Tren Jenggot: Sejak Masa Purbakala hingga Zaman Hipster

Wak Doyok. Instagram/@wakdoyok
Oleh: Patresia Kirnandita - 21 Januari 2018
Dibaca Normal 3 menit
Jenggot pernah dianggap sebagai tanda kehormatan dan kebijaksanaan pada era Yunani Kuno dan peradaban Mesopotamia.
Yudha (28) baru saja mengoleskan krim penumbuh jenggot Wak Doyok ke sekitar rahang dan bawah hidungnya. Produk yang satu ini cukup populer di kalangan laki-laki masa kini. Sebagian dari mereka menganggap bahwa memiliki jenggot dan kumis adalah suatu nilai tambah.

“Laki-laki kumisan dan jenggotan keliatan lebih ganteng,” cerita Yudha, “Teman gue pernah pakai krim yang gue pakai sekarang ini dan memang berhasil di dia. Karena itu, gue menjajal pakai krim yang sama dengan dia sejak bulan puasa 2017.” Sebelumnya, Yudha pernah memakai penumbuh jenggot lain semasa SMA, tetapi hasilnya nihil.


Asosiasi positif mengenai jenggot tak hanya ada di benak Yudha. Jauh sejak era Yunani Kuno, jenggot dipandang sebagai tanda kehormatan. Pemotongan jenggot kala itu merupakan suatu bentuk hukuman terhadap laki-laki. Sedangkan di Turki dan India, jenggot panjang melambangkan kebijaksanaan dan martabat tinggi.

Orang-orang pada masa peradaban Mesopotamia pun senang merawat jenggotnya. Tidak hanya mengolesinya dengan minyak, para laki-laki di sana menata jenggotnya dengan alat pengeriting dan mengecatnya dengan warna hitam. Lain dengan orang Persia yang lebih suka mewarnai jenggotnya jingga kemerahan.

Dalam dokumentasi-dokumentasi sejarah Mesir, para Firaun kerap digambarkan berjenggot. Dikutip The Telegraph, rambut yang tumbuh di dagu mereka ini rupanya bukanlah rambut yang tumbuh secara alami. Jenggot mereka adalah jenggot palsu dengan desain melengkung ke luar pada bagian ujungnya.

Jenggot palsu ini juga dikenakan para pendeta pada era Mesir Kuno untuk kepentingan seremonial. Bagi laki-laki di luar kelompok pendeta, penggunaan jenggot palsu merupakan penanda bahwa mereka adalah pengikut Dewa Osiris.

Tidak hanya ketika hidup orang-orang Mesir Kuno membubuhi dagunya dengan janggut palsu. Di British Museum di London pun terdapat peti mumi kecil berisi figur anak-anak yang berjenggot.


Dari daratan Skandinavia, salah satu kelompok masyarakat yang diidentikkan dengan jenggot tebal ialah Viking. Berbagai stereotip tentang mereka berkembang, beberapa di antaranya ialah laki-laki Viking yang liar dan tidak pernah merawat tubuh. Namun, Louise Kæmpe Henriksen, kurator di Viking Ship Museum di Roskilde, Denmark, justru menemukan fakta berbeda.

Dalam Sciencenordic.com, ia mengatakan bahwa ada bukti-bukti sejarah yang menunjukkan laki-laki Viking merawat jenggot dan rambutnya: mereka memiliki poni panjang dan rambut pendek pada bagian belakang kepala, serta jenggot yang tertata rapi, baik panjang maupun pendek. Rambut di sekitar leher pun tercukur rapi.

Bukti sejarah pertama berbentuk ukiran kepala laki-laki Viking yang ditemukan di Norwegia. Laki-laki tersebut tampak memiliki kumis dan jenggot panjang tercukur rapi, tidak tumbuh liar di pipi. Sementara, bukti visual kedua ditemukan dalam surat berbahasa Inggris kuno yang menerangkan gaya orang Denmark yang matanya tertutup—dikarenakan poni panjang—dan rambut leher tercukur bersih.

Pada era-era berikutnya, tren menumbuhkan jenggot timbul tenggelam. Dalam artikel berjudul “Here Are the Most Popular Beard Styles Over the Past 16 Decades” yang dirilis Mic tercatat bahwa pada 1850-an, gaya klimis dan elegan sempat naik daun.

Tiga dekade kemudian, kembali para laki-laki menumbuhkan jenggot sebagai bagian dari fashion. Beralih ke abad ke-20, tren laki-laki berjenggot kembali muncul pada dekade 1940-1950-an dengan gaya goatee. Popularitas goatee membubung seiring munculnya gerakan seperti beatnik dan penampilan-penampilan musisi jazz dekade 40-an, termasuk Dizzy Gillespie.

