Tarmizi Taher: Perwira AL Bintang Dua yang Jadi Menteri Agama

Tarmizi Taher (ANTARA/FOTO ARSIP/Aris Budiman)
Oleh: Petrik Matanasi - 24 Oktober 2019
Dibaca Normal 2 menit
Tarmizi Taher adalah Menteri Agama kedua dari kalangan militer. Kinerjanya tak terlalu cemerlang.
tirto.id - Presiden Joko Widodo baru mengumumkan susunan kabinetnya untuk periode kedua masa kepemimpinannya. Salah satu yang menjadi sorotan masyarakat adalah diangkatnya mantan Wakil Panglima TNI (Purn.) Fachrul Razi sebagai Menteri Agama.

Pengangkatan mantan tentara sebagai Menteri Agama di era Reformasi baru terjadi kali ini. Sebelumnya, pos menteri ini biasanya diisi oleh politikus dari partai Islam atau tokoh yang berlatar belakang organisasi massa Islam seperti NU dan Muhammadiyah.

Namun, jika melihat ke zaman Orde Baru, hal ini sama sekali bukan sesuatu yang baru. Presiden Soeharto pernah dua kali mengangkat Menteri Agama dari kalangan militer. Maret 1978, ia menunjuk Letnan Jenderal TNI Alamsjah Ratu Prawiranegara sebagai Menteri Agama menggantikan Abdul Mukti Ali. Alamsjah bertugas sampai Maret 1983.

Maret 1993, giliran Lakmana Muda TNI Tarmizi Taher yang dijadikan sebagai Menteri Agama. Sosok ini bukan lulusan dari universitas di Makkah atau Kairo, melainkan dari Universitas Airlangga jurusan Ilmu Kedokteran.

Taher Marahsutan, ayah Tarmizi, seperti dikutip Wakhudin dalam Tarmizi Taher: Arek-arek Suroboyo & Aktivis Kampus Abdi Umat dan Bangsa (2003:8) adalah seorang pengusaha dan aktivis pergerakan nasional yang mengharapkan Tarmizi menjadi dokter. Sementara Djawanis, ibunya, menginginkannya menjadi ulama. Berbeda dengan kedua orangtuanya, Tarmizi justru ingin menjadi tentara.

Ketika ia menjadi dokter di Angkatan Laut, harapan ayahnya dan cita-cita Tarmizi tercapai sekaligus. Sementara keinginan ibunya, meski tidak jadi ulama, namun Tarmizi dapat berdekat dengan ulama saat ia diangkat menjadi Menteri Agama oleh Presiden daripada Soeharto.

Keinginan ibunya agar Tarmizi menjadi ulama, barangkali agar sang anak dapat melanjutkan kiprah kakeknya. Menurut Usep Fathudin dalam Menteri-menteri Agama RI: Biografi Sosial Politik (1998:445), kakek Tarmizi yang berasal dari Batusangkar adalah seorang ulama yang dikenal pandai berbicara dan selalu memukau saat berceramah, sehingga dijuluki Syeikh Berbulu Lidah.


Karier Militer dan Kedekatan dengan Depag

Waktu muda, Tarmizi pernah menjadi opsir kesehatan di KRI Irian, kapal perang terbesar yang pernah dimiliki Indonesia. Setelah Sukarno digantikan Soeharto, kapal yang dibeli dari Uni Soviet tak jelas nasibnya.

Di Angkatan Laut, Tarmizi pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Pembinaan Mental (Kadisbintal). Selain itu, ia juga pernah bertugas sebagai Kepala Pusat Pembinaan Mental ABRI (Kapusbintal). Jabatannya itu membuat ia dekat dengan Departemen Agama. Tarmizi mulai berdinas di Angkatan Laut pada tahun 1960-an, dan tahun 1980-an ia telah bintang dua dengan pangkat Laksamana Madya.

“Pada saat kepemimpinan Pak Alamsjah itulah saya makin akrab dengan Departemen Agama. Waktu itu berturut-turut saya mendapat tugas sebagai Kadisbintal TNI AL (1979-1980), Waka Pusbintal ABRI (1980-1982), dan Kapusbintal ABRI (1982-1987),” tulisnya dalam Konstekstualisasi Ajaran Islam: 70 Tahun Prof.Dr.H. Munawir Sjadzali, MA (1995).

Ketika posisi Alamsjah Ratu Prawira sebagai Menteri Agama digantikan oleh Munawir Sjadzali, Tarmizi diajak masuk ke Departemen Agama dengan jabatan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam dan Urusan Haji. Namun, ajakan itu ditolak secara halus karena ia baru dipromosikan menjadi Kapusbintal TNI. Bahkan ia juga sempat diproyeksikan untuk menjadi
Gubernur Sumatra Barat. Baru pada tahun 1987, ia akhirnya masuk Departemen Agama sebagai Sekretaris Jenderal Departemen Agama.

Setelah sepuluh tahun menjabat (1983-1993), posisi Munawir Sjadzali kemudian digantikan oleh Tarmizi Taher. Sebelumnya, sempat beredar kabar bahwa dirinya akan dijadikan sebagai duta besar untuk Arab Saudi. Namun nyatanya Soeharto menghendakinya sebagai Menteri Agama.

”Begini Tarmizi, Pak Munawir kan sudah tua, jadi untuk tugas dan tanggung jawab Menteri Agama yang akan datang, saya serahkan kepada Tarmizi Taher, bagaimana apa sudah siap?" tanya Soeharto.

“Alhamdulillah Pak, saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak atas tanggung jawab yang berat ini,” jawab Tarmizi seperti terdapat dalam Kabinet Pembangunan VI: riwayat para menteri (1993:71).




Menteri Agama yang Biasa Saja

Saat Tarmizi menjadi Menteri Agama--dan hampir sepanjang Orde Baru berkuasa--kerukunan antarumat beragama jauh dari ketegangan. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan ikut campur urusan intern agama. Pemerintah, tambahnya, hanya punya kepentingan dalam pembinaan hubungan baik antarumat beragama.

Persoalan berarti yang dihadapi Tarmizi adalah semakin banyaknya calon jemaah haji Indonesia, sehingga melebihi kuoto yang telah ditentukan. Hal ini membuatnya harus bernegosiasi dengan pemerintah kerajaan Arab Saudi agar kuota ditambah.

Latar belakang Tarmizi jelas berbeda dengan pendahulunya. Munawir adalah seorang akademisi. Selain sibuk sebagai Menteri Agama, waktunya juga banyak dihabiskan untuk berceramah dan mengajar. Sementara sebagai mantan pejabat militer, Tarmizi lebih mampu bekerja sebagai birokrat ketimbang penceramah. Meski demikian, Tarmizi Taher sempat menulis beberapa buku tentang Islam.

Saat Soeharto lengser pada 1998, posisi Tarmizi Taher sudah digantikan oleh Dr. Quraish Shihab yang berlatar akademisi dan menulis banyak buku tentang Islam.

Permulaan era Reformasi menggambarkan kemarahan masyarakat terhadap Soeharto lewat pelbagai hujatan. Hal ini bertahan lama sampai beberapa saat sebelum Soeharto wafat. Dalam situasi tersebut, Tarmizi Taher mengajak orang-orang untuk memaafkan Soeharto, meski sebenarnya Soeharto tak pernah meminta maaf.

Baca juga artikel terkait MENTERI AGAMA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight