Jelang Debat Cawapres

Siasat Ma'ruf Amin dan Sandi Berebut Suara Santri Lewat Debat ke-3

Oleh: Riyan Setiawan - 15 Maret 2019
Dibaca Normal 3 menit
Ma'ruf Amin dan Sandiaga sama-sama membidik suara kalangan santri yang jumlahnya cukup besar saat debat cawapres.
tirto.id - Masalah pesantren diprediksi akan menjadi sub tema yang akan dibahas pada debat cawapres yang akan digelar di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu malam, 17 Maret 2019. Pembahasan ini akan menjadi ajang bagi Ma'ruf Amin dan Sandiaga untuk meyakinkan pemilih yang berlatar belakang santri.

Apalagi berdasarkan data Kementerian Agama, pondok pesantren di seluruh Indonesia yang tercatat mencapai 25.938 pesantren dengan total jumlah santri sekitar 3.962.700 [jumlah ini belum termasuk keluarga besarnya]. Artinya, jika Ma'ruf dan Sandiaga dapat meyakinkan mereka dalam debat nanti, maka potensi suara yang diperoleh cukup besar.

Wakil Direktur Saksi Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Maruf Amin, Ahmad Baidowi mengatakan cawapres nomor urut 01, Ma’ruf Amin sudah melakukan berbagai persiapan untuk debat nanti. Salah satu yang akan dibahas, kata dia, adalah soal pendidikan pesantren.

Sebab, kata Baidowi, cawapres nomor urut 01 itu berasal dari lingkungan pesantren.

“Pak Maruf Amien tentu menguasai pendidikan pesantren dan keagamaan. Tapi tidak hanya pesantren, pendidikan lainnya juga [akan dibahas],” kata Baidowi saat dihubungi reporter Tirto, Kamis (14/3/2019).

Politikus PPP itu mengklaim, bukan hal yang sulit bagi Ma'ruf Amin untuk membahas masalah pesantren. Apalagi, konsentrasi program yang akan ditawarkan paslon Jokowi-Ma'ruf terhadap dunia pendidikan cukup tinggi.

Ia mencontohkan program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Lanjutan untuk membantu pelajar dan keluarga yang tidak mampu. Selain itu, Baidowi juga menjelaskan program dari Jokowi-Ma'ruf akan meningkatkan anggaran untuk pendidikan pesantren, madrasah, serta meningkatkan kesejahteraan guru.

“Itu, kan, bentuk-bentuk konkretnya,” kata pria yang juga anggota DPR RI dari Fraksi PPP ini.

Agar program tersebut dapat terealisasi dan memiliki payung hukum, kata Baidowi, partai koalisi pengusung Jokowi-Ma'ruf telah menginisiasi Rancangan Undang-Undang (RUU) Pondok Pesantren untuk disahkan DPR menjadi UU. Saat ini, RUU ini masuk sebagai salah satu Prolegnas Prioritas 2019.

Menurut Baidowi, melalui program tersebut, ia optimistis pasangan capres-cawapres nomor urut 01, Jokowi-Ma'ruf dapat meraih suara mayoritas dari 3.962.700 santri yang tersebar di 25.938 pesantren.

“Kami tidak bisa mengatakan 100 persen, karena faktanya memang ada pesantren yang dukung Pak Prabowo. Tapi, mayoritas lah suara pesantren bisa diraup oleh Pak Jokowi dan Maruf Amien. Kalau semuanya hampir tidak mungkin,” kata dia.

Hal senada diungkapkan Ketua Umum Santri Milenial untuk Jokowi-Ma'ruf Amin (Samil Jokowin) Fuad al Athor. Menurut dia, paslon nomor urut 01 ini juga akan mendirikan seribu balai latihan kerja (BLK) bagi komunitas pesantren seiring tantangan revolusi industri 4.0 atau generasi keempat.

Menurut Fuad, hal itu merupakan salah satu bentuk nyata komitmen Jokowi-Ma'ruf kepada generasi milenial, khususnya santri.

“Dia peduli dan paham potensi santri atau pesantren untuk berkontribusi bagi kemajuan Indonesia. Jokowi seperi bapak bagi para santri milenial dan belum ada pemimpin selama ini yang lebih konkret berbuat untuk santri dan pesantren seperti dilakukan Jokowi,” kata Fuad kepada reporter Tirto.

Sandiaga Janjikan Program Wirausaha


Pasangan calon nomor urut 02 juga tak mau menyia-nyiakan potensi suara dari kalangan pesantren.

Koordinator Juru Debat Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Ledia Hanifa mengatakan, pada debat ketiga nanti, Sandi akan membahas terkait program keterampilan berwirausaha kepada para santri yang ada di pesantren.

“Mereka [para santri] juga harus punya keterampilan hidup, kan. Nah, keterampilan hidup itu lah yang kemudian harusnya dibekali. Seperti kewirausahaan,” kata Ledia saat dihubungi reporter Tirto, Kamis (14/3/2019).

Selain itu, kata Ledia, pasangan Prabowo-Sandiaga juga menjanjikan program bantuan beasiswa bagi para santri yang ingin melanjutkan pendidikannya setelah lulus dari pesantren.

“Kami mendorong mereka memiliki akses yang dibantu pemerintah, jadi bukan hanya karena akses yang dimiliki kiai-nya. [Misalnya] untuk mendapatkan beasiswa belajar S1, S2, S3 untuk memperdalam ilmu mereka [santri] agar dapat berkontribusi pada bangsa," kata Ledia.

Politikus PKS ini menjelaskan, agar program Prabowo-Sandi ini dapat terealisasi, maka partai koalisi akan mendorong penyelesaian RUU Pesantren yang saat ini sudah dalam pembahasan di DPR. Tujuannya agar pesantren memiliki payung hukum.

“Jadi kalau ada payung hukum, alokasi anggaran ada, kemudian juga [bisa] mengembangkan pesantren itu,” kata Ledia.

Ledia pun optimistis jika nanti Sandiaga menjelaskan program tersebut saat debat cawapres, maka pasangan calon nomor urut 02 ini dapat meraih suara dari kalangan santri yang jumlahnya cukup besar, yaitu 3.962.700 santri yang terdiri dari 25.938 pesantren.

“Mereka [santri] sudah bisa melihat dengan program Pak Prabowo dan Bang Sandi seperti kewirausahaan, dengan terbukanya lapangan kerja, kualitas mereka [Prabowo-Sandi] itu bisa jadi daya tarik para santri,” kata Ledia.

Ma'ruf Dinilai Lebih Diuntungkan


Direktur Eksekutif Indonesia Political Review, Ujang Komarudin menyambut baik program-program yang ditawarkan oleh kedua kandidat saat debat cawapres nanti. Sebab, kata Ujang, selama ini pesantren kurang disentuh oleh kedua kubu.

Ujang menilai, Ma'ruf dapat menarik suara para santri melalui program-program yang ditawarkannya. Pasalnya, cawapres 01 itu sebagai seorang ulama sepuh dan juga kebanyakan pesantren dari Nahdlatul Ulama (NU), sehingga menjadi daya tarik santri untuk memilih Ma'ruf.

"Saya rasa akan disambut oleh kalangan pesantren. Itulah yang sebenarnya ditunggu oleh pesantren, ada perubahan, mindset dari pemerintah agar membuat pesantren lebih modern, yang lebih bermanfaat bagi Indonesia," ujar Ujang.

Dosen Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) itu juga menanggapi program yang ditawarkan Sandiaga untuk para santri di pesantren. Meskipun program tersebut bagus, tetapi belum tentu disambut baik. Alasannya, Sandiaga bukan seorang ulama dan tidak memiliki latar belakang santri.

“Katakanlah kalau pun ada program itu [wirausaha dan beasiswa], belum tentu jadi daya tawar yang menarik bagi para santri," kata Ujang.

Sehingga, kata Ujang, jika debat cawapres nanti membahas terkait isu pendidikan pesantren, maka cawapres yang akan diuntungkan adalah Ma'ruf Amien karena sudah dikenal sebagai ulama sepuh yang menjadi panutan para santri.

“Saya yakin program-program itu lebih menarik Ma'ruf Amin karena otoritasnya itu [sebagai ulama]” kata Ujang.

Baca juga artikel terkait DEBAT CAWAPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya Riyan Setiawan
(tirto.id - Politik)

Reporter: Riyan Setiawan
Penulis: Riyan Setiawan
Editor: Abdul Aziz
* Data diambil dari 20 top media online yang dimonitor secara live