Prahara di Tubuh Telltale Sang Pembuat Gim The Walking Dead

Reporter: Renalto Setiawan, tirto.id - 1 Okt 2018 05:01 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Kesuksesan Gim The Walking Dead bagi Telltale mempunyai dua sisi, sebagai lambang kesuksesan juga menjadi awal dari kemunduran.
tirto.id - Telltale sedang berada di titik nadir. Napas pengembang video gim yang berdiri di San Rafael, Amerika Serikat tersebut terengah-engah, langkah mereka gontai, dan masa depan mereka tak jelas. Berdiri pada 2004 lalu, Telltale saat ini berada di ambang kebangkrutan.

Padahal, sekitar enam tahun sebelumnya, Telltale banyak mendapatkan pujian karena terobosan yang mereka lakukan pada dunia gim. Mereka adalah salah satu pionir episodic game. Sebuah permain video gim jangka pendek yang secara komersial dirilis sebagai sebuah installment dari sebuah serial besar yang berkelanjutan.

Salah satu episodic game yang membuat nama Telltale melambung adalah gim The Walking Dead [Season 1] yang dirilis pada 2012 lalu. Gim besutan Jake Rodkin dan Sean Vanaman ini secara mengejutkan laris manis di pasaran. Dibuka dengan episode pertama yang berjudul “A New Day” pada 22 April 2012 dan ditutup dengan episode lima yang berjudul “No Time Life” pada 20 November 2012, pada Januari 2013 The Walking Dead sudah terjual 8,5 juta episode. Gim ini menghasilkan pendapatan sekitar 40 juta dolar Amerika. Dan pada Juli 2014, The Walking Dead semakin membuat Telltale tersenyum lebar karena berhasil terjual sebanyak 28 juta episode.

Kesuksesan gim yang menguatkan storytelling tersebut tidak hanya selesai di dalam angka penjualan saja. The Walking Dead ternyata juga mendapatkan respons positif dari kritikus gim. Dalam setiap episode The Walking Dead, Metacritic, salah satu situs kritik gim ternama, tidak pernah memberikan nilai di bawah 78. Bahkan, dalam episode terakhir gim tersebut, nilai terendah yang diberikan Metacritic adalah 88 [untuk konsol PS3].

Salah satu alasan mengapa “No Time Life” mendapatkan nilai bagus adalah endingnya yang begitu emosional: Clementine, seorang gadis kecil dalam gim tersebut, terpaksa menembak mati Lee Everett, protagonis utama dalam gim tersebut, karena Lee sudah terinfeksi oleh gigitan zombie.

Puncak dari kedigdayaan gim The Walking Dead kemudian terjadi dalam sejumlah penghargaan gim tahunan. Dalam Spike Video Game Award 2012 dan GameBeat’s Game of The Year Award 2012, The Walking Dead dinobatkan sebagai gim terbaik pada 2012. Dalam Spike Video Game Award 2012, Telltale juga dinobatkan sebagai studio gim terbaik pada 2012.

Sayangnya, kesuksesan gim The Walking Dead tersebut menjadi awal dari prahara yang menimpa Telltale. The Walking Dead seperti sebuah pedang bermata dua, dan salah satu mata pedangnya itu akhirnya melukai tuannya sendiri.

Perubahan Kebijakan


Menurut laporan investigasi The Verge, setelah kesuksesan The Walking Dead, Telltale menjadi lebih produktif dalam menciptakan gim. Pada 2013, mereka langsung merilis dua episodic games, The Wolf Among Us dan The Walking Dead: Season 2. Setelah itu, gim-gim lainnya seperti Game of Thrones, Batman, Guardian of The Galaxy, hinggga Minecraft juga antre digarap.

Untuk mendukung produktivitas tersebut, Telltale kemudian menambah karyawannya yang semula hanya berada di kisaran 100 orang menjadi sekitar 300 orang. Mereka juga sering melakukan rotasi terhadap para karyawannya, sehingga setiap karyawan bisa terlibat di dalam setiap gim yang dikembangkan.

Andrew Langley, mantan programer dan desainer Telltale yang bekerja pada 2008 hingga 2015 lalu, kemudian menyebut bahwa keadaan studio mulai mengalami perubahan yang sangat signifikan. “Kami mulai dari tim kecil dan menjadi sebuah tim yang sering berkelahi di dalam studio raksasa yang dipenuhi oleh lebih dari 300 orang. [Saat] Anda berjalan di sekitar studio, Anda tidak akan mengenali siapa pun lagi.”

Masih menurut The Verge, Perubahan yang terjadi di Telltale ternyata bukan hanya soal jumlah karyawan dan rotasi pekerjaan saja. Kultur kerja di Telltale pun ikut berubah. Karena tuntutan produksi yang tinggi, para petinggi tak jarang ikut campur dalam urusan pengembangan gim.

Menurut salah satu mantan karyawan, para karyawan juga diperlakukan seolah tidak mempunyai kehidupan lain selain bekerja. Mereka seringkali bekerja selama 14-18 jam dalam sehari selama berminggu-minggu. Campur tangan para atasan itu dan pekerjaan yang tiada henti kemudian membuat para karyawan tak mampu memaksimalkan ide untuk menghasilkan karya terbaik. Alhasil, Telltale pun terlihat mulai mementingkan kuantitas daripada kualitas.

Infografik Prahara di tubuh telltale



“Fokus ke dalam kualitas benar-benar mulai beralih ke ‘ayo kita buat sebanyak mungkin episode sebisa kita’,” kata salah seorang mantan karyawan Telltale yang pernah bekerja di bagian pengembangan.

Dampak tidak betah, para karyawan terbaik Telltale pun akhirnya berontak. Vanaman dan Rodkin, duet kreatif The Walking Dead, memilih cabut, diikuti Adam Hines, Cuck Jordan, Dave Grossman, dan Mike Stemmle. Pada 2017 lalu, karyawan veteran Nich Herman, Adam Sarasohn, Pierre Shorette, dan Dennis Lenart bahkan memilih merapat ke Ubisoft. Dari situ, Telltale benar-benar mulai melangkah menuju jurang yang paling dalam.

Alih-alih mendapatkan penghargaan, gim-gim keluaran mereka justru menuai kritik negatif. Pada 2015 lalu, di situs Kotaku, Kirk Hamilton menceritakan bahwa banyak terdapat bugs di dalam gim keluaran Telltale. Salah satunya adalah dalam gim Game of Thrones. Keberadaan bugs tersebut sangat mengganggu, para pemain gim di sistem operasi iOS bahkan mengularkan komentar-komentar yang tidak mengenakkan: dari “bencana”, “tidak bisa dimainkan”, “buggy”, hingga “rusak”.

Selain itu, melalui tulisannya di Vice, Patrick Klepek juga melaporkan bahwa secara teknologi, gim-gim keluaran Telltale tidak mengalami perkembangan dari tahun ke tahun. Gim Guardian of The Galaxy menjadi sasaran utama kritik Klepek tersebut. Menurutnya, ketika karakter dalam gim tersebut muncul dalam sebuah adegan, karakter tersebut seperti terlihat mengambang di udara. Untuk gim yang dimainkan di konsol-konsol gim modern, pemandangan seperti itu tentu sangat mengganggu.

PHK dan Penjualan


Beberapa waktu lalu, hanya dalam rentang waktu tiga hari, Telltale mengumumkan dua hal penting. Pertama, pada 21 September 2018, dengan berat hati, Telltale mengatakan mereka melakukan pemecatan besar-besaran kepada karyawannya. Untuk memenuhi tuntutan pekerjaan yang harus mereka selesaikan, Telltale kemudian membentuk skeleton crew yang hanya terdiri dari 25 orang karyawan. CEO Telltale Pete Hawley melakukan pengumuman via akun Twitter Telltale bahwa tahun ini memang periode yang sulit bagi perusahaan, tapi kesulitan itu tak bisa diatasi.

"Kami merilis beberapa konten terbaik pada tahun ini dan mendapat penerimaan dengan respons yang positif, tapi puncaknya itu tak menjelma sebagai penjualan," kata Pete Hawley.

Kedua, pada 24 September 2018, mereka memberikan kabar terbaru mengenai gim Walking Dead: Final Season. Talltale menepis kabar yang beredar bahwa dua episode terakhir dalam gim tersebut, episode 3 dan 4, tidak akan dirampungkan. Mereka mengaku masih mencari solusi agar proyek gim tersebut dapat diteruskan.

Menariknya, kabar yang muncul setelah pengumuman tersebut semakin menyudutkan Telltale. Dilansir dari Polygon, pada 21 September 2018 Telltale ternyata memecat 250 karyawannya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Mereka hanya diberi waktu selama 30 menit untuk meninggalkan gedung dan tidak ditawari pesangon.

Selain itu, dilansir dari IGN, Telltale untuk sementara waktu justru menghentikan penjualan gim The Walking Dead: Final Season [episode 1 dan 2], hanya beberapa hari setelah episode 2 dirilis ke pasaran. Hal ini dapat dilihat dari laman penjualan The Walking Dead: Final Season di PlayStation Store dan Microsoft Store. Sementara halaman penjualan The Walking Dead di PlaySatation Store dihilangkan, Microsoft Store memberikan keterangan bahwa The Walking Dead episode sudah tidak lagi tersedia.

Apakah Telltale akan mengucapkan selamat tinggal kepada dunia gim yang membesarkannya? Kita tunggu akhir prahara ini.

Baca juga artikel terkait THE WALKING DEAD atau tulisan menarik lainnya
(tirto.id - Hobi)

Reporter: Renalto Setiawan
Editor: Suhendra

DarkLight