran berisiko membangkitkan persatuan dan ingatan atas satu tanah yang sama, dari Sorong hingga Merauke, ia menjadi target operasi militer Indonesia yang menudingnya simpatisan jaringan perkotaan Organisasi Papua Merdeka meski tuduhan ini tak pernah jelas. Pada 26 April 1984, tepat hari ini 37 tahun lalu, Kopassus membunuhnya.

George Junus Aditjondro, seorang pembangkang sejati bagi para penguasa Indonesia, meninggalkan Jakarta ke Jayapura pada 1980-an untuk kerja-kerja pemberdayaan masyarakat akar rumput Papua, melihat Arnold Ap sebagai seniman serba bisa yang “mahir menyanyi, memainkan gitar dan tifa, menarikan berbagai jenis tari rakyat Papua, melukis sketa-skesta, selain mahir menceritakan mop alias guyon khas Papua.”

Ap dalam usia 24 tahun menyaksikan proses integrasi paksa tanah Papua ke Indonesia. Ia bersama teman-teman mahasiswanya protes Pepera 1969, yang sampai kini menjadi barang panas politik di Papua. Dan karena mempersoalkannya, ia pun dipenjara sebagaimana kini dialami anak-anak muda Papua—juga orang Indonesia yang bersimpati pada nasib orang Papua.

Setelah lulus studi sarjana muda Geografi di Universitas Cenderawasih, atas permintaan Ketua Lembaga Antropologi Uncen, Ignatius Suharno, Ap diminta menjadi kurator Museum ‘Loka Budaya’ Uncen. Tugas inilah yang membawanya pergi ke pedalaman-pedalaman Papua, yang dipakainya untuk mengumpulkan berbagai seni patung, seni tari, dan lagu-lagu dari berbagai suku di Papua.

Istrinya, Corry Ap-Bukorpioper, mengenang masa hidup suaminya dalam setiap tugas penelitian lapangan, Ap biasa mengambil kesempatan mengajak orang-orang tua di kampung-kampung itu duduk-duduk sambil makan pinang untuk menulis lagu daerahnya. Maka, ujar istrinya yang berkisah dari rumah pelariannya di Belanda, “di setiap daerah, bapak biasa mengumpulkan lagu.”

Lagu-lagu rakyat itulah, tak cuma dari Biak tapi dari kampung-kampung Papua di pegunungan, diaransemen ulang, dinyanyikan, dan dinterpretasikan lewat tarian yang bertumpu pada kebudayaan khas Papua. Ketika Mambesak dibentuk pada 15 Agustus 1978, sembilan tahun setelah Pepera, di halamana Museum Uncen oleh Arnold Ap dan sejumlah seniman termasuk Samuel Kapissa, kekayaan grup musik ini bukan cuma pada upaya personelnya mengumpulkan lagu-lagu rakyat Papua yang memang kaya itu—yang oleh orang luar dan negara Indonesia dicap “primitif”, tapi juga pada cara mereka membawakannya, mengemas ke dalam produk teknologi baru saat itu berupa kaset, lalu menyebarkannya lewat program siaran radio yang diasuh mereka setiap pekan. Sehingga Mambesak, dalam perjalanan singkatnya seiring pembunuhan terhadap pemimpinnya, menjadi sangat populer bagi orang-orang tua maupun anak-anak muda Papua.

Hidup Tak Cuma untuk Keluarga

Seorang anak sulung yang lahir dari keluarga yang biasa saja, Arnold Ap menikah dengan Corry, yang juga anak sulung dan seorang bidan, dengan mengisi lebih banyak waktu di luar rumah. (Corry menyebutnya “kerja 24 jam”.) Pasangan ini memiliki empat anak. Oridek, anak tertua mereka, baru berusia 8 tahun ketika ayahnya mati ditembak. Anak-anak ini punya ingatan berkabut tentang bapaknya. (Corry tengah hamil anak keempat saat keluarga ini menyelamatkan diri ke Vanimo, sebuah daerah teluk di perbatasan Papua Nugini dan Indonesia, pada 1984.)

Pasangan ini, karena sama-sama anak pertama, juga harus memikul 12 saudara mereka, setidak-tidaknya menyekolahkan mereka. “Jadi, kami dua berdiri di tengah, kami harus pelihara adik-adik,” Corry, kini berusia 75 tahun, bercerita baru-baru ini. “Ini suatu beban. Tapi itu kami punya tanggung jawab.”

Corry berkata suaminya adalah “bapak yang bertanggung jawab” meski kesibukan penelitian dan kegiatan bermusik menyitanya. Oridek mengenang secara samar ketika bapaknya di rumah, dia biasa bercerita mop sebelum waktu tidur, bikin mereka terpingkal-pingkal. Sebagaimana kemampuan membawakan lelucon khas Papua ini dipentaskan dalam setiap kegiatan Mambesak, Ap membawa keceriaan di dalam rumah.

