Advertorial

Vivo V15 &Jalan Lempang Menuju Fotografi Smartphone yang Sempurna

Oleh: Advertorial - 17 Maret 2019
Dibaca Normal 2 menit
Perlu seekor kuda untuk mengangkut kamera pada abad ke-19
tirto.id - Suatu hari di tahun 1878, George Eastman, seorang pegawai bank di Amerika, hendak mengunjungi ibukota Republik Dominika, Santo Domingo. Berada di wilayah perairan Karibia, lanskap Santo Domingo memancarkan perpaduan nuansa peradaban kuno dan peradaban Latin modern. Maka, demi mengabadikan perjalanan ke kota eksotis di Benua Merah tersebut, Eastman pun membawa seperangkat alat fotografi: kamera seukuran microwave, tripod besar, plat kaca untuk memproses emulsi fotografis, serta sejumlah bahan kimia.

Perlu seekor kuda untuk mengangkut semua itu,” komentar Ahmad Zaenudin dalam tulisannya mengenai kisah hidup Eastman di Tirto.

Di awal abad ke-19, kamera bukanlah barang murah dan praktis. Untuk keperluan mengunjungi Santo Domingo saja, misalnya, di luar urusan cetak foto, Eastman butuh biaya kurang lebih 118,7 dolar AS saat ini. Bayangkan, apa artinya pelesiran bila untuk sekadar mengabadikan momen saja kita perlu berpayah-payah seperti Eastman?

Namun demikianlah dunia berkembang: temuan demi temuan, juga inovasi demi inovasi, kerap muncul dari masalah dan keruwetan. Dalam kasus Eastman, pengalaman berabe mengangkut peralatan fotografi membuahkan The Kodak di kemudian hari. Tonggak awal kamera modern.

Pada 1899, atau 15 tahun setelah The Kodak ditemukan, tercatat ada 1,5 jumlah roll film yang dihasilkan para fotografer amatiran. Sedangkan saat ini, saat dimana telepon pintar menjadi—meminjam ungkapan tokoh fotografi Annie Leibovitz—“kamera bidik zaman ini”, jumlah foto yang dihasilkan perangkat tersebut terbilang mencengangkan.

Sebagai gambaran, Business Insider menyebut pada 2013 ada 660 miliar foto yang dibuat orang-orang sedunia. Pada 2017, angka tersebut meningkat menjadi 1,2 triliun foto. Menariknya, 85 persen dari jumlah tersebut diambil lewat telepon pintar, bukan lewat kamera digital konvensional—perangkat tersebut hanya menyumbang 10,3 persen dari total foto yang diciptakan manusia.

Terkait itu, dalam tulisannya yang lain, Ahmad Zaenudin menyebut zaman now sebagai zaman paling massif dalam urusan produksi foto. “Hari ini, masyarakat dunia menciptakan foto melebihi masa-masa mana pun dalam rentang sejarah modern manusia,” katanya.

Eastman dihormati lantaran temuannya memudahkan akses masyarakat terhadap kamera. Dan tak kalah revolusioner dari itu, ponsel pintar membuat setiap orang bisa menjadi juru potret.Hari ini, tanpa investasi yang besar, setiap orang dapat memasuki dunia fotografi,” kata Leibovitz.

Tahun lalu, dalam artikelnya di Techradar, James Abbott, kolumnis teknologi, menyebut akhir-akhir ini teknologi kamera smartphone telah meloncat menggapai kesempurnaan. Menurutnya, “jika prestasi ini bisa dipertahankan, katakanlah 10 tahun ke depan, kamera smartphone diprediksi akan memiliki kemampuan setara dengan kamera profesional high-end hari ini.

Sekarang, Anda boleh percaya: inovasi yang dilakukan Vivo lewat V15 membukakan jalan lempang ke arah sana.

Infografik Advertorial Vivo V15
Infografik Advertorial Vivo V15


Pionir dan Unggul

Vivo V15 dengan 32MP Pop Up Camera menempatkan teknologi fotografi sebagai komponen unggulannya. Bagi penikmat selfie, keberadaan kamera depan 32MP tidak hanya memberikan hasil memuaskan namun juga memberikan pengalaman unik dan berbeda: kamera depannya “tersembunyi’ dan dengan kecepatan 0,46 detik hanya akan muncul di sisi kanan atas (Pop-Up) saat pengguna melakukan selfie.

Pengguna mungkin khawatir keberadaan kamera naik-turun itu justru akan membuat perangkat cepat rusak. Namun Vivo meyakinkan bahwa setelah melewati uji ketahanan ribuan kali, kamera inovatif tersebut bisa digunakan hingga lebih dari 50 ribu kali.

“Kami selalu memberikan kejutan dan 32MP Pop Up Camera adalah pionir di Indonesia," kata Edy Kusuma, General Manager for Brand and Activation Vivo Mobile Indonesia.

Selain hadir sebagai gawai pertama yang mengusung Pop Up Camera 32MP, V15 juga tercatat sebagai pionir Triple Rear Camera di Indonesia. Hal demikian menunjukkan bahwa setelah meluncurkan V9 pada akhir 2017 lalu—produk V-Series yang menghadirkan Dual Rear Camera pertama di Tanah Air—inovasi Vivo tak kunjung berhenti. Terlebih, tiga kamera belakang tersebut juga dilengkapi dengan 12MP dengan 24 juta Photosensitive, sensor ultra lebar 8MP (AI Super Wide-Angle) dan sensor kedalaman 5MP (depth camera) yang berfungsi menimbulkan efek bokeh—fenomena optik di mana unsur titik bercahaya yang berada di luar area fokus membentuk lingkaran kurang jelas (blur) namun menarik perhatian dalam foto.

Selain 32MP Pop Up Camera dan Triple Rear Camera, fitur lain yang membuat V15 pionir dan unggul adalah bentang layar yang lega—Ultimate All Screen. Tanpa “poni” atau notch, rasio screen to body perangkat ini mencapai 90,95%. Dengan ukuran 6,53 inci dan resolusi 1.080 x 2.340 FHD+, terang saja pengalaman bermain smartphone jadi lebih hidup dan menyenangkan.

Sejak berdiri pada 2009, Vivo berkomitmen untuk menjadi produsen telepon pintar yang peduli pada teknologi, tren, dan gaya hidup penggunanya. Kehadiran V15 adalah jawaban atas kebutuhan pengguna smartphone masa kini.

Informasi lebih lengkap mengenai V15 sila kunjungi tautan ini.