Salah Kaprah Sabun Antibakteri

Oleh: Wan Ulfa Nur Zuhra - 15 Oktober 2016
Dibaca Normal 2 menit
Dari iklan-iklan yang beredar, sabun antibakteri seolah menjadi jawaban untuk membunuh seluruh kuman di badan. Masyarakat Indonesia percaya. Produk-produk sabun yang mengklaim antibakteri pun jadi laris di pasar.
tirto.id - Seorang ibu menggandeng anak laki-lakinya yang siap berangkat ke sekolah. Sang ibu, lalu mengantarkan anaknya menuju tempat pemberhentian bus yang menjemputnya ke sekolah. Ketika ia dan anaknya berjalan, ada narasi yang menjadi latar belakang dan menggambarkan pikiran sang ibu.

“Dunia kita menjadi semakin kotor, karenanya saya harus selangkah lebih maju untuk melindungi si kecil dari kotoran dan kuman. Tapi ketika dia sendiri saya khawatir dia jatuh sakit, Saya beralih ke tingkat perlindungan terdepan,” ujar sang ibu.

Seorang lelaki berjas putih yang tampak sedang berada di laboratorium lalu menimpali pernyataan itu. “Secara ilmiah terbukti membunuh 100 kuman penyebab penyakit. Jadi, Anda yakin,” kata sang lelaki yang tampak seperti dokter atau ilmuwan.

“100 persen yakin,” tambah sang Ibu, seraya menyebut lagi nama sabun antibakteri itu.

Begitulah isi salah iklan televisi salah satu sabun antibakteri yang sering tayang tahun lalu. Iklan itu seolah menunjukkan bahwa sabun, sebagai salah satu sabun antibakteri, mampu membunuh kuman penyebab penyakit. Kandungan antibakteri yang biasanya ada pada sabun adalah triclocarban. Sabun merek Dettol dan Lifebuoy termasuk merek sabun yang mengandung zat tersebut.

Masyarakat pun percaya. Dettol masuk dalam tiga besar produk sabun yang memiliki pangsa pasar terbesar setelah Lifebuoy dan Lux. Menurut penelitian yang dilakukan MARS Indonesia, Lifebuoy menguasai 42,9 persen pasar. Di posisi kedua, ada Lux yang menguasai 20 persen. Pada tempat ke tiga, ada Dettol dengan penguasaan pasar 8,3 persen.

Lebih spesifik, MARS membuat riset penggunaan merek sabun berdasarkan kelas pendapatan. Merek Lifebuoy, LUX, dan Dettol adalah tiga merek yang digunakan masyarakat kelas menengah ke atas. Sedangkan masyarakat menengah ke bawah memilih menggunakan Lifebuoy, Shinzui, dan GIV. Dibandingkan empat merek sabun lainnya yang disebutkan, harga jual Dettol memang lebih mahal.

Pekan lalu, Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat mengeluarkan larangan menjual sabun antibakterial yang mengandung sejumlah bahan aktif, di antaranya triclosan dan triclocarban. Aturan itu hanya berlaku bagi sabun, tidak untuk tisu pembersih atau produk perawatan kesehatan.

Larangan ini bukan tanpa alasan, lembaga yang mengawasi makanan dan obat-obatan di Amerika itu tidak menemukan manfaat dari penggunaan sabun antibakteri. Sebaliknya, penggunaan dalam jangka panjang bahan aktif tersebut malah berbahaya. Ia bisa membuat bakteri kebal dan memengaruhi perubahan hormon.

“Perusahaan tidak bisa menunjukkan bahwa bahan-bahan tersebut aman untuk penggunaan sehari-hari dalam jangka panjang,” tulis otoritas FDA dalam siaran resminya. Sabun antibakteri tersebut juga dinilai tidak lebih baik dari menggunakan sabun biasa dan air dalam mencegah penyakit dan penyebaran infeksi.

“Konsumen boleh berpikir sabun antibakterial lebih efektif membunuh kuman, tetapi kami tidak memiliki bukti ilmiah yang menyatakan demikian,” ujar Direktur Pusat Evaluasi dan Penelitian FDA Janet Woodcock.



Sebelumnya, para produsen diminta untuk memberikan data tambahan tentang keamanan dan efektivitas bahan-bahan yang digunakan dalam sabun antibakteri. Ia termasuk data studi klinis yang menunjukkan produk tersebut lebih unggul dari sabun non-antibakteri dalam mencegah penyakit pada manusia atau mengurangi infeksi. Tetapi, para produsen gagal membuktikan dan memberikan data tersebut.

Menurut FDA, mencuci atau mandi dengan sabun biasa dan air mengalir tetap menjadi salah satu langkah yang paling penting yang bisa dilakukan konsumen untuk menghindari sakit dan mencegah penyebaran kuman ke orang lain.

Tahun 2013 lalu, sebenarnya sudah ada studi tentang betapa tidak pentingnya sabun antibakteri ini. Studi itu dimuat dalam Jurnal Kemoterapi Antimikroba. Salah satu peneliti utamanya adalah Min Suk Rhee dari Universitas Korea di Seoul.

Studi itu menemukan bahwa mencuci tangan dengan sabun antibakteri tak memberikan manfaat signifikan jika dibandingkan mencuci tangan dengan sabun biasa. Padahal, masyarakat biasanya membayar lebih mahal untuk mendapatkan sabun antibakteri dibandingkan sabun biasa. Di Indonesia, sampai saat ini, sabun-sabun antibakteri itu masih beredar bebas.

Baca juga artikel terkait SABUN atau tulisan menarik lainnya Wan Ulfa Nur Zuhra
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Wan Ulfa Nur Zuhra
Penulis: Wan Ulfa Nur Zuhra
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight