Menuju konten utama

"To Kill a Mockingbird" yang Tak akan Mati

To Kill a Mockingbird telah terjual lebih dari 40 juta copy dan menjadi salah satu buku yang paling berpengaruh. Karya Harper Lee ini juga menjadi buku paling banyak diajarkan di berbagai sekolah di Amerika. Mockingbird mengungguli karya-karya fiksi dari Mark Twain, Shakespeare, atau John Steinbeck. Pengaruh Mockingbird di Amerika luar biasa tetapi pergulatan melawan ketidakadilan rasial masih terus terjadi di sana.

Penulis buku To Kill A Mockingbird, Harper Lee. FOTO/REUTERS

tirto.id - Harper Lee akhirnya berpulang pada 19 Februari 2016 lalu di usia 89, dua bulan setelah Natal terakhirnya. Natal adalah momen yang selalu punya makna penting baginya. Bukan hanya karena momen itu menyisakan kebahagiaan masa kecil di Alabama yang selalu dirindukan, tapi juga karena pada satu Natal di Manhattan, Lee mendapat kado terbaik dalam hidupnya

“Kau punya waktu setahun cuti dari pekerjaanmu untuk menulis apapun yang kau mau. Selamat Natal,” demikian isi tulisan dalam amplop yang terpajang di pohon Natal.

Kado spesial itu dihadiahkan sepasang teman dekatnya selama di New York. Dalam esai “Christmas To Me” yang pertama kali dimuat di majalah McCall edisi 1961, Lee menceritakan kisah ini dengan sangat manis.

Lee terkejut, hampir tak percaya. Namun keduanya bilang hadiah ini sungguhan, sama sekali bukan lelucon. Tahun ini mereka sejahtera, punya banyak tabungan, dan berpikir sudah waktunya mereka berbuat sesuatu untuk Lee. Pasangan itu ingin menunjukkan keyakinan mereka pada Lee dengan cara terbaik yang mereka tahu. Mereka ingin Lee menerima hadiah ini, agar bisa mengembangkan kemampuan menulisnya tanpa diganggu pekerjaan rutin.

"Ini perjudian besar," bisik Lee. Ia khawatir, bagaimana jika dalam setahun itu ada hal buruk terjadi pada anak-anak pasangan itu. Mereka tentu akan membutuhkan uang jika hal darurat terjadi. "Terlalu berisiko."

"Tidak, sayang. Ini bukan risiko. Ini sesuatu yang pasti," kata temannya. Mereka meyakinkan Lee bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Siapa pasangan baik hati itu baru terungkap dengan terang berpuluh tahun kemudian. Dari buku Mockingbird: a Portrait of Harper Lee (2006), buku biografi tak resmi Lee karya Charles J. Shields, diketahui bahwa mereka adalah Michael Brown dan Joy Williams Brown. Kebenarannya baru dikonfirmasi pada 2012, ketika keluarga Brown bersedia memberi pernyataan dalam dokumenter Harper Lee: Hey, Boo besutan sutradara Mary Murphy.

Jasa besar pasangan Brown sangat penting artinya bagi Lee. Atas kemurahan hati mereka, yang memberi dukungan finansial untuk Lee pada 1956 itu, Lee punya keleluasaan menulis To Kill a Mockingbird. Novel itulah yang di kemudian hari mendapat sambutan luar biasa dari publik Amerika—juga dunia, dan punya arti penting pula dalam perjuangan melawan rasisme.

Pengaruh Besar Mockingbird

To Kill a Mockingbird berkisah tentang seorang gadis bernama Scout Finch dan ayahnya, Atticus, seorang pengacara yang membela pemuda kulit hitam yang dituduh memperkosa perempuan kulit putih. Novel ini memotret ketidakadilan rasial di kota kecil Alabama pada 1930-an. Pada masa itu, rasisme masih begitu mengakar di berbagai tempat di Amerika, terutama di pedesaan-pedesaan di wilayah selatan.

Pertama kali terbit pada tahun 1960, tahun berikutnya Mockingbird memenangkan Hadiah Pulitzer untuk kategori fiksi. Sampai saat ini, novel ini telah terjual lebih dari 40 juta kopi dan menjadi salah satu buku yang paling berpengaruh dan paling banyak diajarkan di berbagai sekolah di Amerika.

Fordham Institute, sebuah think tank kebijakan pendidikan, pada 2012 melakukan survei terhadap 484 guru Bahasa Inggris di sekolah menengah, tentang judul-judul buku yang diajarkan. Hasilnya menunjukkan Mockingbird dipakai oleh 35 persen guru kelas 1 dan 2 SMA sebagai bahan ajar. Mockingbird mengungguli karya-karya fiksi dari Mark Twain, Shakespeare, atau John Steinbeck. Satu-satunya bahan bacaan di atas Mockhingbird adalah pidato “I Have A Dream” dari Martin Luther King Jr—yang diajarkan oleh 38 persen guru.

Novel ini juga banyak dipelajari di kampus-kampus. Menurut Open Syllabus Project, yang memeriksa lebih dari satu juta silabus perguruan tinggi dan melacak buku apa saja yang terdaftar di sana, Mockingbird dijadikan materi tugas sebanyak 633 kali dan berada di peringkat 255 buku fiksi yang paling sering dijadikan tugas kuliah. Mockingbird sering disandingkan dengan buku-buku lain yang membicarakan kultur Amerika, The Catcher in the Rye J.D. Salinger, Lord of the Flies William Golding, dan The Great Gatsby F. Scott Fitzgerald.

Lalu bagaimana popularitas buku ini di luar bangku sekolah dan bangku kuliah? Untuk mendapat sedikit gambaran, Goodreads bisa dijadikan acuan. Dari lima buku yang di daftar teratas, Mockingbird membukukan angka tertinggi dalam hal jumlah pengguna yang memberi peringkat, sekaligus mendapatkan rating tertinggi: 4,23—dari 5 bintang.

Namun demikian, popularitas tersebut tetap tak bisa dipisahkan dengan urusan sekolah. Data pencarian Google menegaskan, ada hubungan yang kuat antara popularitas buku dan penggunaannya di dalam kelas. Pencarian terkait lima buku terpopuler biasanya paling banyak terjadi di bulan Mei, ketika para siswa belajar untuk ujian akhir atau menulis esai. Peningkatan pencariaan juga terjadi, meskipun kecil, di sekitar November atau Desember—ketika ujian tengah atau akhir semester berlangsung.

Pada Mei 2013, memang terdapat lonjakan untuk pencarian The Great Gatsby. Tak perlu diragukan lagi, ini terjadi tak lepas dari adaptasinya novel karya Scott Fitzgerald tersebut ke dalam film oleh sutradara Baz Luhrmann. Film ini antara lain dibintangi oleh Leonardo DiCaprio, Carey Mulligan, dan Tobey Maguire. Tetapi bahkan jika faktor ini tetap diperhitungkan, untuk rata-rata pencarian sejak 2004, Mockingbird masih unggul sekitar 10 persen lebih sering daripada Gatsby.

Pengaruh Mockingbird jelas luar biasa bagi Amerika, tapi rasanya belum berarti apa-apa. Pergulatan melawan ketidakadilan rasial masih terus terjadi di sana. Belakangan, isu ini semakin menguat dalam beberapa kesempatan, termasuk pada perdebatan para bakal calon presiden. Daftar pekerjaan rumah Amerika terkait rasime masih cukup panjang. Karya Nelle Harper Lee, penulis yang lahir 26 April 1926 ini, akan terus relevan di tahun-tahun mendatang.

Baca juga artikel terkait BUKU atau tulisan lainnya

tirto.id - Pendidikan
Reporter: Arlian Buana