Menuju konten utama

Tarawih Pertama 2025 Muhammadiyah Kapan & Puasa Berapa Hari?

PP Muhammadiyah telah memutuskan kapan hari pertama Ramadhan dan jatuhnya Idul Fitri 2025. Cek jadwal Tarawih pertama Muhammadiyah di 1446 H.

Tarawih Pertama 2025 Muhammadiyah Kapan & Puasa Berapa Hari?
Warga Muhammadiyah menunaikan shalat Tarawih pertama di Masjid AR Fachrudin, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur, Minggu (10/3/2024). ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto

tirto.id - Kapan tarawih pertama Ramadhan 2025 untuk kalangan Muhammadiyah? Apakah tarawih dilakukan pada Jumat, 28 Februari ataukah Sabtu, 1 Maret 2025 menunggu hasil sidaang isbat?

Tarawih pertama 2025 Muhammadiyah sudah dapat dipastikan menyusul keputusan Pimpinan Pusat (PP) organisasi kemasyarakatan (ormas) tersebut tentang hari pertama Ramadhan 1446 Hijriah. Selain itu, PP Muhammadiyah sudah menetapkan kapan Hari Raya Idul Fitri 1446 H.

Muhammadiyah bisa menetapkan jatuhnya 1 Ramadhan 1446 lebih dulu ketimbang Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag). Hal tersebut menyangkut metode penentuan awal puasa kedua pihak yang berbeda.

Muhammadiyah berpedoman pada metode hisab (perhitungan) atau lebih spesifik merupakan hisab hakiki wujudul hilal. Sedangkan pemerintah, menggunakan metode gabungan antara hisab dan rukyatul hilal (pengamatan).

Oleh karenanya, umat Muslim Muhammadiyah bisa menentukan kapan hari pertama Puasa tanpa menunggu pengumuman pemerintah melalui Sidang Isbat, yang digelar pada 29 Syaban atau bertepatan dengan 28 Februari 2025.

Kapan Tarawih Pertama Muhammadiyah di Ramadhan 2025 & Tanggal Berapa?

Muhammadiyah menetapkan hari pertama puasa jatuh pada Sabtu, 1 Maret 2025 pagi. Oleh karenanya, kalangan Muhammadiyah akan menyelenggarakan Sholat Tarawih pertama pada Jumat, 28 Februari 2025.

Keputusan hari pertama puasa dan Tarawih tersebut didasarkan pada Maklumat PP Muhammadiyah Nomor 1/MLM/I.0/E/2025, yang ditetapkan di Yogyakarta pada Selasa, 28 Januari 2025, serta diumumkan dari Kantor Cikditiro, Yogyakarta, hari Rabu, 12 Februari 2025.

Dijelaskan, ormas ke-Islaman tersebut berpedoman pada hasil hisab hakiki wujudul hilal oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. Bulan baru (keesokan harinya setelah tanggal 29) terjadi dengan memenuhi 3 syarat, yaitu pertama telah terjadi ijtimak. Kedua ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam. Serta ketiga pada saat matahari terbenam bulan (piringan atasnya) masih di atas ufuk.

Pada Jumat 29 Syaban 1446 H atau 28 Februari 2025, ijtimak jelang Ramadan 1446 H terjadi pada pukul 07:46:49 WIB. Hilal dinyatakan sudah wujud, dengan tinggi bulan pada saat matahari terbenam di Yogyakarta ialah +04° 11¢ 08². Pada saat Matahari terbenam di Jumat, 28 Februari 2025, bulan berada di atas ufuk (hilal sudah wujud) untuk seluruh wilayah Indonesia.

Muhammadiyah Puasa Berapa Hari di Ramadhan 2025?

Umat Muhammadiyah dipastikan akan menjalani puasa Ramadhan 1446 atau pada 2025, selama 30 hari. Hal itu juga menyusul Maklumat PP Muhammadiyah Nomor 1/MLM/I.0/E/2025, yang menetapkan 1 Syawal atau Idulfitri jatuh pada Senin, 31 Maret 2025.

Masih berpedoman dengan metode hisab hakiki wujudul hilal, Muhammadiyah menyatakan bahwa puasa tahun ini tidak mungkin terjadi 29 hari saja. Pasalnya, 3 kriteria metode itu tidak terpenuhi pada 29 Ramadhan atau pada 29 Maret 2025.

ijtimak jelang Syawal 1446 H terjadi pada pukul 17:59:51 WIB, pada Sabtu, 29 Ramadhan 1446 H bertepatan dengan 29 Maret 2025. Pada hari itu, tinggi bulan saat matahari terbenam di Yogyakarta -01° 59¢ 04² atau dinyatakan hilal belum wujud. Pada saat Matahari terbenam, Sabtu, 29 Maret 2025, di seluruh wilayah Indonesia bulan berada di bawah ufuk (hilal belum wujud).

Dengan demikian, diputuskan bahwa umur bulan Ramadhan 1446 H bagi Muhammadiyah disempurnakan (istikmal) atau selama 30 hari.

Tahun Depan Muhammadiyah Gunakan Metode Baru Penentuan Puasa & Lebaran?

Muhammadiyah pada 2025 sama seperti tahun-tahun sebelumnya, menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal untuk menentukan hari penting Islam, seperti 1 Ramadhan dan 1 Syawal.

Mengutip lamanMuhammadiyah, metode tersebut digunakan untuk menghitung posisi-posisi geometris benda-benda langit, yang tujuannya untuk menentukan penjadwalan waktu di muka bumi.

Muhammadiyah dalam hisab hakiki wujudul hilal, mengacu pada gerak faktual bulan di langit. Alhasil, awal dan berakhirnya bulan kamariah (penanggalan pergerakan bulan) berdasarkan pada kedudukan atau perjalanan bulan tersebut. Berbeda dengan hisab urfi, yang perhitungannya didasarkan pada peredaran bulan dan bumi rata-rata dalam mengelilingi matahari (tetap).

Dalam metode hisab Muhammadiyah itu, bulan kamariah yang baru akan dimulai, apabila pada hari ke-29 di bulan Hijriah yang sedang berjalan: matahari terbenam terpenuhi tiga syarat secara kumulatif.

Syarat pertama telah terjadi ijtimak. Kedua ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam. Serta ketiga pada saat matahari terbenam bulan (piringan atasnya) masih di atas ufuk. Jika satu saja syarat tersebut tidak terpenuhi, maka suatu bulan Hijriah digenapkan menjadi 30 hari.

Metode hisab hakiki wujudul hilal sudah diperkenalkan lama, salah satunya oleh sosok Muhammadiyah bernama Wardan Diponingrat (1911-1991). Aktif sejak 1960 sebagai anggota Majelis Tarjih, ia menentang penentuan awal bulan kamariah konvensional, yaitu hisab urfi.

Adapun Muhammadiyah terus berupaya mengembangkan metode hisab mereka. Pada tahun depan (1447 H), ormas Islam ini mewacanakan akan menggunakan Kalender Islam Global atau Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebagai upaya pengembangan.

PP Muhammadiyah sebenarnya sudah mengeluarkan KHGT sejak 1446 Hijriah. Sedikit polemik timbul, karena ternyata 1 Syawal dalam KHGT 1446 Hijriah jatuh pada 30 Maret 2025, sedangkan dalam maklumat terbaru 1 Syawal 1446 H jatuh pada 31 Maret 2025.

Namun dijelaskan kembali, bahwa memang Muhammadiyah baru akan menggunakan KHGT secara resmi mulai 1 Muharram 1447 H. Hal itu menyusul hasil Rapat Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada 22 Januari 2025 di Yogyakarta.

Melansir laman Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah (Jateng), baik metode saat ini atau KHGT ke depan, keduanya sama-sama menggunakan metode hisab hakiki. Perbedaannya, wujudul hilal berorientasi nasional (berlandaskan konsep wilayätul hukmi). Sedangkan KHGT berorientasi global (berlandaskan konsep ittihad al-matäli’).

Baca juga artikel terkait RAMADHAN 2025 atau tulisan lainnya dari Dicky Setyawan

tirto.id - Edusains
Kontributor: Dicky Setyawan
Penulis: Dicky Setyawan
Editor: Fitra Firdaus