tirto.id - Anggota DPD asal Bali, Arya Wedakarna, kembali menuai kontroversi setelah memberi komentar tentang perbedaan stereotipe turis asing dan lokal di Bali. Namun, Arya memang dikenal sebagai Senator Bali yang lekat dengan kontroversi. Di internet, ia sering viral karena hal yang menuai pro dan kontra.
Pria bernama lengkap I Gusti Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa ini, merupakan anggota DPD RI periode 2024-2029. Ia merupakan mantan penyanyi yang kini terjun ke kancah politik, khususnya di Bali sebagai tempatnya lahir.
Selama menjadi pejabat publik tersebut, eks kader Partai Nasional Indonesia (PNI) Marhaenis itu tak jarang mendapat sorotan publik akibat kontroversi yang ia buat. Dalam banyak kesempatan, komentar-komentarnya telah memicu reaksi keras dari warganet.
Daftar Kontroversi Arya Wedakarna
Selain kontroversi terbarunya ketika menyinggung stereotipe turis asing dan lokal di Bali kini, ada pula kontroversi lainnya yang pernah ia lakukan. Berikut merupakan daftar kontroversi yang pernah dikaitkan ke sosok Arya Wedakarna.
1. Menolak Bank Syariah di Bali
Jauh sebelum kini menuai reaksi keras karena stereotipe turis, Arya sudah lekat dengan kontroversi pada 2014 lalu. Kala itu, ia disorot publik karena sikapnya menolak keberadaan bank syariah di Bali.Saat itu, ia secara publik mendukung aksi Aliansi Hindu Muda Indonesia dan Gerakan Pemuda Marhaen untuk menghentikan izin operasional bank syariah di Bali. Hal ini, katanya, ia lakukan untuk menjaga identitas Bali sebagai wilayah dengan mayoritas pemeluk agama Hindu.
Arya kala itu menyebut bahwa keberadaan bank syariah berpotensi membuat simbol agama tertentu mendominasi ruang publik di Bali. Penolakan ini juga disebut Arya ia lakukan demi menjaga nilai pluralitas di Bali.
2. Menolak Kehadiran Ustaz Abdul Somad
Maju ke tahun 2017, Arya kembali disorot karena pernyataan publiknya. Kala itu, ia secara terbuka menyampaikan penolakan atas kehadiran pihak yang “anti-Pancasila” atau berhaluan “khilafah”.Pernyataan itu sebenarnya bukan hal yang seketika memicu kontroversi. Namun, Arya mengungkapkan hal itu di tengah rencana kedatangan Ustaz Abdul Somad yang dijadwalkan berdakwah di Bali.
Saat itu, publik kemudian mengaitkan pernyataan Arya dengan rencana kedatangan Ustaz Abdul Somad. Senator itu bahkan sempat dilaporkan ke Badan Kehormatan DPD atas hal ini.
3. Dugaan Aniaya Ajudan
Tak hanya ucapan, kontroversi seputar Arya juga meliputi dugaan tindak pidana penganiayaan. Seorang mantan ajudannya rupanya pernah melaporkan Arya ke polisi atas dugaan penganiayaan.Dalam laporan itu, Arya dituduh telah melakukan tindak kekerasan kepada ajudannya ketika sang ajudan tak sengaja menjatuhkan tas miliknya. Ajudan berinisial PTMD itu mengaku telah ditampar dan dicekik oleh Arya karena hal tersebut.
4. Ucapan Diskriminatif pada Pengguna Hijab
Pada 2023 lalu, Arya kembali menuai kontroversi. Kali ini, warganet beraksi keras kepada Arya yang diduga telah mengungkapkan pernyataan diskriminatif kepada perempuan pengguna hijab.Hal itu terjadi pada Desember 2023 lalu. Saat itu, ia tengah menghadiri rapat di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Dalam rapat itu, ia mengkritik petugas frontliner bandara karena mengenakan hijab.
“Saya mau gadis Bali yang kayak kamu, yang rambutnya kelihatan, terbuka. Jangan kasih yang penutup-penutup enggak jelas,” katanya.
Pernyataan itu rupanya terekam kamera dan video rekaman pun beredar di internet. Arya kemudian mendapatkan reaksi keras karena ucapannya itu dinilai merupakan bentuk diskriminasi berbasis agama dan identitas. Terlebih, ucapan itu disampaikan Arya dalam konteks ketenagakerjaan.
5. Intervensi Polemik Bakso A Fung
Pada 2023, Arya sebenarnya juga terlibat dalam kontroversi lainnya. Pada tahun itu, warganet tengah diperlihatkan dengan polemik kreator konten bernama Jovi Adhiguna yang membawa makanan non-halal ke dalam gerai Bakso A Fung di Bandara Ngurah Rai.Peristiwa itu menjadi polemik karena Bakso A Fung merupakan jenama bersertifikat halal. Akibat konten Jovi itu, pihak manajemen gerai melakukan pemusnahan peralatan makan yang digunakan Jovi untuk menjaga standar sertifikasi halal mereka.
Pemusnahan itu disiarkan secara publik melalui media sosial dan kemudian memicu pro dan kontra. Arya kemudian menjadi salah satu pihak yang kontra dengan keputusan pihak manajemen Bakso A Fung itu.
Arya menyebut manajemen gerai berlebihan dan tindakan mereka justru menyinggung masyarakat Bali. Ia bahkan sampai menyurati Pemerintah Daerah Bali untuk mempertanyakan perizinan usaha tersebut.
