Alasan Sukarno Ngotot Bangun Masjid Istiqlal Dekat Gereja Katedral

Oleh: Oryza Aditama - 3 Desember 2018
Dibaca Normal 1 menit
Sempat terjadi silang pendapat antara Sukarno dan Hatta mengenai lokasi pembangunan masjid nasional yang kemudian dikenal sebagai Masjid Istiqlal.
tirto.id - Siapa sangka, ada kisah menarik soal pemilihan lokasi pembangunan Masjid Istiqlal yang berdampingan dengan Gereja Katedral di Jakarta. Sebagian orang mungkin menangkap kesan bahwa dua ikon tempat ibadah tersebut adalah contoh paling mudah untuk menggambarkan toleransi beragama di Indonesia. Namun, kisah di balik hal ini ternyata tidak sesederhana itu.

Ide membangun Masjid Istiqlal sebagai masjid nasional sudah muncul sejak tahun 1950 atau tidak lama setelah pengakuan kedaulatan secara penuh dari Belanda kepada Indonesia. Namun, usul ini baru diajukan kepada Presiden Sukarno pada 1953.

Bung Karno menyambut baik usulan tersebut. Tapi, urusan tak lantas selesai sampai di situ. Pemilihan lokasi pembangunan masjid sempat memantik silang pendapat antara Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta.

Dikutip dari buku berjudul Friedrich Silaban (2017) karya Setiadi Sapandi, Hatta menyarankan agar Masjid Istiqlal didirikan di lokasi yang saat ini menjadi tempat berdirinya Hotel Indonesia atau di Jalan M.H. Thamrin sekarang. Pertimbangannya, lokasi tersebut berada di lingkungan muslim dan tersedia lahan yang cukup luas.

Wapres kurang setuju jika masjid nasional itu dibangun di kawasan Pasar Baru lantaran lokasi tersebut banyak terdapat bangunan-bangunan lama peninggalan Belanda. Hatta, tulis Sapandi, beralasan “akan mahal karena harus membongkar bekas benteng” apabila Masjid Istiqlal didirikan di lokasi tersebut.




Di sisi lain, Sukarno tetap menghendaki agar pembangunan Masjid Istiqlal dilakukan di dekat sekitar Pasar Baru, tepatnya di Taman Wilhelmina dan dekat benteng kuno Belanda. Seperti yang dikhawatirkan Hatta, anggaran untuk membangun masjid di tempat itu pasti amat besar. Namun, presiden tetap bersikukuh.

Menurut Bung Karno, masjid nasional harus berdekatan dengan bangunan simbol negara lainnya, seperti Istana Negara. Terlebih lagi, di sekitar lokasi itu berdiri Gereja Katedral. Disebutkan dalam buku Sejarah Gereja Katolik Indonesia (1972) terbitan Majelis Agung Waligereja Indonesia, pendirian gereja bersejarah ini sudah dilakukan sejak 1892 dan diresmikan pada 21 April 1901.

Sukarno tampaknya ingin menyampaikan pesan bahwa bangsa ini memiliki semangat persatuan dan toleransi beragama yang sangat kuat sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Itulah alasan utama mengapa sang presiden menginginkan Masjid Istiqlal harus dibangun dekat dengan Gereja Katedral yang menjadi pusat kegiatan umat Kristiani di Indonesia.

Orang yang terpilih sebagai arsitek pembangunan Masjid Istiqlal bernama Fredrerich Silaban, seorang pemeluk Nasrani dan anak pendeta Kristen Protestan di tanah Batak, Sumatera Utara. Pemilihan ini dilakukan setelah digelar suatu sayembara.



Namun, proses pembangunan masjid nasional berjalan lambat karena banyaknya persoalan yang harus dihadapi negara pada saat itu, terutama persoalan-persoalan politik yang berujung pada terjadinya peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965.

Masjid Istiqlal akhirnya selesai dibangun pada 1961. Saat itu, pengaruh Sukarno sudah meluruh, digantikan oleh Soeharto dengan Orde Barunya. Namun, masjid ini baru diresmikan pada 22 Februari 1978 oleh Presiden Soeharto.

Baca juga artikel terkait MASJID ISTIQLAL atau tulisan menarik lainnya Oryza Aditama
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Oryza Aditama
Editor: Iswara N Raditya