Rumah mereka di Abepura selalu ramai, mungkin cuma sedikit waktu bagi Ap dan Corry memikirkan dirinya sendiri. Corry melihat suaminya bekerja untuk Tanah Papua. Kerjanya menggali kebudayaan Papua telah mengikat Ap dan keluarganya dengan banyak orang, sehingga seringkali menerima orang datang dari kampung ke rumah mereka, membawa lagu untuk didengarkan Ap, dan ikut makan. Rumah kami, kata Corry, “kami buka pintu jam 6 pagi sampai malam.”

“Mereka membawa kami kebahagiaan,” kata Corry.

Infografik Mozaik Arnold Ap
Infografik Mozaik Arnold Clemens Ap. tirto.id/Fuad


Mambesak Bernyanyi untuk Hidup

Butuh semacam keberanian bagi musisi menulis dan menyanyikan lagu protes, tapi hanya segelintir musisi seperti Arnold Ap yang mati terlalu muda bagi bangsanya.

Musik dalam kebudayaan lisan masyarakat Papua, yang terdiri dari lebih 253 kelompok etnik dengan ratusan bahasa dan kepercayaan, tak cuma sebagai medium pesan melainkan ruang komunal yang di dalamnya pesan itu dialami dan diamalkan.

Di Papua, lagu dan kebebasan tak terpisahkan. Nyanyian, musik, dan tari tak cuma hiburan tapi sudah menjadi bagian kehidupan sehari-hari rakyat Papua. Mereka menyanyi saat sedih dan gembira, mereka menari saat menang dan kalah. Dalam kepercayaan lama mesianistik tentang penyebar kabar gembira, kebebasan dan kemerdekaan bakal datang dalam lagu maupun bagi orang-orang yang bernyanyi. Pendeknya, nyanyian, musik, dan tari adalah hati nurani orang Papua.

Arnold Ap mungkin memahami hati nurani itu. Dalam satu pernyataannya yang terkenal, ia membentuk Mambesak bukan sekadar hobi, bukan juga jenis kegiataan mengisi waktu luang yang dianggap bodoh. “Tapi,” katanya meneruskan, “inilah yang dapat saya lakukan untuk rakyat Papua sebelum saya meninggal.”

Pada akhir 1970-an dan setelahnya, Mambesak begitu populer di Tanah Papua. Lima volume kaset mereka ludes terjual dan terus-terusan diproduksi ulang, menjadi pemasukan dan bagi kegiatan kebudayaan mereka. Popularitas mereka juga menyebar luas berkat siaran radio yang diasuh Arnold Ap dkk bernama Pelangi Budaya dan Pancaran Sastra di Studio RRI Jayapura setiap Minggu siang.

Aditjondro, yang menyaksikan mereka dari dekat dan karib Arnold Ap, mengisahkan program radio mereka diterima dengan penuh antusiasme oleh masyarakat asli Papua Barat, baik di kota maupun di desa, baik yang terpelajar maupun orang kampung. Kunci keberhasilannya, tulis Aditjondro, mereka memakai bahasa Indonesia logat Papua, menguraikan masalah kebudayaan Papua dengan bahasa yang mudah dipahami, dan mereka menyisipkan lagu-lagu rakyat dan mop-mop Papua.

Pentas Mambesak di halaman Museum Uncen setiap Sabtu petang selalu dipenuhi penonton. Mereka juga tampil dalam acara-acara seni pemerintah, bahkan diundang ke Jakarta untuk itu. Mereka menjadi pembuka jalan bagi seniman dan musisi setelahnya. Arnold Ap dan teman-temannya di Mambesak, tanpa disadari, telah mengangkat martabat orang Papua, yang sampai sekarang distigma “terbelakang”—rasisme yang terus awet ini.

Dalam sebuah diskusi tahun lalu tentang buku Grup Mambesak: Simbol Kebangkitan Kebudayaan Orang Papua Proto (2019), Andreas Goo, antropolog Uncen dan editor buku itu, berkata grup ini telah “mengirim setiap nilai seni dari setiap suku orang Papua ,” yang menjadi sebuah roh, “[…] yang pernah hidup pada masa lampau, sedang hidup kini, dan wajib dilestarikan oleh generasi orang Papua ke depan nanti.” (Buku ini menguraikan perjalanan Mambesak dan profil Arnold Ap, terbit setelah sembilan tahun dikerjakan oleh sebelas penulis.)

