Menuju konten utama

Apa Saja Fase Demam Berdarah Dengue DBD pada Anak dan Dewasa

Mengenal fase-fase dalam penyakit demam berdarah atau DBD. 

Apa Saja Fase Demam Berdarah Dengue DBD pada Anak dan Dewasa
Bocah pasien Demam Berdarah Dengue (DBD) M Atta Risky (13bln) menjalani perawatan intensif di rumah sakit Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh, Senin (16/1). Data Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan setempat menyebutkan, terhitung 1 hingga 15 Januari 2017 sedikitnya 17 orang terjangkit penyakit DBD. ANTARA FOTO/Rahmad/aww/17.

tirto.id - DBD atau Demam Berdarah Dengue merupakan jenis penyakit yang ditularkan oleh virus Dengue. Virus tersebut menyebar lewat gigitan nyamuk bernama Aedes Aegypti dan Aedes Albocpictus, laman Promkes Kemkes melansir.

Penduduk Indonesia rentan mengalami penyakit DBD karena wilayah ini menjadi endemis dengan sebaran di seluruh wilayah tanah air karena beriklim tropis.

Penularannya bisa terjadi pada semua usia, dengan beberapa gejala yang tampak seperti demam, pusing, nyeri belakang bola mata, mual, dan muntah, nyeri pada sendi atau tulang, dll.

Pada fase parah, dapat terjadi manifestasi perdarahan di beberapa bagian tubuh yakni hidung (mimisan), gusi, serta kulit yang terlihat mengalami bintik-bintik merah.

Mengenal Nyamuk Aedes Aegypty

Demam Berdarah Dengue (DBD) terjadi akibat infeksi virus Dengue. Virus ini disebarkan lewat gigitan nyamuk Aedes aegypti, yang menjadi vektor utamanya.

Nyamuk ini berkembang biak dengan pesat pada genangan air bersih, dan bertelur hingga 100 – 200 butir setiap kali bertelur. Aedes butuh waktu 7 – 10 hari dari bentuk telur hingga menjadi nyamuk dewasa.

Untuk mengendalikan penyebaran penyakit DBD, penting dilakukan pengendalian vektor, karena vektor ini adalah media transmisi yang penting bagi virus Dengue untuk dapat sampai ke dalam tubuh manusia. Tubuh manusia sendiri merupakan host atau inang atau media inkubasi virus sehingga dapat menjadi penyakit DBD.

Ciri-ciri nyamuk Aedes aegypti yang menonjol adalah warna hitam-putih pada kaki-kakinya, serta banyak ditemukan di wilayah tropis dan subtropis seperti Asia Tenggara, Amerika Tengah, Amerika Latin, dan Pasifik Barat.

Fase-Fase Dalam Penyakit DBD

Gejala yang terlihat dan dirasakan oleh penderita DBD umumnya mulai muncul pada hari ke 3 – 10 setelah Aedes Aegypti yang terinfeksi menggigit tubuh seseorang. Semakin cepat terdeteksi dan diobati maka kemungkinan sembuh dan pulih akan makin cepat.

Berikut ini fase-fase penyakit DBD yang dapat terjadi:

1. Fase Demam

Merujuk laman CDC, fase demam atau fase awal ini biasanya berlangsung selama 2-7 hari dan bisa bersifat bifastik.

Gejalanya antara lain suhu tubuh naik hingga ke 39 derajat Celsius; sakit kepala parah; sakit mata retro-orbital; nyeri otot, sendi, dan tulang; ruam makula atau makulopapular; dan manifestasi hemoragik minor termasuk petekie, ekimosis, purpura, epistaksis, gusi berdarah, hematuria, atau hasil tes tourniquet positif dan trombosit menurun.

2. Fase Peringatan

Usai demam selama 2 – 7 hari, muncul fase peringatan. Fase peringatan adalah saat terjadi penurunan suhu tubuh atau pasien menggigil kedinginan. Muntah terus menerus, mengalami sakit perut parah juga dialami pasien. Terjadi akumulasi cairan, perdarahan mukosa, sulit bernapas, lemas, gelisah, hipotensi postural, pembesaran hati, dan peningkatan progresif dalam hematokrit (yaitu, hemokonsentrasi).

3. Fase Kritis

Fase kritis DBD dimulai ketika penurunan suhu tubuh terjadi usai fase peringatan. Biasanya berlangsung selama 24 - 48 jam. Kondisi pasien terlihat membaik pada fase ini, namun pasien dengan kebocoran plasma yang substansial dapat segera mengalami dengue berat sebagai akibat dari peningkatan permeabilitas vaskular yang nyata.

Jika kondisi makin parah walau telah dilakukan terapi cairan elektrolit, pasien bisa kehilangan plasma dan menjadi syok. Kasus terburuk dapat mengalami kematian.

4. Fase Penyembuhan

Apabila fase kritis berhasil dilewati dan kebocoran plasma mereda, pasien akan mencapai fase penyembuhan atau pemulihan. Tubuh akan mulai menyerap cairan intravena ekstravasasi dan efusi pleura dan perut. Jumlah trombosit perlahan mulai meningkat.

Baca juga artikel terkait LIFESTYLE atau tulisan lainnya dari Cicik Novita

tirto.id - Kesehatan
Kontributor: Cicik Novita
Penulis: Cicik Novita
Editor: Yandri Daniel Damaledo