Menuju konten utama

Sinopsis Film The Taqwacores Tentang Anak Punk Muslim di AS

Sinopsis film The Taqwacores yang bercerita tentang anak punk Muslin yang tinggal di Buffalo, New York, AS.

Sinopsis Film The Taqwacores Tentang Anak Punk Muslim di AS
The Taqwacores. foto/imdb

tirto.id - Film The Taqwacores diangkat dari novel yang ditulis Michael Muhammad Knight. The Taqwacores disutradari oleh Eyad Zahra yang dirilis pada tahun 2010 dan berdurasai 1 jam 23 menit.

Mengutip dari laman IMDb, film ini dibintangi oleh Bobby Naderi sebagai Yusef, Noureen DeWulf berperan sebagai Rabeya, dan Dominic Rains sebagai Jehangir Tabari.

Menurut laman Rotten Tomatoes, film ini memeroleh audience score sebesar 49% dari 2500 lebih rating penonton. Trailer film ini bisa disaksikan melalui Youtube.

Sinopsis The Taqwacores

The Taqwacores secara gamblang menggambarkan kehidupan sehari-hari di sebuah rumah punk Muslim di Buffalo, New York, AS.

Karakter yang mengisi film ini, antara lain: Rabeya, seorang gadis anti huru-hara yang berpakaian burqa; Umar, seorang Sunni yang lurus; Muzammil Sadiq, pejuang yang melawan homofobia Islam ortodoks; dan Jehangir Tabari, seorang punk muslim bermimpi mengadakan pertunjukan di Buffalo.

Salah satu tokoh dalam film ini bernama Yusef, mahasiswa teknik asal Pakistan yang sedang dalam masa studi di Amerika. Yusef tinggal di rumah yang penghuninya sekelompok punk muslim di Buffalo, New York.

Karakter Yusef ini digambarkan sebagai seorang yang kurang pergaulan dan kutu buku. Hunian mereka jauh dari kata rapi. Dalam 1 X 24 jam, rumah tersebut dapat berubah fungsi: siang digunakan sebagai masjid untuk beribadah kemudian malamnya digunakan untuk berpesta.

Teman-teman satu rumah Yusef mempunyai karakter dan cara pengamalan agama yang berbeda. Umar merupakan seorang muslim yang taat, sedangkan Rabeya tidak melaksanakan perintah agama dengan semestinya. Ia menganggap pengamalan isi Al-Qur’an sudah tidak sesuai dengan kehidupannya.

Hal yang sama berlaku untuk Jehangir, ia menganggap Islam bukan tentang Al-Qur’an dan Hadis, tetapi tentang dirinya sendiri. Ada juga tokoh bernama Fasiq, seorang yang hobi mengisap ganja. Ia memiliki pandangan yang berbeda tentang pengamalan Al-Qur’an.

Berbagai pandangan tentang pengamalan Islam sangat ditampilkan dalam film ini. Tokoh-tokoh beragam inilah yang kemudian membaut Yusef berjumpa dengan banyak pemikiran baru.

Mendekati akhir film, sebuah konser Punk Rock Muslim diadakan di rumah tersebut atas inisiatif Jehangir. Ia mengundang band taqwacore dari berbagai penjuru Amerika Serikat. Namun, suasana saat konser memanas dan Jegangir memutuskan mengundang Bilal’s Boluder dalam konser.

Band ini menolak kehadiran wanita dalam konsernya. Ditambah lagi, band Bilal’s Boluder tidak disukai banyak orang. Awalnya konser seru, tetapi menjadi ricuh karena konflik antara anggota band dengan penonton.

Baca juga artikel terkait RAMADHAN 2022 atau tulisan lainnya dari Nurul Azizah

tirto.id - Film
Kontributor: Nurul Azizah
Penulis: Nurul Azizah
Editor: Yantina Debora