Tak semua lagu Mambesak bermuatan politis, bahkan kebanyakan adalah lagu-lagu yang mengisahkan pengalaman sehari-hari. Tentang kerinduan perantau atas kampungnya, tentang hutan yang hijau, tentang debur ombak yang memikat, tentang cinta terhadap Mama.

Mereka merekam lagu-lagu ini dalam pita kaset di Museum Uncen, sebuah upaya “memodernisasi musik asli Papua Barat,” di mana setiap personel bertanggung jawab atas peran yang sudah disepakati bersama, masing-masing mengurusi musik, tari, dan teater. Arnold Ap menjadi koordinatornya. Di setiap pementasan tari, tawa, dan lagu mereka, yang paling sering digelar di Port Numbay (nama saat itu untuk Jayapura), Ap menjadi pusat dan pemimpin kelompok seni budaya ini, dengan mop-mop yang dia selipkan di antara jeda lagu, mengisahkan Tanah Papua yang indah dan kisah dan asal lagu rakyat itu. (Baca: Aditjondro dalam “Gema Mambesak Merajut Identitas Kultural Bumi Kasuari” dalam Cahaya Bintang Kerjora, Elsam, 2000; I Ngurah Suryawan dalam “Singing for Unity: Mambesak and the Making of Papua Heritage, 2013).

Tapi, Arnold Ap dan Mambesak tak cuma menggubah lagu rakyat Papua. Ap juga menulis dan menyanyikan lagu dalam bahasa Melayu Papua. Ia menulis, misalnya, Rimba Sagu yang mengajak pendengarnya merawat makanan asli orang Papua ini, yang “mampu hidup terus/ di musim kemarau yang panjang/ Tak perlu pengairan juga tak perlu pupuk.”

Ia bernyanyi: Sadarlah sadarlah manusia/ penghuni bumi yang penuh rimba sagu/ Daunnya yang hijau melambangkan kesegaran/ harapan hari esok yang cerah.”

Ia juga menulis dan melantunkan lagu Nyanyian Sunyi, yang sarat interpretasi karena keindahan liriknya dan alusi yang menggambarkan Tanah Papua:

Lagu nan sendu
Dan syair yang menawan
Mengalun di sana
Menyayat hatiku

Dan nada yang sendu
Puisi yang menawan
Terjalin bersama
Oh … nyanyian sunyi

Tanah yang permai
yang kaya dan melara
Terhampar di sana
Di timur merekah

Dan bunyi ombaknya
Dan siul unggasnya
Melagu bersama
Oh … nyanyian sunyi

Surga yang terlantar
Yang penuh senyuman
Laut mutiara
Yang hitam terpendam

Dan sungai yang deras
Mengalirkan emas

Lagu-lagu ini, diciptakan Arnold Ap lebih dari 40 tahun lalu, semakin relevan dengan keadaan Papua sekarang. Karena itulah, Ap dianggap sebagai pembawa kabar yang terus bergema bagi generasi Papua di masa kini dan masa depan.


Dituding Separatis

Tahun 1980-an adalah masa yang dinamis bagi gerakan sipil di Indonesia. Orang-orang muda yang lahir di masa kemerdekaan Indonesia, dan besar di era Orde Baru, membawa pengetahuan yang kritis atas rezim Soeharto. Beberapa di antara mereka membentuk lembaga swadaya masyarakat. Benih pergerakan inilah yang kelak menumbuhkan generasi penentang Orde Baru yang lebih berani pada 1990-an, yang nantinya menuntut Soeharto mundur.

Tapi, masa 1980-an, sebaliknya juga adalah periode yang berat bagi kemanusiaan di Indonesia.

Di Jawa, rezim ini melakukan pembunuhan terencana terhadap orang yang dituduh preman—dikenal sebagai ‘operasi penembakan misterius’ alias petrus. Di Papua, dalam kondisi dehumanisasi yang berakar sejak 1960-an, generasi terpelajarnya membangun kesadaran atas identitas dan persamaan nasib rakyat Papua. Ada yang bergerak dalam kebudayaan seperti Mambesak, ada yang angkat senjata seperti Seth Rumkorem dan Eliezer Awom.

Militer Indonesia di Papua, yang saat itu Panglima Kodam Trikora dipegang oleh Brigjen Sembiring Meliala, mencurigai apa yang dituding sebagai “simpatisan jaringan Organisasi Papua Merdeka” di perkotaan, mencakup lingkungan kampus dan instansi pemerintah.” Meski tanpa bukti dan tak pernah mendapatkan peradilan yang jujur dan adil, Arnold Ap dituduh ke dalamnya. Pada 30 November 1983, Arnold Ap ditahan oleh Kopassandha, elite tentara Indonesia yang kini bernama Kopassus.

