Advertorial

Puasa Juara, Mineral Terjaga

Ilustrasi makanan berbuka puasa. FOTO/iStockphoto
Oleh: Advertorial - 19 Mei 2020
Dibaca Normal 2 menit
Apa yang sebetulnya mesti dikonsumsi selama bulan puasa?
Puasa berarti ada pembatasan pada makan dan minum serta jam tidur. Hal ini akan berkaitan langsung dengan asupan energi dan pemanfaatannya untuk keseharian kita. Misalnya, kalau sedang tidak berpuasa, kita bisa mendapatkan asupan nutrisi tiga sampai bahkan lima kali sehari.

Namun saat berpuasa, umumnya kita hanya menerima asupan nutrisi sebanyak dua kali—saat sahur dan berbuka puasa—atau maksimal mungkin tiga kali, misalnya menghitung snack malam. Meski begitu, tubuh tetap butuh adaptasi karena jam makan kita saat Ramadhan, sebanyak apa pun, berlangsung berdekatan. Maka dari itu, kita senantiasa harus memperhatikan nutrisi yang masuk ke tubuh kita agar daya tahan tubuh dan metabolisme tubuh tetap terjaga saat puasa.

Tak dipungkiri, asumsi bahwa agar kuat berpuasa maka seseorang harus makan sebanyak mungkin masih melekat di kepala masyarakat kita. "Terkadang masyarakat juga percaya mitos bahwa makan banyak saat sahur dapat membuat kita kenyang sepanjang hari,” kata dokter Jovita Amelia, Ahli Gizi.

Ironisnya, alih-alih tahan lapar seharian, hal demikian justru malah menimbulkan gangguan kesehatan: mulai dari masalah pencernaan, sembelit, hingga sakit kepala dan stres.

Dalam pengalaman Ari Irfani, mahasiswa salah satu kampus swasta di Bandung, sebanyak apa pun porsi makannya saat sahur, tak jarang saat tiba waktu zuhur tenggorokannya sudah dialiri teh manis segar. “Makan banyak-banyak malah haus, perut juga begah.”

Lepas dari itu, dokter Jovita mengingatkan, mengonsumsi makanan berlemak, manis, atau karbohidrat berlebihan justru malah meningkatkan jumlah kalori dan memicu terjadinya obesitas.

Lantas, apa yang sebetulnya mesti dikonsumsi selama berpuasa?

“Tetap makanan bergizi seimbang, lalu (pilih) makanan yang tahan lama dalam menimbulkan rasa lapar, karbohidrat pilih yang kompleks dibanding nasi putih, (misal) bisa nasi merah, kentang, roti gandum,” kata Raissa E Djuanda, Dokter Spesialis Gizi Rumah Sakit Pondok Indah-Puri Indah, Jakarta.

Adapun untuk asupan lauk pauk yang beragam jangan lewatkan sayuran, buah, dan mikronutrien termasuk asam lemak omega tiga yang dapat diperoleh dengan mengonsumsi teri basah, ikan salmon, tuna, ikan sarden, atau lele. Raissa juga mengingatkan agar kebutuhan asupan protein harian terpenuhi guna meningkatkan massa otot dan menjaga sistem kekebalan tubuh terutama di masa pandemi ini.

Dan, jangan lupa, tak kalah penting adalah penuhi asupan air saat berbuka maupun sahur untuk menghindari rasa haus. WHO merekomendasikan orang-orang untuk meminum setidaknya 10 gelas (atau sekitar 2.400 ml) air dari buka puasa sampai sahur. Jika menggunakan standar botol minum 600 ml, 10 gelas akan setara dengan 4 botol.

Ahli kesehatan dan nutrisi, Maria Charlotte, juga pernah menjelaskan setiap orang minimal minum delapan gelas dalam satu hari selama Ramadan dengan pembagian rumus 2-4-2: dua gelas air saat buka puasa, empat gelas air di malam hari, dan dua gelas saat sahur. “Itu minimal, lebih dari itu juga tidak apa-apa selama tidak ada gangguan pada ginjal,” kata Maria.

Selain soal jumlahnya, para ahli juga menyarankan jenis minuman terbaik selama bulan puasa, yaitu air mineral, bukan air biasa. Di sini mineral akan sangat berperan, apalagi karena mineral akan hilang selama tubuh berpuasa. Mineral bukan hanya bisa menghindari kekurangan cairan selama berpuasa, melainkan juga berfungsi melancarkan metabolisme serta menjaga daya tahan tubuh.

Patut diketahui, meski mineral identik dengan air, faktanya, tidak semua air mengandung mineral. “Air mineral berasal dari reservoir bawah tanah. Tak seperti air minum biasa, air mineral tidak mengalami proses kimia,” terang situs Medical News Today. Situs itu juga menjelaskan, air mineral punya kandungan mineral lebih tinggi ketimbang air keran.

Lantas, apa saja kandungan mineral pada air mineral?

Jawabannya: Kalsium, magnesium, potasium, natrium, bikarbonat, besi, dan seng (zinc). Salah satu elemen tersebut, magnesium, punya peran penting dalam mengatur tekanan darah, kadar glukosa darah, hingga fungsi saraf. Sekadar menyebut lima contoh, kekurangan magnesium menyebabkan kehilangan nafsu makan, kelelahan, lemah otot, hingga mual, dan muntah—perkara yang semestinya tidak terjadi lebih-lebih saat tengah berpuasa.

Produk Premium

Saat ini, kebutuhan tubuh akan mineral bisa terpenuhi dengan rutin mengonsumsi Le Minerale. Produk air minum kepunyaan PT Tirta Fresindo Jaya ini bersumber dari mata air pegunungan terpilih yang diambil dari kedalaman 100 meter di bawah tanah.

Selain itu, perusahaan juga mengemas produk dengan perlindungan ganda demi menjaga kemurnian air mineral, tanpa sentuhan tangan manusia. Le Minerale dilengkapi dengan segel yang rapat sehingga dijamin lebih higienis. Botolnya yang keras sebelum dibuka juga berguna untuk melindungi isi dan mineralnya, sehingga lebih aman untuk konsumen.

Le Minerale tersedia di pasaran dalam ukuran 330 ml, 600 ml, dan 1500 ml sehingga bisa jadi stok yang praktis dikonsumsi sehari-hari di rumah.

Kesehatan, kita tahu, adalah investasi jangka panjang. Mereka yang berpuasa di tengah pandemi seperti saat ini dituntut lebih ekstra menjaga kesehatan tubuhnya. Dengan kandungan mineral alami, rasa-rasanya tidak berlebihan jika pihak Le Minerale menyebut produknya sebagai pilihan ideal selama berkegiatan di rumah saja: “Air mineral yang berkualitas seperti Le Minerale mengandung mineral alami, tersegel rapat agar higienis, dan botolnya keras sebelum dibuka agar isi dan mineralnya utuh hingga ke tangan kamu!”

Pada akhirnya gaya hidup sehat, asupan makanan bergizi, dan minuman yang berkualitas—dengan mineral yang terpenuhi—akan membuat puasa kita juara. Ah, puasa juara. Betapa banyak orang yang mendambakannya.
DarkLight