Kolumnis
Sejarawan dan Direktur Penerbit Komunitas Bambu

Reklamasi dan Kiamat Situs Sejarah-Budaya Jakarta

Kolumnis: JJ Rizal
09 November, 2017dibaca normal 5:30 menit
Adhi Budi Sulistyo—demikian nama Hakim Ketua itu—meminta Gubernur Ahok mencabut izin reklamasi Pulau G. Nelayan Teluk Jakarta bersorak. Gugatan mereka dikabulkan oleh PTUN Jakarta. Ahok yang sedang di RSUD Cengkareng menyatakan bakal tetap melanjutkan reklamasi. Sulistyo menyatakan SK Gubernur DKI Jakarta No. 2238/2014 yang diberikan Ahok kepada PT Muara Wisesa tidak sah.

Terdengar dalam pertimbangan keputusan hukum PTUN Jakarta pada 31 Mei 2016 bahwa izin reklamasi terbelit segambreng masalah. Sulistyo merinci bahwa izin reklamasi sarat pelanggaran hukum: tidak punya perda zonasi, amdalnya mengabaikan nelayan, bertentangan dengan undang-undang pengadaan lahan, tujuannya melulu bisnis bukan untuk kepentingan umum, dan membahayakan obyek vital negara. Belum lagi risiko-risiko seperti kerusakan lingkungan, pemiskinan nelayan, perubahan bentang alam fisik dan dampak biologi, sosial-ekonomi dan infrastruktur.

Namun, sederetan pertimbangan itu tidak menyebut bahwa reklamasi juga berpotensi membawa kiamat bagi situs sejarah-budaya Betawi-Jakarta. Aneh juga mengingat alasan putusan sidang itu berasal dari catatan kuasa hukum nelayan dan kesaksian sejumlah ahli.

Hal sama terjadi lagi ketika sejumlah lembaga masyarakat dan ahli yang bertahun berjuang menolak reklamasi menerbitkan “Makalah Kebijakan Selamatkan Teluk Jakarta” di LIPI pada 25 Oktober 2017. Sejarah dan kebudayaan rupanya aspek yang dilupakan dalam pembicaraan tentang dampak reklamasi di Teluk Jakarta. Artinya, ada satu unsur besar dan penting dari kehidupan penduduk Teluk Jakarta yang dilupakan sebagai pertimbangan.

Padahal ada riset dari IPB, ITB, juga Litbang Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, yang sudah diterbitkan dengan tajuk Dinamika Teluk Jakarta (2014) terkait dampak pembangunan Jakarta Giant Sea Wall serta reklamasi 17 pulau.

Buku itu menyebut, Pulau Onrust di Kepulauan Seribu yang sangat bersejarah itu akan lenyap. Saking sangat bersejarah, para sejarawan menyatakan tanpa menyebut Onrust tidak mungkin menulis sejarah awal Jakarta. Mengapa? Sebab jika Jakarta berakar pada Batavia, maka—seperti dikatakan sendiri oleh pendirinya Jan Pieterzoon Coen—tanpa Onrust tidak akan pernah ada Batavia. Onrust adalah pulau tempat Coen menggelar armada pada Desember 1618 untuk menahan 15 kapal yang dikomandani Thomas Dale, sang laksamana Inggris, yang mendukung penguasa Jayakarta, Pangeran Wijayakarta.

Onrust yang difungsikan sebagai bengkel kapal VOC sejak 1615 semakin berperan istimewa setelah Batavia berdiri. VOC, seperti yang diistilahkan oleh sejarawan C.R. Boxer, adalah “The Dutch Seaborne Empire” (Imperium Laut Belanda). Kehidupannya bergantung pada pelayaran. Sesudah beberapa bulan berlayar dari Eropa ke Jawa, atau dari India, Jepang, dan Ambon ke Batavia, kapal-kapal harus dibawa ke Onrust untuk diperbaiki.

Kualitas bengkel kapal Onrust dapat dibaca dalam laporan James Cook yang kapalnya, Endeavour, pada 1770 ditangani dengan sangat baik dari kerusakan hebat saat pelayaran keliling dunia. Saat itu Onrust dihuni 2.000 orang Belanda, Cina, Arab, India, Melayu, Jawa—yang mayoritas tukang kayu kapal terbaik. Saking sohor dan banjir order siang malam di pulau itu, orang bekerja tanpa henti. Hal inilah yang bikin pulau itu menyandang nama onrust atau “tanpa istirahat”.

Setelah masa Kompeni berakhir, Onrust menjalani aneka ragam fungsi: Sebagai sanatorium TBC, pos karantina haji, penjara, dan pemakaman. Salah satu yang terpenting adalah makam Ort, kakek M.H. Thamrin si pahlawan Betawi. Lantaran sejarahnya yang panjang dan kaya itu Onrust disebut “Taman Sejarah-Arkeologi” pada awal 1970-an.

Kebudayaan Maritim, Silat, dan Ahli Kapal Orang Betawi

Tapi sesungguhnya Onrust hanya salah satu dari situs sejarah-budaya Jakarta yang kaya dan terancam lenyap. Akan ada kehilangan situs sejarah-budaya yang lebih besar lagi jika reklamasi dilakukan.

Teluk Jakarta adalah kawasan akar sejarah-budaya Jakarta. Di sana bertebaran situs sejarah-budaya Jakarta. Sebab di sanalah lapis demi lapis awal sejarah berproses lalu mewariskan aneka kebudayaan yang hari ini dikenal dan diakui sebagai identitas Jakarta.

Sebut saja Orang Betawi sebagai penduduk asli Jakarta. Teluk Jakarta adalah pusat orientasi pertama sejarah budaya mereka. Orang Betawi mengaitkan asal-usul mereka terutama pada Nusa Klapa. Ini adalah kota bandar di tepian Teluk Jakarta yang disebut dalam peta Ciela, sebuah peta Jawa tertua yang ditemukan dan diriset oleh KF Holle pada 1876.

Nusa Klapa adalah akar untuk memahami mengapa di dalam kebudayaan Betawi dikenal “kembang kelapa”. Benda kebudayaan ini selalu hadir sebagai unsur penting dalam rites de passage atau ritus hidup mereka. Sebab, melalui “kembang kelapa” inilah mereka mengidentifikasi diri dengan Nusa Klapa. Dari Suma Oriental, laporan Tome Pires yang memuat kunjungannya bersama armada Portugis antara 1512–1515, diketahui kemudian bahwa Nusa Klapa telah menjadi Sunda Calapa, pelabuhan terpenting Kerajaan Sunda.

Aktivitas perniagaan Sunda Calapa bukan saja dengan aneka kerajaan di Nusantara, tetapi juga India, Cina, dan Portugis. Mereka memiliki mata uang sendiri yang beredar bersama aneka mata uang dari Cina, Malaka, dan Portugis. Hal yang hampir sama digambarkan pula dalam naskah Sunda, Sanghhyang Siksakandang ing Karesian, yang disusun sekitar 1518.

Pada 1527, Sunda Calapa diserang dan diduduki Demak. Sejarah baru pun dimulai oleh kepemimpinan yang bercorak Islam. Satu-satunya lukisan Kota Jayakarta yang dibuat pada 1607 oleh Cornelis Matelief de Jonge menunjukkan sebuah konsep kota kraton Jawa diperkenalkan untuk wilayah bandar yang disebut Jayakarta itu.

Pada 1619, arsitektur ruang Jayakarta diporak-porandakan melalui sebuah pertempuran. Di atas reruntuhannya, Jan Pieterzoon Coen membangun kota Kompeni yang benar-benar menjiplak kota Eropa, khususnya Amsterdam. Sejak 1621, kota ini resmi dinamai Batavia.

Sejak itu kebudayaan maritim Jakarta yang diwarisi dari masa Nusa Klapa, Sunda Calapa, dan Jayakarta mengalami kemunduran. Namun, alih-alih lenyap, kebudayaan tersebut memasuki bentuk dan babak baru. Kompeni mendatangkan aneka macam etnis sebagai cara untuk menghidupkan kota Batavia.

Hasilnya, di selatan Batavia muncul kebudayaan-sejarah yang secara antropologis digolongkan sebagai “Betawi Tengah” dan “Betawi Pinggir”. Sementara di sepanjang Teluk Jakarta muncul “Betawi Pesisir”. Di lautnya, yang bertaburan pulau-pulau, muncul sejarah kebudayaan Betawi “Orang Pulo”.

Hikayat Nakoda Asyik, satu khasanah sastra lama Betawi yang ditulis Sapirin bin Usman al-Fadli pada paruh kedua abad 19, memberi petunjuk kehidupan Betawi Pesisir dan Orang Pulo dengan lautnya saat itu masih menjadi pusat orientasi. Dikisahkan seorang pangeran, agar dapat menjadi raja yang bijak bestari, harus belajar ke pesisir dan melaut. Ini adalah suatu kesaksian bahwa pesisir dan laut Jakarta adalah ruang belajar bagi siapa pun yang ingin menemukan kemuliaan.

Masih bisa ditambahkan ihwal orientasi Betawi ke pesisir dengan menyebut kisah petualangan Si Pitung. Jago yang berasal dari kawasan orang Betawi pinggir ini melaju ke kawasan Betawi Pesisir untuk merampok rumah Haji Syafiudin, seorang juragan sero (konglomerat kapal) di Marunda. Sekali lagi ini adalah gambaran bahwa sampai awal abad 20 pun pesisir dan laut tetap menjadi pusat orientasi orang Betawi.

Kawasan pesisir dan laut Teluk Jakarta juga penting dalam sejarah-budaya silat Betawi. Teluk Jakarta adalah “tanah air” asal beberapa silat Betawi yang besar dan legendaris.

Bisa disebut misalnya Beksi, jenis silat yang paling besar pengikutnya di Jakarta dan sekitarnya. Silat ini dilahirkan oleh Lie Tjeng Hok di daerah Betawi Pesisir Dadap. Masih di kawasan Betawi Pesisir itu pula muncul silat Seliwa di daerah Bambularangan. Silat aliran Pamor Kurung lahir di Marunda, dikreasikan dari pertemuan dengan khazanah silat nelayan Cirebon.

Sementara orang Betawi Pesisir mengadopsi silat Sinding atau Satu Papan dari pelaut Bugis dan Mandar yang banyak bermukim di Kepulauan Seribu. Silat Mandor Kebo pun berkembang di Muara Gembong. Di kawasan Kepulauan Seribu, terutama di Pulau Panggang, lahir dan berkembang silat Nek Deli dan Nek Aing.

Sejumlah cerita rakyat berbasis persilatan juga lahir di kawasan Betawi Pesisir dan Orang Pulo, misalnya Si Ronda, Dara Putih, dan Sjeh Penganten. Kisah jago silat perempuan Mirah dari Marunda itu penting sebab mengoreksi citra bahwa kawasan pesisir dan laut tidak menghargai keseimbangan gender.

Sejarawan Denys Lombard pernah mengemukakan bahwa selain silat, teknologi perkapalan adalah bagian dari tradisi orang laut. Teknologi perkapalan orang Betawi Pesisir dan Orang Pulo sampai tahun 1980-an masih terlihat dalam bentuk berjenis-jenis perahu mereka.

Di lautnya berlayar Perahu Tembon, Curutan, dan Jegongan, Katir, Sokek, dan Jukung. Di muara-muara tiga belas sungainya hilir mudik Sampanan. Perahu-perahu itu menghubungkan pesisir Teluk Jakarta dengan pedalaman Jakarta melalui sungai-sungainya.

Masih terkait perahu area sungai ke muara—meskipun sering juga digunakan untuk menyusuri kawasan karang laut—tentu saja tak boleh dilupakan perahu Kole. Inilah perahu yang mengadopsi Kole-Kole dari Maluku. Saking pentingnya perahu ini dalam dunia kebudayaan Betawi, ia digunakan sebagai nama jenis sepatu yang harus digunakan laki-laki dalam rites de passage terpenting, yaitu perkawinan.

Perahu-perahu itu masih berlayar. Sebagai artefak masa lalu terus memikul tradisi sejarah panjangnya yang sudah dimulai orang Austronesia—para migran purba leluhur orang Betawi.

Bukan hanya akar yang menjelaskan asal-usul tetapi juga dikatakan oleh pakar arkeologi linguistik James T. Colins sebagai jawaban dari pertanyaan mengapa orang Betawi tidak berbahasa Jawa atau Sunda, tetapi berbahasa Melayu di tengah dua kebudayaan besar dan tua tersebut.

Demikianlah di Teluk Jakarta meski semakin redup hidupnya, tetapi sejarah dan kebudayaan maritim itu kini masih bernapas. Melaut yang mereka sebut babang adalah salah satu dari tiga pegangan hidup orang Betawi Pesisir dan Orang Pulo selain nderes (mengaji) dan nyambang (silaturahmi). Jaringan pelayaran kapal Pinisi orang Bugis yang tua adalah salah satu contohnya. Aneka produk aquatik tua seperti pengolahan tripang, terasi, dan pengeringan serta pengasinan ikan masih berjalan.

Perahu Tembon, Curutan, dan Jegongan, serta Katir, Sokek, dan Jukung masih berlayar di teluk Jakarta, bahkan sampai jauh ke Pantai Selatan, perairan Bangka Belitung, dan Laut Bali. Jaringan maritim yang membawa pertemuan budaya (cultural encounters) ini memungkinkan Jakarta memiliki situs-situs sejarah-budaya yang menjadi jejak panjang “kampung asal” orang Betawi dan identitas kosmopolitanisme Jakarta.

Berlatar belakang itu semua tampak jelas betapa reklamasi di Teluk Jakarta bukan saja melanggar UU No. 27 Tahun 2007 tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil; UU No. 2 Tahun 2012 tentang pengadaan tanah untuk kepentingan umum; UU No. 32 Tahun 2009 tentang pengelolaan dan perlindungan lingkungan hidup; dan UU No. 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang terkait kawasan lindung dan kawasan budidaya.

Tetapi reklamasi Teluk Jakarata juga melanggar UU No. 11 Tahun 2010 tentang bangunan sejarah dan cagar budaya. Sebab reklamasi bukan saja bakal membawa bencana ekologi, biologi, sosial-ekonomi, dan kemanusiaan, tetapi juga kematian bahkan kiamat besar, alih-alih penyelamatan, bagi cagar budaya dan situs sejarah kawasan pesisir serta kepulauan Betawi-Jakarta yang sudah sakratul maut itu.

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id.

Keyword