Pada saat yanga sama, pemerintah Soeharto mengirim transmigran ke Papua, proyek pembangunan didanai Bank Dunia, yang membuat orang asli Papua bertambah cemas sebagai pemilik tanah Mama mereka. Proyek ini bersamaan operasi militer bernama ‘Sate’ di perbatasan Papua Nugini–Indonesia. Dalam kesaksian para penyintas perempuan atas peristiwa di tahun-tahun itu, yang terdokumentasi secara baik oleh Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan, tentara Indonesia membakar kampung, memperkosa gadis, menyiksa dan sebagainya. Orang Papua semakin takut ketika mendengar Arnold Ap, sosok paling terkenal saat itu, ditahan. Imbasnya, pada 1984-1986, sekitar 9.435 orang Papua mengemasi nyawa dan menyeberangi perbatasan PNG.

Di antara mereka adalah keluarga Arnold Ap sendiri. Pada 8 Februari 1984, Corry Ap dan ketiga anaknya dan bayi dalam kandungan melarikan diri ke Vanimo menggunakan perahu bermotor.

Corry, saat ini menetap di Den Haag, mengisahakan pesan suaminya agar dia harus berani untuk membawa anak-anak ke luar negeri “supaya mereka bisa bebas.”

“Nanti kalau mereka besar,” kata Corry menirukan ucapan suaminya, “mereka tahu siapa bapaknya.”

Oridek, anak pertama mereka, hanya mengingat mamanya selalu menangis. “Saya tidak tahu bapak bikin apa saat itu...,” katanya, kini berumur 45 tahun, baru-baru ini.

Lagu Terakhir di Penjara

Arnold Ap dititipkan di tahanan Polda Jayapura oleh Kopassus. Tak jelas apa tuduhannya, tapi menurut Aditjondro, nasib karibnya itu sengaja diulur-ulur, selagi penahanannya diprotes oleh jaringan para aktivis di Jakarta dan jadi pemberitaan media internasional.

Ap mungkin tahu kematiannya semakin dekat. Dalam satu kesempatan yang menentukan, ia minta kepada saudara yang menjenguknya agar membawa tape recorder, sebuah kaset kosong, dan gitar. Ia menciptakan lagu terakhirnya.

Berjudul Misteri Kehidupan, Arnold Ap bernyanyi:

Hidup ini suatu misteri

Tak terbayang juga tak terduga
Beginilah kenyataan ini
Daku terkurung di dalam duniaku

Yang kudamba yang kunanti
Tiada lain hanya kebebasan

Andai saja aku burung elang
Terbang tinggi mata menelusup
Tapi sayang nasib burung sial
Jadi buruan akhirnya terbunuh


Kaset berisi lagu ini dia titipkan agar tiba ke tangan istrinya.


Pada 26 April 1984, Arnold Ap ditembak di pantai Pasir Enam, sebelah timur Kota Jayapura, dalam satu skenario pelarian menuju Papua Nugini yang diduga dirancang oleh Kopassus. Tiga butir peluru bersarang di perut dan lengan kanannya. Ap meninggal di rumah sakit Aryoko, Jayapura, dalam usia 39 tahun.

Aditjondro mengisahkan sekitar lima ratus orang mengantar jenazah sang seniman ke TPU Kristen Tanah Hitam Abepura. Robin Osborne dalam buku klasiknya Indonesia’s Secret War: the Guerilla Struggle in Irian Jaya menulis Arnold Ap “telah menjadi martir yang tak pernah dilupakan oleh rakyat Papua.”

Tahun ini, 37 tahun setelah pembunuhannya, keluarga Arnold Ap di Belanda mengenang bahwa lagu itu—Misteri Kehidupan—telah menemani mereka menghadapi hari-hari berat di tanah pengasingan sebagai migran yang terus berharap, dan menuntut, ada keadilan bagi sang suami dan sang bapak juga bagi Tanah Papua.

“Lagu itu berat sekali buat saya menyanyi,” ujar Oridek dalam diskusi mengenang warisan musik Mambesak dan kematian ayahnya. “Saya tidak bisa menyanyi tanpa menangis. Saya membayangkan bapak membuat lagu itu di tahanan.”

Corry berkata suaminya seharusnya bersama dia dan keempat anaknya sekarang. “Dia tidak boleh mati, dia seharusnya hidup,” katanya, bicara bersama anak pertamanya di depan anak-anak muda Papua via layar terkoneksi internet, dipisahkan samudera antara Papua dan Belanda. “Tapi kematian suami saya juga membawa kebangkitan bangsa Papua. Untuk adik laki-laki, untuk adik-adik perempuan ... Kamu harus berjuang mempertahankan identitas.”

Baca juga artikel terkait HAM PAPUA atau tulisan menarik lainnya Fahri Salam
(tirto.id - Politik)

Penulis: Fahri Salam
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight