Menuju konten utama

#SkipChallenge Bisa Membunuhmu

Permainan Skip Challenge menyimpan banyak bahaya: gangguan memori, matinya sel otak, gegar otak, patah tulang, pendarahan pada kelopak mata, hingga kematian. Orang tua dan guru perlu belajar dari kasus serupa di AS dan Kanada.

#SkipChallenge Bisa Membunuhmu
Tiga orang pemuda sedang melakukan Pass-out Challenge. Foto/dailydot.com

tirto.id - Permainan Skip Challenge (disebut juga Choking Game atau Pass Out Challange) sedang populer di kalangan anak-anak remaja di Indonesia. Skip Challenge adalah permainan berbahaya dengan tujuan kehilangan kesadaran dengan cepat. Dalam video yang mulai viral di Youtube, anak-anak sekolah menengah pertama dan menengah atas terlihat asyik melakukan permainan ini di kelas saat jam istirahat, seakan tanpa tahu risiko besar yang mengancam di baliknya.

Permainan ini sudah lama ada, dan pernah sangat populer di kalangan remaja di Amerika Serikat pada tahun 2007-2008. Ada beberapa teknik dalam Skip Challenge. Pertama, pemain melakukan squat sedekat mungkin dengan lantai selama beberapa kali, lalu bernafas dengan cepat selama 45 detik. Selanjutnya pemain diharuskan berdiri secara tiba-tiba, kemudian duduk sambil meniup ibu jari (seperti meniup balon) hingga akhirnya pingsan.

Efek yang sama juga bisa dicapai dengan cara menekan dada pemain baik langsung maupun setelah duduk bernafas dengan kencang selama 45 detik. Mayoritas video menampilkan lebih dari satu orang. Ada yang berdua, ada yang bergerombol. Saat pemain pingsan dan kejang-kejang, teman lainnya bersorak gembira. Sementara itu dalam video lain juga diperlihatkan ada yang mencoba teknik ini sendirian, yakni dengan mencekik leher sendiri. Mencekik (choking) adalah teknik lain yang sama berbahayanya.

Pingsannya si pemain dikibatkan oleh tersumbatnya aliran darah ke otak sehingga kadar oksigen di otak pun menurun drastis. Kadar oksigen di waktu yang singkat bisa sangat sedikit atau bahkan sama sekali hilang/tak tersuplai. Kondisi ini dinamakan Hypoxic-Anoxic Injury (HAI) yang menghilangkan kesadaran si pemain dan dari luar terlihat seperti pecandu obat terlarang yang sedang terpapar efek halusinogen.

Dalam laporan yang dirilis Center for Disease Control and Prevention (CDC) AS khusus untuk menanggapi fenomena ini, Skip Challenge berbahaya karena sistem saraf pusat dalam otak si pemain terganggu. Keseimbangan tubuh yang kacau membuat tubuh pemainnya sempoyongan, sehingga dalam jangka panjang permainan ini bisa merusak memori.

Jika seorang remaja memainkan Skip Challenge secara terus-menerus, efek jangka panjang yang akan diderita yakni hilangnya kesadaran secara bertahap, matinya sel-sel di dalam otak, mudah terserang koma. Mereka juga akan mengalami kejang-kejang dari taraf biasa hingga yang hebat. Dalam level yang lebih parah, permainan ini bisa menyebabkan gegar otak, patah tulang (rahang) akibat cekikan, dan pendarahan pada kelopak mata.

Dalam sejumlah kasus yang membuat pemerhati kesehatan di banyak negara menaruh perhatian khusus atas fenomena ini, Skip Challenge mampu merenggut nyawa pemainnya. Korban yang hanya ingin mencapai taraf pingsan justru kebablasan sampai meninggal, mirip seperti terbunuhnya orang yang disekap dalam ruangan tertutup atau dibekap saluran pernafasannya. Korban lain meninggal karena pingsan menyebabkan dirinya jatuh ke benda berhaya di sekitarnya, terluka (dalam kondisi tak sadar), dan akhirnya nyawanya tak terselamatkan.

Dalam rilis hasil penelitiannya, CDC mengompilasikan catatan korban kematian akibat Skip Challenge dalam kurun waktu 1995-2007. Merujuk temuan mereka, dalam kurun waktu 12 tahun tersebut ada 82 anak remaja usia 6-19 yang meninggal di AS akibat permainan Skip Challenge.

Sementara menurut data statistik yang dipampang lembaga Games Adolescents Shouldn't Play (G.A.S.P) di situswebnya, permainan Skip Challenge bertanggung jawab atas lebih dari 1.000 kematian remaja sejak 1934. G.A.S.P memang berkonsentrasi pada fenomena permainan berbahaya yang populer di kalangan remaja. Data G.A.S.P menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 2005-2015 terdapat 675 kasus kematian akibat Skip Challenge atau meningkat dua kali lipat dibanding satu dekade sebelumnya.

Di Kanada, Pusat Kesehatan Mental dan Kecanduan pada 2008 menyatakan kurang lebih tujuh persen persen dari keseluruhan siswa kelas 7-12 di Ontario pernah mencoba Skip Challenge. Jumlah ini tergolong besar dan mengkhawatirkan sebab total siswa di Ontario dalam rentang kelas demikian mencapai 79.000.

Dengan menggunakan data kompilasi tentang kasus ini, Pusat Kesehatan Mental dan Kecanduan Kanada menemukan fakta bahwa dari tahun 1990-2000 terdapat 88 kasus cedera non-fatal akibat permainan Skip Challenge. Para korban, menurut lembaga yang sama, mempelajari teknik berbahaya itu dari Youtube.

Infografik Skip Challenge

Orang Tua dan Guru Wajib Waspada

Di Indonesia belum ditemukan korban cedera atau meninggal akibat Skip Challenge—setidaknya hingga artikel ini diturunkan. Namun, orang tua di Indonesia beserta para guru di sekolah-sekolah patut waspada. Mereka memiliki kesempatan untuk melakukan pencegahan dini dengan belajar dari tragedi yang pernah terjadi di AS, Kanada, maupun di tempat-tempat lain. Satu hal yang bisa dipastikan dari reaksi para pemain dalam video, yang membuat permasalahan ini terasa mengerikan, adalah mereka seakan tak sadar bahwa Skip Challenge itu berbahaya.

Anak-anak remaja di Indonesia kini memiliki akses yang mudah ke internet terutama Youtube. Jika tak diawasi dengan baik, mereka bisa menemukan apa itu Skip Challenge hingga teknik-tekniknya dengan mudah untuk dipraktikkan bersama teman-temannya. Video-video yang diunggah juga tak lain direkam oleh teman-teman si pemain. Mereka kadang bergantian dan tertawa puas saat si pemain jatuh pingsan, atau beberapa diantaranya sampai kejang-kejang.

Teori peer pressure dalam kajian Sosiologi menerangkan mengapa popularitas sebuah permainan bisa tersebar layaknya popularitas gaya berpakaian atau selera musik. Pangkalnya ada pada krisis jati diri pada remaja yang menuntunnya untuk melakukan hal-hal yang dianggap keren dan kekinian, termasuk Skip Chellenge. Bahaya dikesampingkan, sebab sesuai yang mereka tonton di video, permainan ini menyenangkan, bukan menakutkan.

Popularitas permainan ini juga ditunjukkan dalam riset CDC, yang menyebutkan, 36,2 persen responden mengaku pernah mendengar Skip Challenge, 30,4 persen lainnya menyatakan pernah mendengar seseorang yang pernah melakukan Skip Challenge, dan 5,7 persen lain mengaku pernah mencobanya.

Remaja di daerah pedesaan secara signifikan lebih mungkin untuk berpartisipasi (6,7 persen) dibanding remaja di perkotaan (4,9 eprsen). Pelaku Skip Challenge, di antara anak-anak kelas 8 sebagai responden penelitian tersebut, rupanya banyak yang memang mengidap masalah mental (4 persen), penggunaan narkoba (7,9 persen), atau keduanya (15,8 persen). Persentasenya lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak mengalami keduanya (1,7 persen).

Fenomena Skip Challenge yang pada pertengahan 2000an lalu membuat orang tua resah (dan masih merenggut nyawa korban seorang remaja Inggris pada 2012) sesungguhnya berakar dari lemahnya pengawasan si orang tua itu sendiri. Lebih mendasar lagi, si orang tua bahkan tak tahu menahu bahwa permainan berbahaya ini ada dan kerap dilakukan oleh anak-anaknya.

Orang tua mesti tanggap untuk memberi pemahaman kepada si anak tentang bahaya Skip Challenge, demikian juga guru kepada murid-muridnya. Jika perlu untuk bersikap tegas, hukuman bisa diterapkan kepada mereka yang masih melakukannya.

Pengawasan bisa bermula dari memahami apa yang anak mainkan selama berkumpul bersama teman-temannya baik di kamar maupun di luar rumah (tempat tongkrongan). Pemain Skip Challenge yang rutin memiliki perubahan dalam diri mereka. Menurut sejumlah sumber, termasuk rilis CDC, tahap pertama permainan ini bermula, selain dari Youtube, adalah perbincangan sederhana berbalut candaan saat anak-anak remaja berkumpul.

Ciri-ciri remaja yang membiasakan permainan ini yakni memiliki mata kemerahan akibat cekikan yang kuat sambil menahan nafas dalam waktu yang lama. Akan ada tanda seperti pendarahan di bawah kelopak mata. Akibat cekikan yang kuat juga akan muncul bekas luka di sekitar leher. Patut dicurigai untuk remaja yang tiba-tiba sering memakai syal atau baju penutup leher lain meski dalam cuaca panas.

Pemain Skip Challenge kerap terserang sakit kepala dan tak fokus setelah berlama-lama di kamarnya (mengingat Skip Challenge bisa juga dimainkan sendiri). Karena hilang fokus, remaja tersebut akan menampilkan gejala mudah marah dan tersinggung pada anggota keluarga lain. Cara mencekik sendiri yang mudah biasanya memerlukan alat. Maka curigalah jika di kamar si anak tiba-tiba ditemukan syal, tali, atau ikat pinggang yang terikat dan tergeletak begitu saja di lantai.

Untuk para guru dan penanggung jawab di instansi-instansi pendidikan di Indonesia, sosialisasi bahaya Skip Challenge maupun permainan bahaya serupa tentu tak susah. Tinggal disampaikan secara proporsional saat jam pelajaran, dan bisa mengandalkan ketua kelas untuk mengawasi teman-temannya sendiri. Sehingga saat ada yang memulai atau menantang atau berusaha mempopulerkannya, yang bersangkutan bisa segera diberi tindakan lanjut.

Sejarah kelam permainan ini semoga bisa dijadikan pelajaran agar tak lagi memakan korban, khususnya bagi anak-anak muda penerus bangsa.

Baca juga artikel terkait SKIP CHALLENGE atau tulisan lainnya dari Akhmad Muawal Hasan

tirto.id - Kesehatan
Reporter: Akhmad Muawal Hasan
Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Maulida Sri Handayani