Saksi Mata Ledakan: Ledakan Dahsyat, Korban Terjebak

Saksi Mata Ledakan: Ledakan Dahsyat, Korban Terjebak
Tembok pabrik dijebol oleh aparat keamanan dan warga sekitar untuk menyelematkan para korban yang terperangkap dalam kebakaran besar di pabrik petasan Kampung Belimbing, Kosambi, Tangerang, Banten, Kamis (26/10/2017). tirto.id/Hafitz Maulana
Reporter: Felix Nathaniel
27 Oktober, 2017 dibaca normal 3 menit
Sesaat setelah ledakan, saksi pergi ke samping pabrik agak di ujung belakang, melihat ada karyawan yang sedang berusaha keluar. Banyak perempuan sudah terjebak di dalam meminta tolong.
tirto.id - Umurnya sudah lebih dari 60 tahun, tapi tutur katanya masih sangat lancar. Pria yang tinggal di Gedung Serbaguna Desa Cengklong tersebut sedang asyik mengabadikan apel pagi petugas Brimob Kalimantan Barat sesaat sebelum ledakan di pabrik kembang api terjadi.

Lukas Bonai namanya. Saat ledakan di pabrik petasan Kompleks Pergudangan 99, Jalan Raya Salembara, Kosambi, Tangerang terjadi, ia hanya berjarak sekitar 20 meter dari lokasi. Ia bertutur bahwa api berkobar sangat dahsyat dari halaman pabrik. Ia mengaku melihat ada mobil Toyota Avanza dan satu buah truk di halaman pabrik.

Hari itu, Kamis (26/10/2017), Brimob Kalimantan Barat kebetulan berada di Gedung Serbaguna Desa Cengklong. Kehadiran mereka sejak Rabu (25/10/2017), atau sehari sebelum peristiwa nahas itu terjadi masih belum jelas. Menurut Lukas, Kapolsek hanya menegaskan bahwa untuk sementara waktu ada anggota Brimob yang akan menginap, “katanya ada pengamanan buat kota Jakarta.”

“Langsung bunyi: Duar!! Ledakan langsung besar itu. Jadi tidak ada asap, tidak ada apa, tau-tau meledak gitu, bunyi aja kayak bom,” terang Lukas kepada beberapa awak media.

Begitu mendengar ledakan, Lukas dan anggota Brimob segera melongok keluar. Gerbang utama waktu itu dalam kondisi menutup. Lukas dan sejumlah anggota Brimob tidak mendobrak pintu depan karena api sudah telanjur membubung di halaman pabrik.

Ia pun memutuskan untuk pergi ke samping pabrik agak di ujung belakang. Ia melihat ada karyawan yang sedang berusaha keluar. Sekejap, sejumlah anggota Brimob berupaya mengambil dua tangga untuk membantu pegawai pabrik melarikan diri dari si Jago Merah.

“Tapi pria-pria semua, yang perempuan itu sudah terjebak di dalam minta tolong,” ungkapnya. “Suara perempuan. Saya dengar jelas banget itu.”

Mereka akhirnya mengambil martil seberat kira-kira 5kg untuk menjebol dinding samping tersebut. Namun, permintaan tolong masih terus menggema. Mereka kemudian berusaha membobol lubang lain untuk membantu pegawai pabrik agar bisa keluar. Saat itu, mendobrak tembok merupakan usaha yang paling terpikirkan, karena pegawai tidak bisa keluar dengan memanjat akibat terhalang atap seng yang terpasang erat.

Pada lubang ketiga yang dijebol, anggota Brimob dan Lukas menemukan generator yang masih belum tersentuh api. Namun mereka menyadari bahwa api – cepat atau lambat – akan segera merambat ke sana. Mereka pun sejenak mundur. Tak lama kemudian, ledakan kedua yang lebih dahsyat kembali membuncah. Menurut Lukas, anggota yang saat itu berusaha menjebol tembok langsung tiarap ke tanah.

Ledakannya begitu besar, lebih dari ledakan pertama. Badan Lukas bergetar, ia terjerembab ke tanah. Saat itu, satu dinding lagi telah hancur membuat lubang besar yang menganga dekat pintu masuk. Lubang itu adalah hasil ledakan kedua yang begitu dahsyat. Lukas menceritakan bahwa saat itu dinding Gedung Serbaguna sempat bergetar, tak ayal keramik pun sempat ada yang terlepas.

Dekat dari situ, hanya diselingi ruas jalan selebar kurang lebih 1,8 meter, ada SDN Kosambi 1. Sekolah tersebut cukup luas, sekiranya lebih dari 100 meter sampai ke begian belakangnya. Di sanalah, Bima (14), siswa kelas 8, sedang belajar bahasa Indonesia bersama sekitar 30 – 40 temannya. Terlindung di dalam gedung, Bima mengaku hanya mendengar suara ledakan yang begitu mengagetkan.

Bima dan teman-temannya kaget, mereka sontak berdiri dan melongok dari jendela – tentu guru mereka pun turut serta. Setelah mengetahui ada asap membumbung, guru mereka langsung menghentikan pelajaran. Ia membawa Bima dan teman-temannya ke kantin belakang. Seluruhnya diharap tenang dan tidak sembarangan mendekati sumber ledakan.

Bocah kelahiran Desa Belimbing itu memilih tetap berlari menuju ke rumahnya. Ia memang sempat merasa takut, tetapi dibuangnya jauh-jauh. Bima ternyata lebih mengkhawatirkan ibunya yang berada di rumah. Rumah Bima hanya terpaut sekitar 800 meter dari lokasi ledakan. Ketika mendapati ibunya aman dan rumahnya pun demikian, ia dan keluarganya langsung mengungsi ke tanah di belakang rumahnya.

“Takut, tapi lebih khawatir sama orang rumah,” tandasnya.

Kedahsyatan ledakan ini juga sempat diakui oleh Amu, salah satu warga Desa Belimbing yang bersebelahan dengan Desa Cengklong – keduanya dekat dengan pabrik kembang api. Ia menuturkan bahwa saat ledakan terjadi, ia sedang bekerja di pabrik karton sekitaran Kompleks Pergudangan 99. Atasannya segera memberi perintah untuk berhenti beraktivitas sebab takut ledakan tersebut akan berdampak luas, meski jarak tempat kerja Amu sekitar 3km jauhnya dari lokasi kejadian.

Amu baru sempat datang ke lokasi kejadian sekitar pukul 17.30 WIB setelah jam kerja selesai. Ia masih melihat asap bekas ledakan merambat ke udara. Saat itu Amu juga mendapati bahwa banyak bekas-bekas bubuk pembakaran petasan yang tersisa. Ia tidak tahu bau apa yang ia cium di tempat kejadian. Yang jelas, sejauh sekitar 300 meter dari lokasi ledakan, bau sangat tajam dari pabrik tersebut masih tercium.

Berdasar pantauan di lapangan, hingga pukul 00.30 dini hari, bau tersebut masih ada. Asap juga terpantau masih terus keluar dari lokasi kejadian. Hingga saat ini, diketahui ada 47 korban meninggal, 46 korban luka-luka, dan 10 orang yang tidak diketahui kabarnya. Total ada 103 pekerja yang ada di lokasi saat ledakan terjadi pukul 09.00 WIB pagi.

Saat berkunjung ke lokasi kejadian, Direktur Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (PPPK dan K3) Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker), Sugeng Priyanto, berjanji akan mengusut kasus ini bersama pihak berwajib dengan mendalam. Berhubung situasi malam itu tidak dimungkinkan untuk olah tempat kejadian perkara, Kemenaker akan kembali datang pada Jumat (27/10/2017).

“Korban akan kita cek, kemudian Kementerian Ketenagakerjaan akan membantu dalam hak-hak mereka, termasuk keikutsertaan mereka dalam BPJS akan kita lihat besok,” imbuhnya lagi.

Baca juga artikel terkait LEDAKAN GUDANG PETASAN atau tulisan menarik lainnya Felix Nathaniel
(tirto.id - fel/rat)

Keyword