Profil Vaksin Sinopharm & Moderna yang akan Dipakai Vaksin Mandiri

Oleh: Addi M Idhom - 26 Februari 2021
Dibaca Normal 4 menit
Vaksin Sinopharm dan vaksin Moderna rencananya akan digunakan dalam program vaksinasi gotong royong atau vaksinasi mandiri.
tirto.id - Vaksinasi gotong royong atau vaksin mandiri direncanakan bakal menggunakan vaksin Covid-19 buatan Sinopharm dan Moderna. Rencana ini diungkapkan Juru Bicara Vaksin COVID-19 dari PT Bio Farma Bambang Heryanto pada Jumat (26/2/2021).

Menurut Bambang PT Bio Farma (Induk Holding BUMN Farmasi) telah menjajaki kemungkinan impor vaksin Covid-19 dari Moderna dan Sinopharm. Rencananya, impor vaksin Sinopharm dan Moderna akan dilakukan oleh anak perusahaan Holding BUMN Farmasi, yakni PT Kimia Farma Tbk.

"Saat ini Bio Farma sudah mulai menjajaki dan melakukan pembicaraan supply vaksin dengan prinsip harus berbeda dengan vaksin program [pemerintah]," kata Bambang dalam konferensi pers yang disiarkan kanal Youtube Kemenkes RI.

Bambang menyatakan penggunaan vaksin Covid-19 dalam vaksinasi gotong royong akan dilakukan sesuai peraturan perundang-undangan. Maka itu, vaksin yang akan diimpor untuk vaksinasi gotong royong juga harus lolos uji BPOM dan mendapat izin penggunaan darurat ataupun nomor izin edar.

Vaksinasi gotong royong telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 10 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Vaksinasi dalam Rangka Penanggulangan Pandemi COVID-19.

Permenkes tersebut mengatur bahwa vaksinasi gotong royong harus memakai vaksin berbeda dari vaksin Covid-19 di program pemerintah. Adapun vaksinasi pemerintah yang digelar gratis memakai vaksin Sinovac, AstraZeneca, Novavac, dan Pfizer.

Regulasi yang sama sekaligus mengatur bahwa pengadaan vaksin Covid-19 untuk vaksinasi gotong royong dilakukan oleh Kementerian BUMN melalui PT Bio Farma.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi menegaskan vaksin impor yang dipakai dalam vaksinasi gotong royong tidak boleh dijual ke individu.

Kata Nadia, vaksin untuk vaksinasi gotong royong akan didistribusikan ke perusahaan-perusahaan yang akan memberikan vaksin Covid-19 kepada para karyawan, buruh dan keluarganya.

Perusahaan juga harus memberikan vaksin itu secara gratis kepada karyawan, buruh, maupun keluarganya.

"Perusahaan harus melaporkan individu-individu, baik karyawan, buruh ataupun keluarganya, yang menerima vaksinasi gotong royong, kepada Kemenkes," ujar dia.

Selain itu, pelaksanaan vaksinasi mandiri harus dilakukan oleh perusahaan dengan menggandeng fasilitas kesehatan swasta. Maka itu, vaksinasi gotong royong tidak akan dilaksanakan di fasilitas kesehatan milik pemerintah.

"Besaran tarif maksimal untuk pelayanan vaksinasi gotong royong ini akan ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan," ujar Nadia.

Berikut adalah profil vaksin Sinopharm dan Moderna yang rencananya akan dipakai dalam vaksinasi mandiri (gotong royong), seperti dikutip dari The New York Time dan sejumlah sumber lain.


Profil Vaksin Sinopharm: Harga, Hasil Uji Klinis, Efikasi

The Beijing Institute of Biological Products mengembangkan vaksin corona dari virus yang sudah dilemahkan (platform inactivated viruses). Kandidat vaksin itu lalu diuji klinis oleh salah satu perusahaan milik negara di Cina, Sinopharm.

Pada 30 Desember 2020 lalu, Sinopharm mengumumkan bahwa hasil uji klinisnya menyimpulkan bahwa vaksin bernama resmi BBIBP-CorV tersebut memiliki efikasi 79,34 persen. Hal itu lantas diikuti keputusan pemerintah China untuk mengizinkan penggunaan vaksin Sinopharm.

Namun, perusahaan tersebut belum mempublikasikan detail hasil uji klinis fase 3 vaksinnya. Pada November 2020 lalu, petinggi perusahaan ini mengklaim vaksin BBIBP-CorV sudah diberikan pada hampir 1 juta orang di China.

Sebelumnya, pada Juni 2020, Beijing Institute menyatakan bahwa kandidat vaksin tersebut telah berhasil diujikan kepada monyet. Lantas, hasil uji klinis tahap 2 menunjukkan vaksin Sinopharm aman untuk manusia.

Uji klinis fase 3 vaksin Sinopharm lalu dilakukan di sejumlah negara selain China, termasuk Uni Emirat Arab, Mesir, dan Yordania, Maroko dan Peru. Hingga Oktober 2020 lalu, vaksin Sinopharm Vaksin telah diberikan kepada lebih dari 31.000 orang di sejumlah negara Timur Tengah.

Pada 14 September 2020, Uni Emirat Arab memberi persetujuan darurat untuk vaksin Sinopharm sehingga bisa disuntikkan pada petugas kesehatan, dan kemudian pejabat pemerintah.

Kurang dari 2 bulan kemudian, pada 9 Desember 2020, Uni Emirat Arab memberikan persetujuan penuh untuk pengguanaan vaksin Sinopharm sekaligus mengumumkan tingkat efektivitasnya sebesar 86 persen. Sementara pada 14 Desember 2020, penggunaan vaksin itu juga disetujui di Bahrain.

Sejak itu, sejumlah negara di Timur Dekat turut mengesahkan persetujuan yang sama. Pada 29 Januari 2021 lalu, misalnya, Hongaria menjadi negara Eropa pertama yang menyetujui vaksin Covid-19 buatan Cina, dengan mengesahkan penggunaan vaksin Sinopharm.

Sementara pada bulan Februari 2021, ketika kekhawatiran berkembang tentang mutasi baru virus corona, para peneliti China menguji BBIBP-CorV terhadap varian B.1.351, yang berasal dari Afrika Selatan.

Mereka melaporkan bahwa respons antibodi yang dibuat oleh vaksin Sinopharm hanya sedikit lebih lemah terhadap B.1.351. Namun, hasil studi tersebut belum dipublikasikan dalam jurnal medis.

Berapa harga vaksin Siniopharm? Mengutip SCMP, pada Agustus 2020 lalu, pimpinan Sinopharm, Liu Jingzhen mengatakan bahwa harga dua dosis vaksin buatan perusahaannya sekitar 1.000 yuan (USD145).

Namun, merujuk pemberitaan Reuters pada 12 Februari 2021, Senegal telah membayar sekitar 3,72 juta dolar AS untuk 200 ribu dosis vaksin Sinopharm. Ini artinya harga vaksin ini sekitar 19 dolar AS per dosis.

Vaksin ini harus diberikan dengan 2 dosis dalam 2 kali suntikan. Jeda antara suntikan pertama dan kedua selama 3 pekan.


Profil Vaksin Moderna: Harga, Podusen, Efikasi

Vaksin bernama resmi mRNA-1273 dikembangkan oleh perusahaan bioteknologi yang berbasis di Boston, AS, yakni Moderna. Vaksin ini dikembangkan dengan metode mRNA, sama seperti Pfizer. Uji klinis fase 3 vaksin Moderna telah dimulai pada Juli 2020 dengan melibatkan 30 ribu relawan.

Dengan tingkat efikasi mencapai 94,5 persen, vaksin Moderna telah mendapatkan izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) pada 18 Desember 2020.

Pada awal Januari lalu, Moderna telah menyuplai 18 juta dosis vaksin untuk kebutuhan AS. UEA vaksin Moderna juga telah diterbitkan oleh Uni Eropa, Israel, Swis, Kanada, dan Inggris pada Desember 2020 dan Januari 2021..

Harga vaksin Moderna diperkirakan sekitar 10-50 dolar AS per dosis. Vaksin Moderna perlu disuntikkan 2 dosis dengan interval 4 pekan. Vaksin ini bisa bertahan di suhu minus 20 derajat celcius selama 6 bulan.

Moderna menargetkan memproduksi 600 juta sampai 1 miliar dosis vaksin pada 2021. Produksi vaksin Moderna dilakukan di AS, Swis, dan Spanyol, demikian dilaporkan Financial Times.

Vaksin Moderna harus diberikan 2 dosis, dengan penyuntikan masing-masing dosis memiliki interval 4 pekan. Agar bertahan lama vaksin ini harus disimpan dengan suhu minus 20 derajat Celcius. Vaksin ini hanya bertahan 30 hari jika didinginkan pada suhu antara 2-8 derajat celcius.

Mengutip laporan CDC, penyuntikan vaksin Moderna umumnya menyebabkan efek samping berupa: rasa sakit, pembengkakan dan kemerahan di tangan. Efek samping lainnya adalah: panas-dingin, kelelahan, dan sakit kepala.

Efek samping itu biasanya mulai dalam satu atau dua hari setelah mendapatkan vaksin. Gejala ini mungkin terasa seperti gejala flu dan bahkan memengaruhi kemampuan seseorang untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Namun, gejala tersebut akan hilang dalam beberapa hari.

Pada Desember 2020 lalu, sempat muncul kabar vaksin Moderna menyebabkan pembengkakan wajah sementara pada dua peserta penelitian, menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA). Dua peserta ini ternyata baru saja menjalani prosedur filler pada wajah mereka (untuk tujuan kosmetik).

Meski begitu, sebuah penelitian terbaru mengungkapkan bahwa vaksin Moderna mampu melawan virus corona varian baru yang diidentifikasi di Inggris (B.1.1.7) dan yang pertama kali ditemukan di Afrika Selatan (B.1.351).

Hal itu terungkap dari hasil studi ilmuwan dari Moderna yang berkolaborasi dengan National Institute of Allergy and Infectious Diseases. Hasil studi tersebut dirilis pada 25 Januari 2021.


Baca juga artikel terkait VAKSIN SINOPHARM atau tulisan menarik lainnya Addi M Idhom
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Addi M Idhom
Editor: Agung DH
DarkLight