Zoom Meroket, Skype Tenggelam: Apa Sebabnya?

Ilustrasi pertemuan virutal dengan aplikasi Zoom. FOTO/Zoom
Oleh: Ahmad Zaenudin - 31 Mei 2020
Dibaca Normal 2 menit
Zoom mengalahkan Skype di tengan pandemi COVID-19. Apa sebabnya?
Beberapa bulan setelah dilanda COVID-19 masyarakat dunia kini dihadapkan pada kelaziman baru alias "new normal". Dalam kelaziman baru itu, teknologi komunikasi tatap muka (video conferencing) pun mengemuka.

Alex Lee, dalam paparannya di Wired, menyebut bahwa teknologi komunikasi tatap muka terbaik di tengah pandemi saat ini ialah Zoom. Tulisnya, Zoom adalah “aplikasi untuk melakukan rapat terbaik dan efektif.” Senada, Geoffrey A. Flower, dalam tinjauannya untuk The Washington Post, juga merekomendasikan Zoom. Ia menyebut Zoom sebagai "aplikasi komunikasi video terbaik secara keseluruhan”.

Zoom, aplikasi komunikasi tatap-muka, didirikan pada 2011 oleh Eric Yuan, mantan teknisi Cisco. Sebelum Corona melanda dunia, Zoom adalah aplikasi biasa-biasa saja yang kurang terkenal. Tapi, tatkala pandemi melanda dan masyarakat terpaksa tinggal di rumah, Zoom mencuat. Sebagaimana dilaporkan The Verge, penggunaan Zoom melonjak pesat, dari 10 juta peserta rapat (tatap-muka) harian di bulan Desember 2019, menjadi 300 juta pengguna di bulan April kemarin.

Zoom mengalahkan pemain-pemain besar di dunia teknologi video conferencing, sebut saja Google Meet dan, yang paling mengherankan, Skype, aplikasi yang menyandang status “the verb of video conferencing”.

Skype memang sudah jadi kata kerja.

Satu Alasan Kegagalan Skype: Microsoft

“Ini pencapaian yang sangat luar biasa,” cetus Steve A. Ballmer, Chief Executive Officer Microsoft periode 2000-2014, mengomentari Skype, perusahaan video conferencing yang dibeli Microsoft di bawah kepemimpinannya, Mei 2012 silam.

Yang dimaksud Ballmer sebagai "luar biasa" adalah performa Skype yang menakjubkan. Ketika dibeli Microsoft, Skype adalah raja aplikasi video conferencing. Skype, sebagaimana dilaporkan Andrew Ross Sorkin untuk The New York Times, memiliki 107 juta pengguna per bulan, yang rata-rata menggunakan Skype untuk berkomunikasi tatap-muka selama 100 menit per bulan. Selain menyebut “luar biasa,” Ballmer menegaskan bahwa Skype adalah “verb” alias kata kerja yang lazim digunakan orang-orang untuk mendeskripsikan “sedang melakukan video conferencing”. Mirip-mirip “Googling”.


Karena SKype adalah kata kerja, Microsoft tak main-main menghargainya. Jika eBay membeli Skype senilai $2,6 miliar pada 2005, Microsoft merogoh tiga kali lipatnya: $8,5 miliar kontan untuk mengakuisisi Skype secara penuh pada 2011.

Marc Andreessen, salah satu pemodal Skype, menyatakan bahwa keputusan Microsoft membeli Skype, mungkin, dilakukan karena perusahaan yang didirikan Bill Gates dan Paul Allen itu menganggap bahwa Skype “sangat mungkin menghasilkan uang melimpah” bagi Microsoft.

Namun, masih dalam artikel yang sama, Sorkin menyebut Skype dibeli Microsoft karena Skype adalah raja komunikasi internet, baik untuk pengguna umum maupun korporat. Terlebih lagi, tidak seperti alat komunikasi konvensional, Skype yang dioperasikan dengan internet dapat dapat dipasang di perangkat apapun.

Di satu sisi, Skype adalah ancaman bagi operator telekomunikasi, yang pada dekade 2000-an dan awal 2010-an mengandalkan SMS dan telepon pulsa. Soal ancaman ini, Stephen Elop, yang masih berstatus CEO Nokia tatkala deal Skype-Microsoft diteken, menegaskan bahwa “operator selular sangat benci Skype”.

Di lain sisi, Skype adalah masa depan. Tentu, jika dikelola dengan baik. Sayangnya, Microsoft melakukan sebaliknya.

Nick Wingfield, dalam laporannya untuk The New York Times, menyebut banyak pihak takut Skype rusak ketika Microsoft mengumumkan hendak membeli aplikasi asal Estonia itu. Salah satu alasannya, Microsoft dapat memaksakan Skype menjadi aplikasi default alias langsung terpasang di Windows, sistem operasi milik Microsoft. Kala itu, Ballmer, bahkan seakan mengiyakan kekhawatiran itu. Sebutnya, “kami selalu ingin Skype menjadi yang pertama untuk Windows,” meskipun kemudian ia menyatakan bahwa Skype akan tetap dipertahankan menjadi aplikasi cross-platform yang dapat dipasang selain di Windows, yakni di macOS, Android, dan iOS.

Seiring waktu, Skype memang masih tetap cross-platform. Sayangnya, Skype kini menjadi aplikasi default atau pre-installed di Windows. Bagi pengguna Skype, ini memang tidak mengganggu. Namun, aplikasi pre-installed, yang kerap pula disebut bloatware lebih sering dibenci. Dalam kasus perangkat komputer, dikutip dari How To Geek, sebanyak tujuh laptop uji coba yang menggunakan Windows 7 tanpa bloatware terpasang, memiliki peningkatan kecepatan hingga 40 persen, saat laptop tersebut pertama dihidupkan.




Secara sederhana, bloatware mengganggu penggunaan suatu perangkat.

Menjadikan Skype sebagai aplikasi pre-installed di Windows memang bermasalah. Menihilkan independensi pemilik komputer tentang aplikasi apa saja yang dipasang. Namun, yang lebih merusak Skype ialah usaha Microsoft mengubah Skype menjadi media sosial.

Dalam laporannya untuk The Verge, Tom Warren menyatakan bahwa dalam genggaman Microsoft, Skype seperti aplikasi yang kehilangan jati diri. Di satu titik, Skype pernah memiliki fitur “find”, “chat”, dan “capture”. Fitur-fitur yang seakan ingin menggabungkan kekuatan Youtube, Giphy, WhatsApp, hingga Snapchat sekaligus. Di sisi lain, David Pierce, dalam komentarnya di Wired, menyebut bahwa fitur dasar Skype, video conferencing, tidak berubah alias tidak mengalami peningkatan. Skype kini berubah menjadi “antarmuka yang jelek dan membingungkan”.

Tatkala dunia membutuhkan aplikasi video conferencing untuk hidup berdampingan dengan Corona, Zoom mencuat. Skype, si kata kerja, terlupakan.

Baca juga artikel terkait ZOOM atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight