Menuju konten utama

Saat Giliran Tiba, Segera Vaksin Dosis Ketiga

Pemberian vaksin booster bertujuan mempertahankan tingkat kekebalan serta memperpanjang masa perlindungan tubuh terhadap virus penyebab COVID-19

Saat Giliran Tiba, Segera Vaksin Dosis Ketiga
Ilustrasi dokter sedang menyuktikkan vaksin COVID-19. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada 18 Juli 2021 lalu mengungkap mayoritas publik (67%) setuju dengan program vaksinasi, tetapi tak sedikit pula yang menyatakan tidak bersedia divaksin. Alasan paling banyak adalah takut dengan efek sampingnya.

Padahal tak semua orang mengalami reaksi, dan reaksi yang muncul setelah pemberian vaksinasi COVID-19 atau yang dikenal dengan Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (KIPI) merupakan sesuatu yang wajar sebagai respons tubuh dalam membentuk kekebalan.

Ada 363 KIPI serius yang dilaporkan di seluruh provinsi di Indonesia sampai dengan 30 November 2021. “Namun kasus meninggal (sampai saat ini) belum ada,” ungkap Ketua Komisi Nasional KIPI Prof Hindra Irawan Satari. Justru, KIPI yang dialami atau dirasakan masih lebih ringan dibandingkan terkena atau mengalami komplikasi akibat COVID-19.

Mengapa Harus Vaksinasi Dosis Ketiga?

Hingga 7 Februari 2021, masyarakat yang sudah mendapat vaksinasi dosis pertama di Indonesia mencapai 186 juta dan vaksinasi dosis kedua sebanyak 131 juta. Sejak dimulai pada 12 Januari 2022, 5 juta orang juga sudah mendapatkan vaksin booster. Seiring dengan meningkatnya jumlah penerima vaksin ketiga, topik seputar KIPI pun kembali hangat diperbincangkan.

Penting dicatat, sebelum lebih jauh membahas soal KIPI dan bagaimana agar calon penerima vaksin siap menghadapinya, hal yang perlu lebih dulu disiapkan adalah pemahaman soal vaksin booster. Bahannya cukup banyak, mulai dari mengenal apa itu vaksin booster, seberapa penting, jenis-jenis vaksin yang direkomendasikan di Indonesia, sampai pengecekan tiket dan pengajuan jadwal vaksin.

Pemberian vaksin booster kepada masyarakat bertujuan untuk mempertahankan tingkat kekebalan serta memperpanjang masa perlindungan tubuh terhadap virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19. Untuk mendapatkannya, calon penerima vaksin wajib menunjukkan NIK dengan membawa KTP/KK atau melalui aplikasi PeduliLindungi, berumur 18 tahun ke atas, dan sudah mendapatkan vaksinasi primer dosis lengkap minimal 6 bulan.

Mengutip laman resmi Kementerian Kesehatan RI, calon penerima vaksin bisa mengecek tiket maupun jadwal vaksin booster secara mandiri lewat laman pedulilindungi.id dan aplikasi PeduliLindungi, lalu menggunakan tiket tersebut di fasilitas kesehatan atau tempat vaksinasi terdekat pada waktu yang sudah ditentukan.

Langkah untuk mengecek status dan tiket vaksin pada laman pedulilindungi.id terbilang mudah, cukup dengan memasukkan nama lengkap dan NIK, kemudian klik ‘Periksa’. Demikian pula lewat aplikasi PeduliLindungi, masyarakat cukup membuka aplikasi, masuk dengan akun yang terdaftar, dan klik menu ‘Profil’ dan pilih ‘Status Vaksinasi & Hasil Tes Covid-19’. Status dan jadwal vaksinasi booster otomatis akan muncul di akun. Masuk ke menu ‘Riwayat dan Tiket Vaksin’ untuk mengecek tiket.

Infografik Advertorial Le Minerale Booster Vaksin

Infografik Advertorial KIPI dan Cara Meminimalisirnya. tirto.id/Mojo

Pilah-pilih Jenis Vaksin Booster

Pemilihan jenis vaksin booster sepenuhnya menjadi hak calon penerima vaksin dengan mengacu pada kombinasi vaksin booster dari para peneliti (dalam dan luar negeri) serta yang telah dikonfirmasi juga oleh Badan Pemeriksa Obat dan Makanan (POM) dan Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI).

Pemberiannya disesuaikan dengan riwayat vaksin primer atau vaksin dosis lengkap (satu dan dua) yang diterima masyarakat—kecuali vaksin Janssen yang hanya satu dosis—dan mempertimbangkan juga ketersediaan vaksin di layanan vaksinasi. Untuk sasaran dengan dosis primer Sinovac, misal, akan diberikan setengah dosis AstraZeneca atau Pfizer, sedangkan untuk sasaran dengan dosis primer AstraZeneca akan diberikan satu dosis AstraZeneca atau setengah dosis Moderna atau Pfizer.

