Menuju konten utama

Polri Sebut Kelompok Intoleransi Bisa Jadi Awal Radikalisme

Setyo menjelaskan bahwa kelompok-kelompok intoleransi saat ini berkembang dengan mengatasnamakan agama tertentu dan menggunakan media sosial untuk menyebarkan pemahamannya ke masyarakat.

Polri Sebut Kelompok Intoleransi Bisa Jadi Awal Radikalisme
Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Setyo Wasisto menunjukkan barang bukti serpihan bom Kampung Melayu ketika memberikan keterangan pers di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (25/5). ANTARA FOTO/Reno Esnir.

tirto.id - Kepolisian Republik Indonesia (Polri) mengatakan kelompok-kelompok intoleransi yang berkembang saat ini dengan mengatasnamakan agama adalah cikal bakal dari radikalisme. Hal itu disampaikan oleh Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto dalam diskusi bertajuk Membedah Revisi Undang-undang Anti Terorisme.

Menurut Setyo intoleransi tidak boleh dibiarkan berkembang karena bisa menimbulkan terorisme. "Berawal dari intoleransi, jika dibiarkan bisa menjadi radikalisme. Jika bibit radikalisme ini mendapat suasana yang kondusif maka akan berkembang jadi terorisme," kata Irjen Setyo, di Jakarta, Sabtu (3/6/2017), seperti dikutip dari Antara.

Lebih lanjut Setyo menjelaskan bahwa kelompok-kelompok intoleransi saat ini berkembang dengan mengatasnamakan agama tertentu. Mereka, kata dia, menggunakan kecanggihan teknologi informasi dan media sosial untuk menyebarkan pemahamannya kepada masyarakat.

Oleh karena itu, Setyo mengatakan bahwa pihaknya khawatir jika kelompok-kelompok tersebut akan berkembang menjadi radikalisme. "Saya imbau masyarakat agar tidak masuk ke dalam kelompok-kelompok intoleran. Karena ini bisa menjadi permasalahan besar bangsa," kata dia.

Sementara itu, mantan terpidana kasus terorisme Sofyan Tsuari berpendapat semangat masyarakat dalam mempelajari agama sangat rentan dimanfaatkan oleh teroris untuk menyebarkan doktrin terorisme mereka, terutama masyarakat yang ingin mempelajari agama secara instan.

"Ada fenomena kesolehan sosial di masyarakat. Mereka banyak pelajari agama, namun cenderung suka belajar agama yang instan. Orang-orang seperti ini rentan," kata Sofyan Tsuari.

Menurut Sofyan, hal ini berbeda dengan ajaran agama yang diajarkan oleh Nahdlatul Ulama (NU) karena mengajarkan materi agama dengan pendekatan dari berbagai sumber ilmu.

"NU pendekatannya tidak menggunakan satu dalil saja tapi beberapa dalil, lalu dikembalikan masyarakat mau menggunakan dalil yang mana," katanya.

Namun, menurut dia, pendekatan-pendekatan seperti itu tidak disukai oleh sebagian masyarakat kosmopolitan. "Masyarakat suka dengan ceramah-ceramah dengan jawaban yang instan, tegas," katanya.

Ia mengatakan, agama yang diajarkan dengan pola ini sama dengan doktrin agama yang dibawa oleh para teroris untuk mengajarkan penerapan ajaran agama secara instan dan tegas. Menurut dia, jika fenomena ini kesolehan sosial ini dibiarkan, maka dikhawatirkan akan berkembang menjadi suatu ideologi radikal.

Baca juga artikel terkait INTOLERANSI atau tulisan lainnya dari Alexander Haryanto

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Alexander Haryanto
Penulis: Alexander Haryanto
Editor: Alexander Haryanto