Tips Kesehatan

Apa Itu Post-Holiday Syndrome? Gejala dan Cara Pencegahannya

Penulis: Dhita Koesno, tirto.id - 1 Mar 2022 23:55 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Mengenal Post Holiday Syndrome, gejala dan cara mencegah PHS usai liburan.
tirto.id - Bagi Anda yang pernah mengalami perasaan stres, depresi, bahkan suasana hati yang tidak baik setelah melakukan perjalanan panjang, mungkin Anda sedang mengalami post-holiday syndrome atau disebut juga dengan istilah post-vacation blues.

Dikutip laman Psycom, Post-holiday syndrome memiliki banyak gejala karakteristik yang sama dari kecemasan atau gangguan mood: insomnia, energi rendah, lekas marah, kesulitan berkonsentrasi, dan kecemasan.

Namun, tidak seperti depresi klinis lainnya, kondisi stres ini umumnya hanya berlaku sesaat dan tidak berlarut-larut.

Apa Itu Post-Holiday Syndrome


Salah satu penyebab utama terjadinya post-holiday syndrome adalah penurunan adrenalin.

Pada dasarnya syndrom ini adalah cara otak mencoba memulihkan keadaan sambil menyesuaikan antara pengalaman yang sangat berbeda.

Penelitian tentang kondisi ini memang relatif masih sedikit, tetapi beberapa ahli menyarankan bahwa penghentian hormon stres secara tiba-tiba setelah peristiwa besar, baik itu pernikahan, tenggat waktu penting, atau liburan, dapat berdampak besar pada kesehatan biologis dan psikologis seseorang.

Menurut Psikolog Melissa Weinberg, Post-Holiday syndrome Sebenarnya normal terjadi karena menandakan bahwa fungsi psikologis Anda sehat.

Itu hanya salah satu dari serangkaian ilusi yang dibodohi oleh otak kita sehingga kita percaya, dengan cara yang sama kita berpikir bahwa hal-hal buruk lebih mungkin terjadi pada orang lain daripada pada kita.

Ironisnya, kemampuan untuk membodohi diri sendiri setiap hari merupakan indikasi fungsi mental dan psikologis yang baik.

“Jadi, apakah kita menikmati liburan kita, dan apakah kita lebih suka berlibur daripada kembali bekerja, otak kita terhubung untuk membuat kita percaya bahwa kita melakukannya. Dengan melakukan itu, kita membayar biaya emosional untuk istirahat yang dinikmati dengan baik, dan kita mengalami penurunan menuju dasar kesejahteraan kita,” kata Weinberg.

Gejala Post-Holiday Syndrome


Ada beberapa tanda yang bisa diwaspadai ketika mengalami post-holiday syndrome. Berikut di antaranya seperti dikutip situs Verywell Mind:.

  • Anda mungkin merasa cemas.
  • Anda mungkin merasa tidak termotivasi,
  • Anda mungkin dalam suasana hati yang buruk.
  • Anda mungkin mudah tersinggung.
  • Anda mungkin merasa stres.
  • Anda mungkin mengalami depresi.
  • Anda mungkin mengalami insomnia.
  • Anda mungkin memiliki kekhawatiran tentang uang.
  • Anda mungkin memiliki perenungan yang berlebihan.
Sementara emosi umum yang dirasakan meliputi:

Kekosongan Pikiran

Anda mungkin bertanya-tanya mengapa pikiran bisa terasa kosong. Berbagai alasan termasuk kelelahan dapat menyebabkan kondisi ini.

Kecewa Setelah Emosi Ekstrim

Perasaan kecewa setelah liburan mungkin hanya pemulihan dari emosi positif yang intens. Misalnya, Anda mungkin merasakan kegembiraan dan kebahagiaan yang luar biasa melihat teman dan keluarga Anda.

Berkumpul kembali dengan saudara mungkin sangat menyenangkan. Pertemuan, misalnya, bisa dilakukan melalui video call tanpa harus tatap muka.

Merasa Sendiri

Sebaliknya, Anda mungkin merasa sangat terisolasi dan sendirian selama liburan. Mungkin Anda harus bekerja berjam-jam, tidak mampu bepergian atau memilih untuk menyendiri.

Bagi mereka yang merasa kesepian selama musim liburan atau setelahnya, psikolog menyarankan untuk menumbuhkan rasa syukur dan bersikap baik pada diri sendiri.

Merasa Tertekan

Alasan lain merasakan kesedihan pasca-liburan adalah karena stres. Jika Anda bepergian untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, logistik bisa membuat segalanya menjadi lebih rumit.

Bersiap-siap kembali dari perjalanan panjang dengan mobil atau penerbangan cukup sulit.

Selain itu, aturan di rumah saja, persyaratan vaksin, dan pengujian mungkin telah menjadi rutinitas harian dan ini bisa menimbulkan rasa kewalahan.

Setelahnya, Anda akan kembali ke rutinitas harian, lalu berusaha mengejar ketinggalan pekerjaan saat liburan.

Dengan demikian, stres terus berlanjut. Meskipun Anda mungkin menikmati waktu liburan, itu mengganggu rutinitas dan Anda benar-benar kurang istirahat.

Merasa Kehilangan

Kehilangan keluarga atau teman dekat di saat liburan, tentu akan membuat perasaan kecewa dan sedih.

Ingatlah bahwa emosi selama dan setelah periode liburan mungkin sangat meningkat. Jika orang yang dicintai baru saja meninggal, Anda mungkin masih akan bersedih dan berduka.

Cara Mengatasi Post-Holiday Syndrome


Berikut adalah beberapa cara untuk mengatasi Post Holiday-Syndrome:

Beri diri lebih banyak waktu. Ini berarti memberi diri Anda waktu tambahan untuk semuanya. Misalnya, jadwalkan satu atau dua hari sebagai waktu mengejar ketinggalan. Gunakan langkah ini sebelum kembali ke rutinitas biasa.

Ubah mood Anda dengan membatasi media sosial. Bicaralah dengan orang-orang melalui telepon atau secara langsung.

  • Lakukan Olahraga Ringan. Anda akan merasa lebih bahagia dan mendapatkan endorfin itu misalnya dengan berjalan-jalan atau jogging di sekitar rumah.
  • Ikut serta dalam terapi alam. Sudah terbukti bahwa ruang hijau meningkatkan rasa kenyamanan.
  • Makan dengan baik. Fokus pada ikan, biji-bijian, cokelat hitam, dan teh hijau untuk memerangi stres.
  • Tidur yang cukup. The Sleep Foundation mengatakan, tidur yang buruk berkontribusi terhadap depresi dan bahwa seseorang cukup sulit untuk mengatasi masalah tidur jika mereka mengalami depresi.
  • Cari tahu apakah Anda menderita gangguan afektif musiman (SAD). SAD adalah gangguan depresi berulang dalam beberapa waktu. Sebuah studi menemukan bahwa menambahkan olahraga dan pergi ke gym dapat secara efektif mengobati SAD.
  • Bersikap baik pada diri sendiri. Kurangi kesibukan dalam satu atau dua hari dan lakukan perawatan diri.
  • Menonton film komedi. Humor dan tawa mengurangi stres.
  • Komunikasikan bahwa Anda merasa sedih. Beri tahu keluarga dan teman dekat apa yang Anda alami. Mereka mungkin bisa membantu.


Baca juga artikel terkait POST HOLIDAY SYNDROM atau tulisan menarik lainnya Dhita Koesno
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Dhita Koesno
Editor: Iswara N Raditya

DarkLight