Antiklimaks BTP: Lama Dinanti, Malah Ditinggal Vakansi

Oleh: Rio Apinino - 31 Januari 2019
Dibaca Normal 2 menit
BTP memutuskan untuk berlibur saja. Ia akan jauh dari hingar bingar pilpres dan baru akan kembali pada akhir April atau awal Mei.
tirto.id - Sikap Basuki Tjahaja Purnama adalah antiklimaks. Dengan wajah sumringah, BTP, demikian ia kini lebih suka disapa ketimbang Ahok, mengatakan akan bervakansi ria setelah bebas dari penjara.

"Saya mau jalan-jalan. Saya sudah 20 tahun, eh, 20 bulan setengah ditahan. Ya saya pengin jalan-jalan dua setengah bulan wajar, lah, ya. Nanti kita baru ketemu akhir April atau Mei saja," kata BTP, dalam Instagram anggota DPR dari PDIP, Charles Honoris, yang telah terverifikasi.

Dikatakan antiklimaks karena banyak yang berharap ia kembali ke dunia politik, termasuk para penggemarnya. Nama besar BTP sebagai wakil Joko Widodo hingga jadi orang nomor satu di DKI dianggap punya pengaruh signifikan.

Dengan bilang akan libur dan kembali pada akhir April atau Mei, artinya, ia tak bakal ikut meramaikan kampanye hingga hari H pencoblosan Pilpres 2019.

Jadi wakil Jokowi di DKI membuat BTP lebih dekat dengan paslon nomor urut 01. Dalam konsolidasi pemenangan Pemilu 2019 di DPC PDIP Sleman, DIY, Senin 26 November 2018, Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat, yang juga pernah jadi wakil BTP di Pemprov DKI, mengatakan sejawatnya itu hampir pasti masuk PDIP.

"Dia [BTP] bilang, 'kalau nanti saya masuk politik, saya pasti masuk PDI Perjuangan'," ujar Djarot.

Kecenderungan memilih Jokowi alih-alih Prabowo sebetulnya telah bisa ditebak sejak beberapa tahun sebelumnya. Pada Pemilu 2014, misalnya, BTP memutuskan tak masuk tim sukses pemenangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, padahal statusnya masih kader Gerindra, motor utama paslon ini (BTP keluar dari Gerindra pada September 2014).

Juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Andre Rosiade, pada Desember lalu juga mengatakan BTP tak mungkin lagi ada di gerbongnya.


Signifikansi BTP


Lalu, apa sebetulnya signifikansi BTP untuk Jokowi-Ma'ruf? Untuk menjawabnya kita perlu mengurut relasi antara para tokoh yang menonjol dalam kasus 'penistaan agama' BTP serta pemilihan Ma'ruf Amin sebagai calon Wakil Presiden Jokowi.

Ketika mengetuai Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ma'ruf mengatakan ucapan BTP yang menyinggung al-Maidah ayat 51 menjadi isu nasional. MUI merasa perlu ada tindakan hukum untuk BTP. Setelah itu muncullah Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI yang berkali-kali berdemo menuntut BTP dipenjara.

Maka tak heran yang muncul kemudian adalah para pendukung BTP merasa Ma'ruf adalah otak di balik fatwa penodaan agama. Mereka kemudian kecewa dengan keputusan Jokowi memilih Ma'ruf Amin. Jokowi pun dinilai sudah menyalahi komitmennya soal toleransi dan anti-politik identitas.

Kemudian muncullah narasi golput yang dilawan dengan kampanye anti-golput oleh orang-orang PDIP, seperti Budiman Sudjatmiko dan Eva Kusuma Sundari. Senada dengan Eva dan Budiman, Ketua Umum PSI Grace Natalie juga melakukan hal serupa.

"Jangan ketika tidak terakomodir, lalu golput, itu jangan. Kami juga punya aspirasi berbeda, tapi kami tetap dukung Jokowi," kata Grace, Agustus 2018.

Di sinilah peran BTP: Mantan gubernur DKI Jakarta ini, menurut Direktur Populi Centre Usep S. Ahyar, bisa menekan suara yang hilang karena keputusan memilih Ma'ruf Amin itu.

"Bagaimanapun pendukung Ahok dan Jokowi itu berhimpitan. Pendukung Ahok adalah pendukung Jokowi. Begitu juga sebaliknya," kata Usep, Agustus 2018.


Di sisi lain, masuknya BTP secara struktural ke tim kampanye Jokowi sebetulnya potensial menghilangkan suara mereka yang memilih 01 karena alasan keberadaan Ma'ruf. Hal ini sempat disinggung Adi Prayitno, peneliti dari The Political Literacy. "Banyak muslim yang mendukung Ma'ruf itu anti-Ahok," kata Adi.

PSI mungkin telah 'membaca' kemungkinan ini. Itu kenapa sekretaris jenderal mereka, Raja Juli Antoni, berharap BTP masuk ke dunia politik setelah Pilpres 2019.

"Mungkin di pertengahan tahun 2019, setelah pemilu, pak Ahok dapat kembali berkiprah di politik nasional kita," kata Toni, 24 Januari 2019.

Hendrawan Supratikno tak melihat keputusan untuk bervakansi sebagai antiklimaks. Sebaliknya, katanya, keputusan ini tepat belaka. Ia juga mengatakan BTP tetap bisa mendukung Jokowi meski tengah liburan.

"[Mendukung Jokowi] Tidak harus dengan teriak-teriak atau kampanye terbuka," kata dia kepada reporter Tirto, Kamis (31/1/2019). Salah satu caranya adalah dengan vlog, bidang yang nampaknya akan diseriusi bekas Bupati Belitung Timur ini.

Baca juga artikel terkait PEMBEBASAN BTP atau tulisan menarik lainnya Rio Apinino
(tirto.id - Politik)


Penulis: Rio Apinino
Editor: Abdul Aziz
DarkLight