Ahlan Wa Sahlan Industri Hijab Dunia

Model berbusana hijab dalam acara fashion show. TIRTO/TF Subarkah
Oleh: Arlian Buana - 4 Maret 2016
Dibaca Normal 5 menit
Bisnis hijab bukan lagi mainan pedagang pasar. Brand-brand kelas dunia ramai-ramai ikut merambah bisnis ini. Hijab bukan lagi sekadar penutup aurat, tapi sudah menjelma menjadi industri yang menggiurkan. Gelombang baru akan segera menyapa gelombang hijab sebagai tren dunia. Menurut Rafi-Uddin Shikoh, ada beberapa faktor yang dapat mendorong kemajuan industri muslimah .
tirto.id - Hijab kini bukan lagi monopoli kaum ibu yang sudah sepuh. Hijab sudah menjangkau semua kalangan, anak baru gede, eksekutif muda, ibu muda pun memakainya. Dengan jangkauannya yang semakin luas, maka tak perlu heran jika bisnis hijab menjadi bisnis yang sangat menjanjikan. Pergerakan trennya juga sangat cepat. Dalam waktu singkat, sebuah tren bisa membuahkan bisnis yang nilainya berlipat-lipat.

Misalnya saja ketika artis Risty Tagor yang muncul ke publik menggelar jumpa pers tentang rencana pernikahannya beberapa waktu lalu. Ia mengenakan hijab syar'i yang membuatnya terlihat sangat cantik. Hijab itu langsung menjadi tren. Para wanita berburu khimar Risty. Para produsen dan pedagang cepat menangkapnya. Mulai dari toko-toko online hingga lapak-lapak pedagang kaki lima, semua menawarkan khimar ala Risty. Harganya bervariasi, mulai dari Rp50 ribu hingga ratusan ribu rupiah.

Pangsa pasar produk yang berkaitan dengan kaum wanita sangat besar, tak terkecuali hijab. Para produsen dan penjual hijab sadar betul dengan perilaku kaum wanita yang selalu ingin mengikuti tren. Mereka memenuhi hasrat kaum wanita dengan selalu mengeluarkan produk-produk baru. Itulah yang membuat hijab menjadi bisnis yang sangat bernilai, tak hanya bagi pemain lokal tetapi juga global.

Pertumbuhan Pasar

Mariah Idrissi tak pernah menyangka bahwa ia akan menjadi model terkenal. Ia gadis muslimah berusia 23 tahun. Ayahnya Pakistan, ibunya Maroko. Idrissi taat mengenakan hijab meski tinggal di London yang kosmopolitan.

Ketika seseorang menelepon dan memintanya menjadi bintang iklan H&M, jaringan peritel pakaian terbesar kedua di dunia setelah Zara, Idrissi bertanya setengah tak percaya, "Anda yakin mereka tahu saya memakai hijab?"

Kemunculan Idrissi dalam iklan pendek H&M, Close the Loop, cukup mengejutkan dunia fashion. Kemunculannya menciptakan tren baru. Ia kini menjadi pusat perhatian berbagai media gaya hidup. "Ini mungkin karena fashion hijab mulai meledak dalam beberapa tahun terakhir. Banyak yang melihat kemunculan seorang hijabi dalam dunia fashion mainstream sebagai sebuah pencapaian besar," ucapnya rendah hati.

Idrissi benar. Industri hijab mengalami kemajuan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Brand-brand ternama mulai melirik kecenderungan ini sebagai peluang besar untuk memangsa pasar baru. Selain H&M, brand-brand seperti DKNY, Tommy Hilfiger, dan Mango mulai meluncurkan koleksi busana muslim. Zara tak mau ketinggalan. Bersama Net-a-Porter, Zara mengeluarkan produk edisi ramadan pada 2015.

Awal Januari 2016, brand sebesar Dolce and Gabbana pun menunjukkan usaha yang sangat serius untuk bersaing di pasar busana muslim. Untuk pertama kalinya, mereka meluncurkan koleksi jilbab dan abaya—busana wanita Arab berbentuk jubah berlengan panjang. Dalam 20 gambar di Style.com/Arabia, di antaranya mereka menampilkan jilbab sutra yang sangat mahal berwarna hitam dan dihiasi banyak renda khas Dolce and Gabbana. Majalah Forbes menyebut ini sebagai manuver bisnis tercerdas tahun ini.

Dalam buku Muslim Fashion: Contemporary Style Cultures, Reina Lewis, profesor London College of Fashion, menulis: selama ini busana muslim "kurang terwakili di media gaya hidup" dan di sisi lain "terlalu terwakili di media berita". Hal ini terjadi karena dua asumsi yang saling berhubungan: "fashion adalah pengalaman Barat" sementara "muslim bukanlah bagian dari Barat." Kini semuanya telah berubah, jilbab dan abaya telah menjadi bagian dari mode di Barat.

Keterlibatan Idrissi dengan H&M sekaligus menjadi pembuka pintu bagi industri fashion arus utama untuk menyasar pasar baru, pasar yang belum pernah mereka masuki sepanjang sejarah 60 tahun dunia periklanan modern: dunia muslim. Menurut laporan Global Islamic Economy Report, pasar baru ini diperkirakan akan menghabiskan uang sebesar $484 miliar untuk membeli pakaian—meningkat tajam dari $226 miliar pada 2013.



Memang, secara umum konsumen muslim tidak otomatis membeli pakaian muslim. "Tapi ada sejumlah faktor yang mendorong industri busana muslim akan terus tumbuh," kata Rafi-Uddin Shikoh, orang di balik Global Islamic Economy Report.

Pertama, faktor "pentingnya agama" dalam kehidupan masyarakat muslim. Di Eropa, hanya satu dari tiga responden yang menganggap agama penting. Sementara di Amerika Serikat, persentasenya naik-turun sekitar 50 persen. Di negara-negara yang Muslim, persentasenya mencapai 88 persen untuk yang masih menjunjung tinggi nilai agama.

Kedua, faktor demografi. Usia rata-rata di negara-negara mayoritas Muslim adalah sekitar 30 tahun, sementara Eropa dan Amerika Serikat sekitar 44 tahun. Hal ini menjadi penting karena daya beli konsumen muda cenderung tumbuh dari tahun ke tahun.

Ketiga, faktor ekonomi. Produk Domestik Bruto (PDB) negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim diproyeksikan tumbuh rata-rata 5,4 persen per tahun. Sementara Eropa dan Amerika Serikat diperkirakan hanya tumbuh 3,4 persen dalam beberapa tahun ke depan.

Keempat, pertumbuhan penduduk bergama Islam. Menurut laporan PEW Research Center, Islam adalah agama yang paling cepat pertumbuhan pemeluknya. Diperkirakan 29 persen dari populasi dunia adalah muslim pada tahun 2030.





Lalu bagaimana para fashionista, desainer, dan pengusaha bergegas untuk menyongsong kesempatan emas ini?

Geliat Bisnis Busana Muslim

Pada tahun 2000, Anas Sillwood pergi ke Yordania. Ia asli Inggris dan memperoleh gelar master bidang politik di London School of Economics. Kunjungan yang seharusnya hanya beberapa bulan itu ternyata mengubah jalan hidupnya. Ia masuk Islam, kemudian memutuskan untuk tinggal di Amman.

"Setiap saya pulang ke Inggris, saya selalu menghadapi masalah," katanya. "Orang-orang menatap saya dengan pandangan aneh karena busana yang saya kenakan. Itu terjadi berulang-ulang, saat itulah saya menyadari bahwa banyak Muslim yang membutuhkan pakaian yang dirancang lebih bagus dengan bahan lebih baik."

Pada tahun 2002, ia meluncurkan Shukr, salah satu situs e-commerce mode Islam pertama yang melayani kebutuhan umat Islam di Eropa. Produk-produknya adalah pakaian muslim tradisional dengan sentuhan gaya modern. Silkwood menjadi pelopor di pasar yang tidak dilirik oleh siapapun ketika itu.

Intuisi Silkwood dengan cepat berkembang menjadi bisnis menjanjikan. Volume penjualannya terus naik dari tahun ke tahun. Saat ini, pasarnya semakin meluas hingga ke Amerika Serikat, kawasan Timur Tengah, dan Afrika Utara. Bisnisnya mendulang sukses besar.



Selain Shukr, pemain terbesar lain di pasar ini adalah Modanisa, e-commerce yang berbasis Turki yang didirikan pada 2012 oleh Karim Ture. "Saya ingat ketika saya menyadari ada kebutuhan yang luar biasa ini," kata Ture. "Saya sedang makan malam di sebuah restoran, di sebelah saya ada seorang gadis usia 20-an bersama ibunya. Cara berpakaian mereka sama persis. Tidak ada pilihan bagi mereka untuk tampil berbeda, mencerminkan gaya masing-masing."