6. Diberhentikan sebagai Anggota DPD RI
Imbas kontroversi yang dituai Arya soal hijab pada 2023, ia kemudian mendapatkan sanksi dari Badan Kehormatan DPD berupa pemberhentian sebagai anggota DPD pada 2024. Saat itu, Arya diberhentikan setelah dinilai melanggar kode etik.Pemberhentian itu diresmikan melalui Keputusan Presiden Nomor 35/P Tahun 2024 yang dirilis pada Februari 2024. Ia kemudian diberhentikan sebagai anggota DPD, namun pada Pemilu 2024, ia kembali terpilih sebagai anggota DPD RI dan kini menjabat untuk periode 2024-2029.
7. Dugaan Intimidasi ke Perempuan Lombok
Meski sempat diberhentikan lantaran pelanggaran kode etik jabatan, Arya tetap menuai kontroversi ketika menjabat untuk periode 2024-2029. Pada Agustus 2026 lalu, ia diduga telah melakukan intimidasi terhadap perempuan Lombok bernama Hilda.Kala itu, Hilda tengah berpolemik dengan pemilik usaha Sintya Tailor di Bali. Perempuan asal Lombok itu sebenarnya merupakan klien penjahit tersebut, namun sekali waktu ia menerima ujaran rasisme dari pemilik usaha tersebut.
Kasus ini menjadi viral setelah rekaman video pemilik Sintya Tailor beredar di internet. Arya kemudian mengintervensi polemik ini, ia melakukan mediasi di antara para pihak terkait.
Mediasi itu berujung kesepakatan damai. Namun, dalam video pengumuman hasil mediasinya, Arya justru tampak mengintimidasi Hilda. Hal ini kemudian diprotes warganet dan berujung pada pelaporan Arya ke Badan Kehormatan DPD.
8. Hadiri Ajang Kecantikan Transpuan di Thailand
Tak lama setelah menuai kontroversi akibat intervensinya dalam polemik dugaan rasisme, Arya kemudian kembali memicu reaksi beragam dari warganet karena kehadirannya dalam ajang kecantikan transpuan di Thailand.Saat itu, ia kedapatan menghadiri Miss Equality World di Bangkok, Thailand. Hal ini kemudian memicu pro dan kontra terkait kepatutan pejabat publik dalam acara tersebut.
Arya kala itu membela diri dengan menyebut bahwa ia datang ke acara tersebut karena diundang oleh penyelenggara. Undangan itu juga memuat kesediaan Arya untuk menerima penghargaan Star Light atas kontribusinya dalam mempromosikan pariwisata Bali secara global.
9. Berselisih dengan Billy Syahputra
Awal Oktober 2026, Arya kembali menuai sorotan. Kali ini, sorotan itu datang karena polemik antara Arya dan pesohor Billy Syahputra.Perselisihan itu bermula ketika Billy Syahputra membagikan pengalamannya berlibur di Bali. Pesohor itu mengisahkan telah diperlakukan secara tidak menyenangkan oleh pengelola tempat wisata di kawasan Pantai Dreamland.
Ia menyebut sempat terlibat perselisihan dengan penjaga toilet ketika hendak memandikan anaknya yang baru bermain di pasir pantai. Polemik ini kemudian berakhir damai setelah kedua belah pihak sama-sama meminta maaf.
Namun, Arya kemudian mengeluarkan tanggapan atas peristiwa itu. Ia menyebut bahwa masyarakat Bali memang tidak membedakan perlakuan kepada turis yang datang, kendati ia adalah seorang artis.
“Orang Bali itu enggak pernah heran sama yang namanya artis,” katanya melalui media sosial.
Pernyataan itu kemudian menjadi polemik setelah Billy Syahputra turut membalas lewat video yang berbeda. Ia mempertanyakan mengapa seorang pejabat justru tertarik mengomentari hal macam itu.
10. Sebut Turis Asing Biasa Beri Tip Ketimbang Turis Lokal
Tak lama setelah polemiknya dengan Billy Syahputra, Arya kembali menuai kontroversi. Kali ini, ia menerima sorotan publik karena pernyataannya tentang stereotipe turis asing dan lokal.Hal ini berawal dari sebuah kasus dugaan diskriminasi yang diterima turis lokal di Bali. Turis tersebut membagikan kisahnya diperlakukan secara berbeda dari turis asing ketika berlibur di Bali.
Arya kemudian menanggapi polemik itu. Ia kemudian mengungkapkan pernyataan kontroversial yang justru tampak mengamini dugaan diskriminasi itu.
Dalam pernyataannya, Arya justru menyebut bahwa orang Bali memang “secara psikologis” lebih menyukai turis asing daripada lokal. Hal ini, katanya, diakibatkan karena turis asing kerap memberikan tip kepada pegawai pariwisata, sementara turis lokal tidak.
“Nah kalau bule-bule itu, mereka udah biasa memberikan tip. Mungkin itu penyebab secara psikologi, orang-orang lokal di Bali ini mungkin lebih exciting untuk melayani bule,” kata Arya.
Selain itu, Arya juga menyebut bahwa turis lokal tak jarang menawar harga. Hal ini katanya membuat pegawai bidang pariwisata di Bali lebih tertarik memberikan pelayanan lebih kepada turis asing.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































