Sejarah Misteri Kematian Fatimah binti Muhammad pada 3 Ramadan

Oleh: Iswara N Raditya - 8 Mei 2019
Dibaca Normal 2 menit
Fatimah az-Zahra meninggal beberapa bulan setelah wafatnya Rasulullah.
tirto.id - Tanggal 3 Ramadan tahun 11 Hijriah mencatat duka dalam sejarah umat Islam. Dikutip dari buku Wanita-Wanita Kebanggaan Islam (2015) karya Umar Ahmad al-Rawi, Fatimah binti Muhammad atau Fatimah az-Zahra wafat pada tanggal tersebut dalam usia 28 tahun.

Fatimah adalah putri bungsu Rasulullah dari istri pertamanya, Khadijah. Fatimah dilahirkan di Mekah, Arab Saudi, lima tahun sebelum Muhammad menerima wahyu pertama sebagai penanda kerasulan.

Pada masa awal kenabian ini, Muhammad sering mendapat perlakukan tak patut dari kaum Quraisy. Salah satunya, sebagaimana dikisahkan Ali Syariati dalam Fatimah: The Greatest Woman in Islamic History (2008), terjadi saat Muhammad sedang menunaikan ibadah di depan Kakbah.

Ketika Muhammad bersujud, datang beberapa orang Quraisy dan menumpahkan kotoran unta di punggungnya sambil tertawa-tawa. Melihat hal tersebut, Fatimah yang saat itu masih seorang gadis kecil segera berlari menuju ke tempat ayahnya.

Tanpa gentar sedikit pun, Fatimah menghampiri orang-orang Quraisy tersebut dan menghardik mereka. Para lelaki itu pun bergegas pergi lantaran malu. Fatimah membersihkan punggung ayahnya dari kotoran unta sembari menangis.

Rasulullah pun berkata, "Jangan menangis, wahai anakku. Sesungguhnya Allah melindungi ayahmu."


Kontroversi Sepeninggal Nabi

Setelah beranjak remaja, Fatimah menikah dengan sepupunya yang bernama Ali bin Abi Thalib. Ali adalah putra Abu Thalib dan sejak kecil sudah akrab dengan keluarga Rasulullah karena turut diasuh Muhammad dan Khadijah. Demi menikahi Fatimah, Ali menjual perisainya untuk biaya pernikahan.

Dikutip dari buku berjudul Ali bin Abi Thalib (2015) yang ditulis Sayyid Sulaiman Nadwi, dua sahabat Nabi, yakni Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab, sebelumnya pernah meminang Fatimah. Namun, Muhammad tidak mengizinkan karena menunggu izin Allah terkait jodoh putrinya, dan itu ternyata Ali.

Pernikahan Ali dan Fatimah dilangsungkan tidak lama setelah Nabi Muhammad hijrah dari Mekkah ke Madinah pada 622 Masehi. Fatimah dan Ali dikaruniai dua orang putra yakni Hassan dan Husain, serta dua orang putri bernama Zainab dan Ummu Kultsum.

Sebenarnya masih ada satu calon putra ketiga. Namun janin yang kerap disebut bernama Muhsin ini meninggal dalam kandungan karena Fatimah keguguran.

Nabi Muhammad wafat pada 8 Juni 632 Masehi. Tidak sedikit referensi yang meriwayatkan bahwa sepeninggal Rasulullah, terjadi perselisihan antara Fatimah, juga Ali, dengan Abu Bakar dan Umar terkait siapa yang berhak menjadi pemimpin sebagai penerus Muhammad, juga mengenai hak warisan.

Terlalu banyak versi terkait bagaimana dan apa yang sebenarnya terjadi di antara orang-orang terdekat Rasulullah itu.

Terlepas dari kontroversinya, pemaparan Dr. Said Ramadhan Al-Buthy dalam buku Fikih Sirah (2010) barangkali bisa dijadikan semacam "jalan tengah" untuk menjembatani berbagai versi terkait hal ini.

Mengutip kitab al-Bidayah wa al-Nihayah gubahan Ibnu Katsir, diriwayatkan bahwa Ali telat datang ke pembaiatan Abu Bakar. Keterlambatan ini disebabkan lantaran perselisihan Abu Bakar dengan Fatimah menyangkut warisan Rasulullah. Namun, sebut Al-Buthy, Ali akhirnya sepakat mengenai penetapan Abu Bakar sebagai khalifah.


Misteri Kematian Fatimah

Enam bulan setelah Rasulullah meninggal, Fatimah disebutkan jatuh sakit, boleh jadi karena kesedihan dan berbagai kejadian yang menimpanya sepeninggal sang ayah. Salah satu gambaran mengenai duka Fatimah ini diceritakan Muzaffer Ozak dalam buku Irshad: Wisdom of a Sufi Master (1988).

"Setelah Tuan kita [Rasulullah] menghormati dunia-akhirat," tulis Ozak, "Fatimah tidak mau makan atau minum dan ia melupakan semua tawa dan kegembiraan. Ia memiliki rumah yang dibangun untuknya di mana ia tinggal siang dan malam, menangis untuk ayahnya yang tercinta."

Dalam satu riwayat dikisahkan, pagi tanggal 3 Ramadan tahun 11 Hijriah, Fatimah mandi dan mengenakan pakaian baru, kemudian berbaring di tempat tidur. Kepada Ali, Fatimah berkata bahwa saat-saat kematiannya sudah dekat.

Ali pun menangis, namun Fatimah menghibur suaminya agar jangan bersedih dan supaya menjaga anak-anak mereka. Fatimah juga berpesan, setelah meninggal nanti, ia tidak ingin dikuburkan dengan upacara pemakaman.

Lantaran waktu salat tiba, Ali berangkat ke masjid. Saat Ali tidak ada itulah Fatimah mengembuskan nafas terakhir. Kedua putra mereka, Hassan dan Husein, bergegas menyusul Ali ke masjid untuk mengabarkan berita duka itu. Mendengar istrinya tiada, Ali tak sadarkan diri.

Setelah siuman, Ali menuruti pesan terakhir istrinya. Fatimah dikuburkan secara diam-diam tanpa upacara. Tidak ada warga Madinah yang tahu selain Ali dan keluarga terdekat. Ali juga membuat tiga kuburan palsu supaya makam istrinya tidak dapat diidentifikasi. Demikian papar Hassan Amin dalam Islamic Shi'ite Encyclopedia (1968-1973).


Pusara Fatimah tidak pernah ditemukan. Penyebab awal kematian putri tersayang Rasulullah ini juga masih menyisakan misteri, sebagaimana yang digambarkan Lesley Hazleton dalam After the Prophet: The Epic Story of the Shia-Sunni Split in Islam (2009) berikut ini:

"Mungkin yang paling menyakitkan dari semua itu dalam bulan-bulan setelah kehilangan putra ketiganya adalah pengucilan yang ia derita. [...] Abu Bakar tidak diberitahu tentang kematiannya."

Baca juga artikel terkait RAMADAN 2019 atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Mufti Sholih