Pada dekade 1960-an, tren menumbuhkan jenggot berasosiasi dengan sikap membangkang dan kreativitas. Tidak hanya jenggot rapi saja yang digandrungi kala itu, tetapi juga jenggot yang tumbuh liar. Kebanyakan laki-laki yang menumbuhkan jenggot kala itu merupakan penulis, pembuat film, dan kelompok-kelompok revolusioner. Sedasawarsa kemudian, tren jenggot terus berlangsung, salah satunya akibat pengaruh dari The Beatles dan Bee Gees.

Fashion berputar bak roda. Dekade demi dekade bergulir, tetapi tidak berarti hal yang sempat digemari pada masa lampau raib begitu saja di kemudian hari. Gaya berbusana jadul sempat menjadi tren kembali selepas dekade pertama abad ke-21. Seiring dengan itu, gaya berpenampilan laki-laki pun bergeser. Sebagian dari mereka—yang kerap disebut kaum hipster—menggandrungi kembali jenggot dan kumis, malah ada yang memilih membiarkannya tumbuh liar dan tebal seperti era 1960-an.


Jika kebanyakan catatan tentang jenggot menyoroti laki-laki, lain cerita dengan tulisan yang dimuat di Texas Monthly. Dalam sebuah artikel di situs tersebut, diceritakan ada perempuan-perempuan AS yang menumbuhkan jenggot. Amber Moore, perempuan 44 tahun dari South Austin, misalnya, tertarik memiliki jenggot sejak ia berumur 5 dan melihat rambut-rambut yang tumbuh di wajah pacar ibunya. Kegemarannya akan jenggot ini mendorongnya untuk mencari jenggot sintetis dan lantas dikenakannya dalam berbagai acara publik.

Pada tahun 2007, Austin Facial Hair Club berdiri. Kelompok ini tidak hanya ditujukan bagi laki-laki, tetapi juga perempuan yang memiliki, ingin memiliki jenggot, atau yang sekadar senang dengan rambut-rambut pada wajah. Salah satu subkelompok Austin Facial Hair Club bernama Whiskerina. Di sinilah Moore tergabung bersama sejumlah perempuan lain yang berusaha menentang dominasi jenggot oleh para laki-laki.


Jenggot dari Kacamata Evolusi

Selain dari aspek budaya, penumbuhan jenggot juga dapat ditelisik dari aspek evolusi. Menurut Profesor Rob Brooks, biolog evolusi dari University of New South Wales, laki-laki menumbuhkan jenggot untuk kepentingan perkembangbiakan.

Jenggot dianggap menjadi daya tarik bagi perempuan sehingga kemungkinan laki-laki bisa kawin dan bereproduksi lebih besar. Selain itu, jenggot juga menjadi poin plus bagi seorang laki-laki saat berkompetisi dengan laki-laki lain untuk mendapat pasangan.

Manusia, seperti halnya primata lain, merupakan makhluk visual yang menaruh fokus pada penampilan, termasuk jenggot. Rambut-rambut pada tubuh manusia dikatakan sebagai penanda visual yang telah ada sejak lama dan melekat erat dalam kehidupannya dan terkait dengan perkara perkembangbiakan.

Anggapan bahwa jenggot merupakan daya tarik bagi lawan jenis diperteguh dengan temuan dari studi yang dimuat di Archives of Sexual Behaviour tahun 2015. Di sana dikatakan, responden perempuan menganggap laki-laki berjenggot lebih atraktif dari laki-laki bercukur bersih.

Pemeliharaan jenggot disebut-sebut telah dipraktikkan manusia sejak purbakala. Penulis Before the Dawn: Recovering the Lost History of Our Ancestors (2006), Nicholas Wade, mengutip sebuah studi yang membandingkan mutasi gen terkait pertumbuhan rambut manusia dan simpanse. Pada simpanse, kerontokan dan pergantian rambut baru lebih cepat, sementara manusia membutuhkan waktu lebih lama.

Inilah yang mendorong manusia untuk melakukan penataan rambut, termasuk jenggot—meski bukan seperti yang ditemukan pada era modern. Para antropolog melihat, seperti halnya membuat api untuk memasak, urusan penataan rambut adalah hal yang universal bagi manusia.

Baca juga artikel terkait JENGGOT atau tulisan menarik lainnya Patresia Kirnandita
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Patresia Kirnandita
Penulis: Patresia Kirnandita
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight