Vine Mati di Tangan Twitter

Reporter: Aulia Adam, tirto.id - 28 Okt 2016 17:00 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Saat Vine dibeli trio penciptanya—Yusupov, Kroll, dan Hofmann—Twitter harus merogoh kocek sampai $ 30 juta. Kini, aplikasi yang jadi kandang orang kreatif itu, ditutup karena tak menghasilkan duit.
tirto.id - Akun @Splack_19 mencuit dini hari tadi. Katanya, “Vine mati tepat saat sedikit lagi followers-ku hampir sejuta. Semua kerja keras yang kulakukan… smh! Ya, mungkin saatnya mulai lagi di tempat yang lain.”

Kekecewaan kentara di kicauan itu. Ia memang telah memiliki 926,7 ribuan pengikut di Vine, aplikasi di mana orang-orang dapat membagikan video lucu buatannya dalam format enam detik. Mendapat pengikut sebanyak itu tentu bukan kerja satu malam.

Shawn Mendes, salah satu biduan pop paling tenar di dekade ini juga merasakan yang dikicaukan @Splack_19. Melalui akun twitter manajemennya, Shawn mengunggah kembali ucapan terima kasihnya karena mendapat 1 juta followers di Vine pada 31 Desember 2013 lalu.


Total, setidaknya ada 1,97 juta kicauan di Twitter yang membahas Vine dini hari tadi.

Melalui medium.com, Vine mengumumkan resmi tak lagi melanjutkan aplikasi itu. Sekaligus mengunci tombol unggah Vine. Sehingga per tanggal 27 Oktober, tak akan ada lagi yang bisa mengunggah video enam detiknya di Vine. Pengumuman ini yang kemudian mendapat respon “disayangkan” dari para netizen.

Kandas di Tangan Twitter

Juni 2012, tiga orang New York memulai start up digital mereka. Pada masa itu, aplikasi video tengah marak dijual di appstore dan google playstore. Seperti Socialcam, Vyclone, Viddy, Keek, dan Tout. Tapi tak menciutkan nyali ketiga pria itu: Dominik Hofmann, Collin Kroll, dan Rus Yusupov. Mereka yakin, aplikasi video yang akan mereka rintis berbeda, unik, dan akan meledak di pasar.

Tebakan mereka tak meleset jauh. Seperti ditulis NPR dan Adweek.com, Vine pada masanya berhasil menembus 200 juta pengguna per bulan, 100 juta penonton per bulan, dan 1,5 miliar video yang diunggah ke sana. Aplikasi video satu itu memang berbeda.

Vine memberikan layanan video yang bisa merekam sepotong-potong, saat aplikasi video lain hanya memberikan ponsel pintar Anda kemampuan merekam satu adegan tanpa terputus. Belum lagi ia hanya mengizinkan penggunanya mengunggah video paling lama berdurasi enam detik.

Ide itu ternyata kelak disambut baik netizen. Kebanyakan pengguna Vine adalah mereka yang kreatif dan humoris, karena harus menguras otak membuat video enam detik yang menarik. Hasilnya tak mengecewakan. Banyak Viner, sebutan untuk pengguna Vine, yang berhasil meraup ketenaran dan duit dari sana. Salah satunya, King Bach, selebriti media sosial yang terkenal sebagai editor video andal. Sampai Mei lalu, ia jadi Viner dengan pengikut terbanyak, menembus angka 15 juta.


Twitter cepat menangkap potensi Vine. Cuma selisih empat bulan, pada Oktober 2012 mereka langsung mengakuisisi Vine dari para penciptanya seharga $ 30 juta. Lalu, dirilis ke publik pada Januari 2013.

Tak dinyana, umur Vine rupanya pendek. Meski pernah jadi aplikasi paling banyak diunduh pada April 2013, masuk dalam daftar 50 aplikasi terbaik 2013 versi Time, dan aplikasi video paling laku di pasaran, Vine hanya bertahan tiga tahun. Vine ditutup Twitter di bulan yang sama saat ia dibeli dari tiga New Yorker.

Infografik Vine


Masalah utamanya, para pengguna Vine berpaling pada aplikasi video lainnya. Ia dibantai Instagram, Facebook, dan Youtube yang nyatanya jauh lebih menarik di mata netizen dan pengiklan. Tubular Lab dikutip Adweek.com, melakukan riset tentang keempat aplikasi video itu Desember tahun lalu.

Hasilnya, Vine berada di posisi paling buntut. Dari 2500 video yang diunggah Youtube, Facebook, Instagram, dan Vine antara September sampai November 2015, Vine hanya meraup empat persen atau hanya 13 pengiklan dari total 40 jenama besar yang dilibatkan riset ini. Angka ini turun dari dari 21 pengiklan yang tertarik pada Vine di awal 2015.

Youtube nyatanya menjadi raja di belantara aplikasi video. Sebanyak 65 persen pengiklan percaya pada aplikasi ini. Sementara Facebook berada di posisi kedua dengan total 24 persen, dan Instagram di posisi ketiga dengan angka 8 persen.

Salah satu faktor ditutupnya Vine yang terlihat jelas adalah kegoyahan finansial yang dialami Twitter saat ini. Seperti yang dilaporkan The New York Times, setelah melakukan PHK besar-besaran mengurangi 9 persen pekerjanya di seluruh dunia atau sebanyak 350 posisi, ditutupnya Vine dilakukan karena aplikasi ini tak menghasilkan duit.

Dalam rilisnya, Vine memang tak sebut akan tutup sampai kapan, “Di sini kami ingin bilang, kalau aplikasi ini dalam bulan-bulan mendatang tak lagi kami lanjutkan.” Tapi mereka berjanji akan ada yang selanjutnya dari mereka. Dan tak menghapus Vine, alih-alih membiarkan situs dn aplikasinya tetap ada agar bisa ditonton dan dikenang.

Tapi, tak ada yang tahu sampai kapan “bulan-bulan mendatang” yang dituliskan Tim Vine dan Twitter itu.

Baca juga artikel terkait VINE atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Aulia Adam
Penulis: Aulia Adam
Editor: Maulida Sri Handayani

DarkLight