Video Gim dan Kemampuannya Pengaruhi Karakter Snowden

Penulis: Artika Sari, tirto.id - 18 Des 2018 14:15 WIB
Dibaca Normal 1 menit
“Cara terbaik untuk mengamati bagaimana sebuah gim merepresentasikan kebaikan dan kejahatan adalah dengan memainkannya sendiri."
tirto.id -
Sejumlah pihak menyatakan penolakannya terhadap Edward Snowden pasca dirinya membocorkan sejumlah dokumen NSA (Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat) pada 2013 silam.

Akun dengan nama MC OverPressure pun menulis reaksi serupa. Menurutnya, sudah seharusnya NSA diisi orang-orang yang sanggup menjaga rahasia negara dan Snowden memang tak pantas berada di sana.

Snowden sendiri dalam wawancaranya bersama mantan jurnalis The Guardian Glenn Greenwald mengakui kegemarannya bermain gim berimbas pada pilihannya untuk melakukan tindakan pembocoran tersebut.

Menurutnya, video gim adalah representasi dari ketidakadilan yang serius, sementara dirinya sedang berada dalam pusaran ketidakadilan itu saat bekerja di NSA.

Snowden mengaku, video gim mendorongnya untuk berpihak pada masyarakat yang tidak tahu bahwa mereka sedang diawasi pemerintah.

Snowden tentu bukan satu-satunya yang merasakan bagaimana gim berpengaruh dalam membentuk moral individu.

Menurut Jamie Madigan dalam The Psychology of Video Games menyatakan, semula ada lima faktor yang menjadi pertimbangan para pemain jika dihadapkan pada pilihan moral dalam suatu gim.

Lima faktor tersebut meliputi kepedulian, keadilan, loyalitas, otoritas, serta ketulusan. Akan tetapi, lima faktor tersebut kini tidak sepenuhnya bisa menjadi acuan. Ini lantaran sebagian orang memiliki kecenderungan untuk memilih atas satu atau dua faktor saja.

“Ada pemain yang membuat karakternya memilih anggota keluarga daripada masyarakat. Beberapa orang menganggap pilihan ini tidak bermoral, padahal si pemain memilih atas alasan loyalitas semata,” kata profesor psikologi dari University of Missouri ini.

“Dan memiliki kecenderungan pada salah satu faktor tidak berarti orang itu rendah dalam faktor-faktor lain,” tambahnya.

Madigan juga menjelaskan, gim bukanlah standar moral di mana kelima faktor tersebut bisa diaplikasikan dalam realita. Ini karena setiap dimensi dalam gim dirancang untuk mengutamakan salah satu faktor saja.

Dari hasil penelitiannya, keadilan menjadi alasan yang paling banyak mendasari para pemain dalam menentukan pilihan moral. Para pemain cenderung melihat siapa yang bisa mereka kalahkan melalui pilihan tersebut. Saat produsen membentuk pilihan yang sulit dan memaksa para pemain untuk menghadapi dilema moral, mereka juga akan cenderung memilih yang terpenting bagi diri mereka.

Kendati demikian, gim berimbas besar dalam membangkitkan kesadaran individu. Dalam jurnal Making Moral Choices in Video Games terbitan Baylor University, J. Cameron Moore mengungkapkan bahwa gim cenderung mendorong para pemain untuk menjadi baik dengan mengutamakan loyalitas serta pengorbanan.

Tidak jarang dalam mencari kebaikan ini, gim tak hanya mengasah moral, namun juga kecerdasan mereka. Cara mereka menjatuhkan pilihan akan membentuk pola dalam menganalisis situasi, mengevaluasi segala aspek, dan bagaimana membuat keputusan di dunia nyata.

Proses inilah yang dialami Snowden sebelum namanya masuk dalam daftar buronan pemerintah Amerika Serikat.

“Cara terbaik untuk mengamati bagaimana sebuah gim merepresentasikan kebaikan dan kejahatan adalah dengan memainkannya sendiri," tandasnya.

Ia juga menyarankan, jika Anda ingin mengevaluasi gim tersebut untuk anak-anak, cobalah mengambil pilihan-pilihan terjahat dan lihat apa yang akan terjadi di dunia itu. Misalnya, jika karakter Anda menyerang karakter-karakter tak bersalah lainnya, apakah dia akan dipenjara, mendapat sanksi sosial, atau justru mendapat hadiah? Apakah pilihan moral yang ditawarkan membawa dampak yang signifikan? Apakah akan membawa akhir yang sama?

"Gim itu dibentuk tidak hanya sebagai permainan namun juga membawa perkembangan dalam gaya bercerita serta pemecahan masalah,” tulis Moore.

Baca juga artikel terkait VIDEO GAME atau tulisan menarik lainnya Artika Sari
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Artika Sari
Editor: Yulaika Ramadhani

DarkLight