Menuju konten utama

Riset: 80 Persen Eksekutif Menggunakan Unverified Information

Sebuah penelitian terbaru mengatakan bahwa ternyata masih banyak ekskutif perusahaan menggunakan informasi yang kebenarannya belum terverifikasi sehingga mengakibatkan buruknya pengambilan keputusan-keputusan penting yang berdampak pada masa depan perusahaan.

Riset: 80 Persen Eksekutif Menggunakan Unverified Information
Ilustrasi [Foto/Shutterstock]

tirto.id - Sebuah penelitian terbaru mengatakan bahwa ternyata masih banyak ekskutif perusahaan menggunakan informasi yang kebenarannya belum terverifikasi sehingga mengakibatkan buruknya pengambilan keputusan-keputusan penting yang berdampak pada masa depan perusahaan.

Penelitian yang berjudul “Joining the Dots: Decision making for a new era” itu telah melakukan survei terhadap jajaran eksekutif di berbagai perusahaan besar di 16 negara. Hasilnya, terungkap bahwa para eksekutif mengakui bahwa mereka pernah melakukan pengambilan keputusan yang buruk, dimana lebih dari tiga perempat (80 persen) responden mengatakan bahwa mereka menggunakan informasi yang kebenarannya belum terverifikasi untuk membuat keputusan strategis.

Lebih lanjut, dalam penelitian yang digagas oleh Chartered Institute of Management Accountants (CIMA) beserta American Institute of CPAs (AICPA) itu, 42 persen responden juga mengakui bahwa perusahaan mereka harus rela kehilangan daya saing karena lambatnya proses pengambilan keputusan.

Penelitian tersebut mengatakan banyak pemimpin senior berjuang untuk membuat keputusan yang tepat, namun faktanya 72 persen perusahaan gagal dalam mengeksekusi setidaknya satu inisiatif strategis dalam tiga tahun terakhir, karena adanya kelemahan di dalam proses pengambilan keputusan mereka.

Beberapa faktor utama yang disoroti oleh laporan tersebut antara lain informasi yang berlebihan, di mana sebanyak 36 persen mengatakan bahwa perusahaan mereka tidak dapat menangani informasi yang berlebihan.

Penggunaan big data masih menjadi hal yang belum banyak dieksplorasi oleh perusahaan. Sebanyak 37 persen responden mengatakan bahwa big data membantu mereka, namun masih terdapat sebanyak 32 persen responden yang mengatakan bahwa big data malah memperburuk kinerja mereka.

Faktor yang lain adalah masalah birokrasi. Hampir sepertiga (29 persen) responden mengungkapkan satu permasalahan terbesar untuk mewujudkan pengambilan keputusan yang efektif adalah permasalahan koordinasi yang disebabkan beragamnya struktur organisasi dalam satu perusahaan dan rumitnya birokrasi.

Kepercayaan dan kerjasama menjadi faktor ketiga, di mana sebanyak 43 persen responden mengatakan tingkat kepercayaan para eksekutif perlu ditingkatkan dan 57 persen menyatakan kerjasama yang lebih aktif perlu ditingkatkan untuk memperbaiki pengambilan keputusan.

Faktor utama yang terakhir adalah struktur insentif. Sebanyak 61 persen pimpinan perusahaan mengakui kalau struktur insentif perusahaan mereka tidak membantu mendorong pengambilan keputusan untuk potensi bisnis jangka pendek, menengah, dan panjang.

CEO CIMA Charles Tilley mengatakan, “Pengambilan keputusan harus menjadi proses penting di dalam pengembangan bisnis yang perlu disempurnakan secara berkesinambungan.

“Para pimpinan perlu memiliki pola pikir yang terintegrasi, maksudnya, memiliki model bisnis yang jelas dan dirancang dengan baik dan mengorientasikan semua keputusan kepada model bisnis tersebut; dengan cepat mengumpulkan dan menganalisa semua informasi yang relevan dari tiap spektrum bisnis yang dijalankan; dan selalu fokus pada indikator kinerja kunci dibandingkan pada insting atau desas-desus.”

Baca juga artikel terkait BIG DATA atau tulisan lainnya

tirto.id - Bisnis
Reporter: Ign. L. Adhi Bhaskara