Badan POM bahkan sudah menerbitkan izin penggunaan darurat vaksin Sinopharm sebagai vaksin lanjutan. “Hal ini membuatnya jadi vaksin keenam yang direkomendasikan menjadi booster di Indonesia setelah penetapan CoronaVac/Sinovac, Pfizer, AstraZeneca, Moderna, dan Zifivax,” terang Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito dalam Keterangan Pers Perkembangan Penanganan COVID-19 di Graha BNPB yang disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden (8/2/2022).

Kelima jenis vaksin yang disebutkan oleh Prof Wiku sudah lebih dulu disetujui Badan POM pada 10 Januari 2022. Ada vaksin yang dikategorikan sebagai homolog (jenis vaksin primer dan booster sama), heterolog (jenis vaksin primer dan booster berbeda), atau bisa keduanya. Sinopharm sendiri merupakan booster homolog dan hanya untuk penerima berumur 18 tahun ke atas.

Mengatasi Efek Pasca-Imunisasi

Laiknya vaksin pertama dan kedua, pemerintah menyebut tak ada indikasi efek samping dengan gejala berat pada vaksin booster. Namun jika mengalami reaksi ringan, apa yang sebaiknya dilakukan?

Satuan Tugas Penanganan COVID-19, dalam laman resminya, menyarankan agar peserta vaksin beristirahat. Jika lengan bekas suntikan terasa nyeri, kompres dengan air dingin dan tetap gerakkan seperti biasa. Kemudian, jika dibutuhkan, minum obat penurun panas sesuai dosis yang dianjurkan. Keempat, perkara yang terlihat sederhana tetapi sungguh sangat penting: cukupi kebutuhan cairan dalam tubuh.

Sebenarnya memenuhi kebutuhan cairan tubuh tentu tak hanya penting dilakukan saat terjadi reaksi pasca-imunisasi. UNICEF bahkan mengungkap pentingnya menjaga hidrasi baik sebelum maupun sesudah vaksinasi. Efek samping vaksin yang paling umum terjadi meliputi nyeri otot, kelelahan, sakit kepala, dan demam. Tubuh yang terhidrasi dengan baik tak hanya mencegah kita dari rasa sakit tersebut, tetapi juga membantu mempersingkat durasi dan intensitas efek samping.

Air mineral bisa menjadi bekal yang baik bagi para calon penerima vaksin. Seperti yang kita tahu, mineral merupakan elemen penting bagi manusia, sayangnya tubuh kita tak bisa memproduksinya. Itulah mengapa kita perlu mengonsumsi makanan kaya mineral, antara lain daging dan sayuran hijau, serta minum air mineral berkualitas yang memiliki mineral esensial untuk memenuhi kebutuhan tubuh, salah satunya seperti Le Minerale.

Le Minerale berasal dari sumber mata air pegunungan terpilih yang memiliki kandungan mineral alami yang penting untuk tubuh. Selain itu, kemasan Le Minerale juga dilindungi dengan 3 proteksi berlapis: segel di tutup botolnya, ring pengaman, dan botol nya keras sebelum dibuka sehingga kandungan mineral alami nya tetap utuh sampai ke tangan konsumen.

Selain menjaga hidrasi serta mencukupi kebutuhan mineral tubuh dengan air mineral berkualitas seperti Le Minerale, makanan dengan gizi seimbang tak kalah penting untuk dikonsumsi, misal, sayuran hijau, kunyit, dan bawang putih yang kaya nutrisi serta dapat meningkatkan kekebalan tubuh. Buah musiman yang kaya vitamin C pun bisa membantu kita melawan KIPI.

Jika asupan sudah tepat, durasi dan kualitas tidur menjelang hingga pasca-vaksinasi juga perlu diperhatikan. Namun bukan berarti kita menggunakan sebagian besar waktu untuk bersantai. Lakukan aktivitas fisik atau olahraga ringan agar tubuh tetap bugar dan pikiran segar.

Lalu, kalau sudah mendapat vaksinasi booster, bukan berarti kita lantas jadi lebih kebal lagi terhadap virus dan tak akan menulari orang lain. Protokol kesehatan tetap nomor satu. Virus ibarat pencuri yang tengah menunggu kita lengah untuk masuk dan mengambil hal paling berharga: kewarasan, kesehatan jasmani dan rohani. Hati-hati.[]

(JEDA)

Penulis: Tim Media Servis