Saat ini, lebih dari 200 merek busana muslim yang menawarkan barang mereka di Modanisa. Modanisa telah menjual busana muslim di sekitar 60 negara. Konsumen menemukan apa yang mereka inginkan, memesannya, lalu barang dikirimkan ke rumah mereka.

Neslihan Cevik, pendiri peruhanaan hijab M-Line Fashion yang juga penulis buku tentang transformasi peran perempuan dalam Islam, Muslimism in Turkey and Beyond, menggarisbawahi bagaimana di masa lalu perempuan muslim dilihat sebagai sosok-sosok monoton yang ditekan norma agama, sehingga tidak terlalu banyak kebutuhan dan tidak bebas menentukan pilihan sendiri. Tapi dari sudut pandang pemasaran, tentu saja anggapan seperti ini keliru. Dalam pemasaran, bahkan ketika orang tidak butuh akan sesuatu pun, Anda harus menciptakan kebutuhan itu.

"Perempuan muslim sebenarnya memiliki ratusan kebutuhan yang berbeda," kata Cevik. "Selain, penting juga dilihat bagaimana di tahun-tahun terakhir wanita muslim di seluruh dunia mulai terlibat lebih lebih banyak dalam kegiatan publik, punya pekerjaan, punya kegiatan di luar rumah."

Untuk memenuhi kebutuhan spesifik dan keinginan individu itulah, Dilyara Sadrieva, seorang muslimah Rusia, mendirikan perusahaan Bella Kareema dan mendesain sendiri produk-produknya.

Ketika Sadrieva remaja, sebagian besar pakaian muslim yang dijual di Rusia berasal dari Turki atau Timur Tengah. Tapi pakaian-pakaian itu tidak cocok untuk iklim dan gaya Rusia. Sadrieva kemudian bertekad untuk membuat sendiri pakaiannya. "Saya memulainya sebagai hobi, karena saya ingin memakainya untuk diri saya sendiri," katanya. Saat ini, Bella Kareema berhasil menjual ratusan item per tahun dan ikut ambil bagian dalam berbagai kesempatan fashion show di London, Uni Emirat Arab dan Turki.

Rabia Z, desainer yang berbasis UEA dan salah satu yang paling terkenal di wilayah itu, mulai mendesain busana muslim pada 2001. Saat itu ia masih tinggal di AS, dan setelah tragedi 9/11, banyak teman-temannya melepas jilbab mereka. "Saya tidak mau melepas jilbab, dan karena saya punya latar belakang tata busana, saya memutuskan mendesain sendiri pakaian dan jilbab saya. Ternyata banyak yang suka."

Meski permintaan terhadap pakaian buatannya terus meningkat dari tahun ke tahun, Rabia sampai sekarang masih sering terheran-heran sendiri. "Kadang saya masih sulit percaya, ada banyak orang yang mendesain pakaian untuk jutaan perempuan muslim."





Potensi Indonesia

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia jelas merupakan pasar yang menggiurkan. Pada tahun 2013, untuk belanja busana muslim, Indonesia menghabiskan USD 18,8 miliar, di bawah Turki dan Uni Emirat Arab.



Dalam hal produksi, Dian Pelangi dijadikan studi kasus khusus dalam Global Islamic Economy Report karena keberhasilannya membangun brand busana muslim. Dian Pelangi dianggap berhasil mengangkat nilai budaya dan warisan Indonesia dalam produk-produknya. Masih dibuat dengan tangan, menggunakan teknik tradisional seperti tenun dan batik. Perusahaan ini kini memiliki 15 butik di Indonesia dan satu di Malaysia.

Namun, keberhasilan Dian Pelangi belum diikuti iklim yang mendukung untuk pengembangan lebih jauh. Dalam hal pengembangan fashion muslim, Indonesia masih terbelakang. Meski masuk tiga besar untuk konsumsi, Indonesia tidak masuk 10 besar untuk iklim produksi. Indonesia masih rendah dalam tata niaga, kesadaran untuk membangun lingkungan yang mendukung bagi peningkatan produksi, dilihat baik dari media terkait yang ada maupun event-event yang diselenggarakan, terlebih peran pemerintah sangat minim.

Ini jelas pekerjaan rumah yang tidak mudah. Tidak semudah meminta stempel hijab halal dari MUI. Perlu dukungan dan kerja keras dari semua pihak untuk membenahi iklim produksi busana muslim dalam negeri. Meminjam ungkapan yang sering dipakai di berbagai sektor lain, agar Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Baca juga artikel terkait JILBAB atau tulisan menarik lainnya Arlian Buana
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Arlian Buana
Penulis: Arlian Buana
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight