tirto.id - Halal bihalal merupakan tradisi khas masyarakat Indonesia yang biasanya diadakan setelah Hari Raya Idul Fitri. Bagaimana penulisan halal bihalal yang benar? Halal bihalal atau halalbihalal? Apa artinya dalam bahasa Arab?
Halal bihalal menjadi momen berharga untuk mempererat tali silaturahmi antara keluarga, teman, maupun rekan kerja. Dalam suasana yang penuh kehangatan dan kebersamaan, halal bihalal adalah kesempatan untuk saling bermaafan, berbagi cerita, serta mengenang masa lalu.
Selain itu, tradisi ini juga identik dengan kegiatan makan dan doa bersama. Lalu semakin memperkuat rasa kebersamaan serta menambah kekhidmatan acara.
Istilah halal bihalal telah lama digunakan untuk menggambarkan tradisi saling memaafkan dan menjalin silaturahmi setelah Idul Fitri. Bagaimana penulisan halal bihalal menurut KBBI?
Penulisan Halal Bihalal yang Benar
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), penulisan halal bihalal yang benar adalah halalbihalal. Istilah ini ditulis serangkai tanpa spasi.
Penulisan mengikuti Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Isinya menyatakan bahwa gabungan kata yang telah padu dan memiliki makna khusus harus ditulis serangkai.
Oleh karena itu, bentuk halalbihalal adalah versi yang benar secara tata bahasa dan makna. Dua bentuk lainnya—halal bihalal dan halal bi halal—dianggap tidak baku dalam penulisan formal.
Arti halalbihalal sendiri memiliki makna penting dalam budaya Indonesia. Menurut KBBI, istilah ini merujuk pada kegiatan saling memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa bulan Ramadhan. Acara biasa dilakukan dalam pertemuan khusus di tempat seperti aula atau masjid.
Selain itu, halalbihalal juga menjadi ajang silaturahmi. Tradisi ini menjadi ciri khas Indonesia.
Arti Halal Bihalal yang Benar dalam Bahasa Arab dan Maknanya
Halalbihalal dalam bahasa Arab berasal dari kata "halal" yang memiliki beberapa makna. Semisal حَلَّ الحَبْلَ (halla al-habl) yang berarti mengurai benang kusut.
Arti halalbihalal berikutnya adalah حَلَّ الماءَ (halla al-maa) yang berarti menjernihkan air. Kemudian حَلَّ الشَّيْءَ (halla as-syai') yang berarti menjadikan sesuatu halal.
Makna-makna tersebut menggambarkan esensi halalbihalal, yaitu sebuah tradisi yang bertujuan untuk menyelesaikan kesalahpahaman, menghapus kebencian, serta memperbaiki hubungan yang renggang melalui saling memaafkan.
Dalam konteks sosial dan keagamaan, halalbihalal menjadi ajang silaturahmi yang mempererat hubungan antarindividu dengan cara saling memaafkan.
Tradisi yang sama mencerminkan nilai-nilai Islam, yakni menekankan pentingnya rekonsiliasi, pembersihan hati, serta menciptakan keharmonisan dalam masyarakat.
Dengan mempraktikkan halalbihalal, seseorang tidak hanya membebaskan diri dari kesalahan masa lalu, tetapi juga menjalankan ajaran Al-Qur'an yang menuntut umat untuk tidak hanya memaafkan, tetapi juga berbuat baik kepada orang lain.
Kegiatan Halal Bihalal
Sebagai bagian dari tradisi yang sarat makna, halalbihalal tidak hanya sekadar seremoni, tetapi juga mencakup berbagai kegiatan yang memperkuat hubungan sosial dan spiritual.
Berbagai aktivitas dalam halalbihalal bertujuan menciptakan suasana yang lebih harmonis, mengokohkan persaudaraan, serta mempererat hubungan antara keluarga, teman, dan kolega.
Berikut adalah beberapa kegiatan yang biasa dilakukan saat halalbihalal:
- Bermaaf-maafan: Saling memohon dan memberi maaf atas kesalahan yang telah terjadi, baik secara sengaja maupun tidak.
- Makan bersama: Menikmati hidangan khas lebaran bersama keluarga, teman, atau tetangga.
- Berdoa bersama: Mengadakan doa bersama untuk memohon keberkahan, keselamatan, dan kebahagiaan setelah bulan Ramadhan.
- Nostalgia dan silaturahmi: Menjadi ajang berkumpul dengan keluarga besar atau teman lama, mengenang masa lalu, dan mempererat hubungan.
- Suasana kekeluargaan yang hangat: Halalbihalal menciptakan momen kebersamaan yang penuh kehangatan dan rasa persaudaraan.
Penulis: Astam Mulyana
Editor: Beni Jo