Antara Miyazaki dan Shinkai

Film animasi Jepang, Kimi No Na Wa. FOTO/Comic Wave Film
Oleh: Aulia Adam - 24 Desember 2016
Dibaca Normal 2 menit
Kimi no Na wa tak dinyana menjadi penerus kesuksesan anime, setelah Hayao Miyazaki pensiun. Film ini jadi anime pertama selain film milik Miyazaki yang berhasil mengumpulkan 10 miliar yen. Makoto Shinkai langsung dipepet julukan “Miyazaki Selanjutnya”. Tapi benarkah?
tirto.id - Pak Tua Hayao Miyazaki sudah pensiun. Banyak pecinta anime menangis mendengar kabar itu. Takut film-film seperti Spirited Away, Neighbor Totoro, The Wind Rises, dan Howl’s Moving Castle tak akan muncul lagi di dunia ini. Pemenang Oscar Kehormatan 2014 itu memang terkenal atas tangan dinginnya sebagai penghasil anime paling laku di dunia saat ini.

Tapi tampaknya kita tak perlu berlama-lama mencari pengganti Miyazaki yang bertalenta itu. Makoto Shinkai, sutradara muda anime yang juga dari Jepang, melemparkan film terbarunya Agustus lalu. Film itu langsung laris manis, dan menjadi anime pertama selain film milik Miyazaki yang berhasil mengumpulkan 10 miliar yen. Hebatnya lagi, pencapaian itu hanya dilakukan dalam waktu 28 hari setelah rilisnya.

Film berjudul Kimi no Na wa, hingga 11 Desember telah diputar di 85 negara termasuk Indonesia, dengan total penonton 15,78 juta dan pendapatan kotor sebesar 20,15 miliar yen. Angka itu menempatkannya sebagai film dengan pendapatan kotor tertinggi keempat di Jepang mengalahkan Harry Potter and The Sorcerer’s Stone, dan segera menyusul Frozen, Titanic, dan Spirited Away. Tanpa deretan film impor, artinya Kimi no Na wa yang memiliki judul bahasa Inggris Your Name. (dengan titik) jadi film nomor dua paling laku di Jepang.

Nama Makoto Shinkai lantas digadang-gadang sejumlah media sebagai “Miyazaki Selanjutnya”. Tapi benarkah demikian?

Pada The Guardian dia berkata, “Rasanya ada yang salah, dalam cara yang lucu,” saat ditanyai pendapatnya tentang hal itu.

Shinkai sendiri secara rendah hati merasa opini itu berlebihan. Ia malah merasa karyanya lebih mirip karya-karya milik novelis Haruki Murakami ketimbang Hayao Miyazaki. “Miyazaki orang jenius. Dia legenda. Tapi kau tak akan mau meniru gayanya. Kau harus buat sesuatu yang beda, sesuatu yang belum dibuatnya. Tapi aku mau film-filmku juga bisa memantik emosi seperti film-filmnya,” tambah Shinkai.

Thomas Lamarre, profesor dengan spesialisasi anime dari Universitas McGill yang diwawancarai The Wall Street Journals, juga sependapat Shinkai. Ia melihat perbedaan jelas antara karya-karya Miyazaki dan protégé-nya Shinkai. Dalam film Shinkai, latar gambar digital jadi bagian penting yang diberi porsi lebih daripada film Miyazaki. “Dalam film-film Miyazaki sesosok karakter jelas pergerakannya. Mereka akan pergi dari titik A ke titik B dengan bentuk transportasi yang jelas, misalnya sepeda. Sementara di film-film Shinkai, karakter bisa saja loncat dari titik A langsung ke titik C. Itu menggambarkan konsep dunia digital, sementara Miyazaki lebih terkesan analog,” katanya.

Lamarre ada benarnya. Karya-karya Shinkai memiliki ciri khasnya sendiri. Terutama pada gambar latar.

Dari film-film sebelumnya, The Place Promised in Our Early Days (2004), 5 Centimeters Per Second (2007), Children Who Chase Lost Voices (2011), The Garden of Words (2013), kita bisa melihat benang merah yang jelas. Shinkai selalu memakai latar-latar nyata yang kemudian digambarnya ulang dengan sedikit sentuhan digital grafis, meniru latar asli.



Selain jadi ciri khas yang kuat, kebanyakan penonton akhirnya merasa lebih terikat pada cerita yang dipaparkan Shinkai dalam filmnya, sebab pernah melihat tempat-tempat yang ada di film, atau bahkan tinggal di dekatnya. “Pemandangannya cantik. Bahkan lebih cantik dari aslinya,” kata Takuto Sakaguchi, salah seorang fans, pada The WSJ. Sakaguchi yang pernah melintasi sebuah tangga di salah satu kuil di Tokyo yang masuk dalam film bilang, “Saat ke sana, aku merasa seperti jadi bagian dalam film juga.”

Sementara Miyazaki dikenal dengan kesetiaannya pada visual yang digambar tangan sendiri. Roger Ebert, salah satu kritikus film Amerika mengagumi Miyazaki karena hal itu. Menurutnya, Miyazaki adalah seorang fanatik, yang mencurigai komputer. Malah memilih menggambar sendiri ratusan gambar adegan per adegan dengan tangan.

Selain itu, Miyazaki dan Studio Ghibli selalu punya pesan tersirat tentang kesetaraan dalam film-filmnya. Misalnya tentang feminisme dalam Princess Mononoke, atau hak buruh seperti yang tersirat dalam cerita Chihiro, tokoh dalam Spirited Away yang sempat jadi buruh dalam salah satu adegan.

Hal ini juga dirasakan Shinkai. Ia menilai, Miyazaki dipengaruhi era saat film-filmnya dibuat. Pada wawancara dengan Hollywood Reporter, ia terang mengakui kalau film-film Miyazaki punya kekuatan untuk mengubah dunia, membuat masyarakat lebih baik. Sedangkan dirinya mengaku tak punya hasrat semacam itu.

“Bagiku, mereka (film-filmya) lebih personal—kalau ada yang menonton filmku, baik yang pernah dan belum kutemui, tergerak karenanya, berarti bagus. Tapi aku yakin mereka tak tergerak sampai berhasrat melakukan perubahan sosial, ya itu juga bukan tujuanku,” katanya.

Satu-satunya kesamaan film Miyazaki dan Shinkai adalah porsi “ma” yang sama besar di karya keduanya. ‘Ma’ adalah sebuah elemen kekosongan yang disisipkan dalam film sebagai tempat jeda bagi para penonton. Guna lainnya agar penonton dapat menikmati gambar yang dipajang film. Tak jarang, ‘ma’ malah menciptakan elemen emosi bagi penontonnya agar lebih terikat pada alur cerita.

Tapi seperti yang dikatakan Shinkai sendiri, ia punya tawaran berbeda dari apa yang pernah Miyazaki sajikan di panggung anime. Ia memang bukan Miyazaki, sebagaimana Miyazaki tak pula gampang tergantikan.

Mungkin sepotong kalimatnya dalam wawancara dengan Hollywood Reporter bisa menggambarkan realitas yang sebenarnya:

“Kami mengisi peran yang berbeda.”

Baca juga artikel terkait ANIME atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Film)

Reporter: Aulia Adam
Penulis: Aulia Adam
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight