tirto.id - Menteri Keuangan Sri Mulyani mencatat realisasi pembiayaan utang per Maret 2021 mencapai Rp328,5 triliun. Jumlah ini setara 27,9 persen dari total target pemerintah pada 2021. Angka ini naik 329,41 persen dari realisasi per Maret 2020 yang mencapai Rp76,5 triliun
“Pembiayan anggaran sampai Maret 2021, kami sudah merealisasi Rp328,5 pembiayaan utang dari target Rp1.177,4 triliun,” ucap Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KITA, Kamis (22/4/2021).
Mayoritas pembiayaan utang Maret 2021 ini dipenuhi dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) netto yang mencapai Rp337,2 triliun atau 27,9 persen dari target Rp1.207,3 triliun. Sementara itu sumber utang dari penarikan pinjaman mencatatkan angka negatif Rp8,2 triliun.
Sri Mulyani mengatakan penerbitan surat utang sampai Maret 2021 ini sudah mencapai lebih dari separuh target penerbitan semester I 2021. Jumlahnya setara 63,9 persen dari target paruh pertama 2021.
Pembiayaan ini, kata Sri Mulyani, semata ditujukan untuk menutup defisit APBN 2021 yang menyentuh 5,7 persen PDB. Defisit sebesar ini digunakan pemerintah untuk membiayai belanja penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang berjumlah Rp699 triliun.
“Pembiayaan utang untuk menopang pembiayaan non-utang termasuk investasi dan menambah defisit. Defisit dibutuhkan untuk akselerasi pemulihan ekonomi yang manfaatnya dirasakan masyarakat dan dunia usaha,” ucap Sri Mulyani.
Hingga 16 April 2021, Sri Mulyani juga memaparkan Kemenkeu masih menjalankan Surat Kesepakatan Bersama (SKB) I yang dibuat bersama Bank Indonesia. BI sudah membeli SBN dari pasar perdana dengan nilai Rp101,91 triliun terdiri dari Rp64,85 triliun Surat Utang Negara (SUN) dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) Rp37,06 triliun.
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Abdul Aziz