Playstation 5 Vs Xbox Series X: Akhir Kompetisi Sony dan Microsoft?

Playstation 5 dan Xbox Series X. FOTO/playstation.com/xbox.com/
Oleh: Rangga Naviul W - 8 Oktober 2020
Dibaca Normal 3 menit
Pada awal 2019, para penggemar Sony dan Microsoft dikejutkan dengan berita kerjasama antara kedua perusahaan yang merajai industri game.
Drama Microsoft dan Sony dalam industri game bak aksi kejar-kejaran Agen FBI Carl Hanratty dan Frank Abagnale dalam Catch Me If You Can. Keduanya saling bersaing mengejar penjualan konsol game terbanyak. Dalam waktu yang berdekatan Sony dan Microsoft akan meluncurkan konsol terbarunya.

Playstation 5 akan rilis pada 12 November mendatang dalam dua versi yaitu Playstation 5 dan Playstation 5 digital edition. Sedangkan Xbox Series X diluncurkan dua hari lebih awal atau pada tanggal 10 November. Microsoft juga meluncurkan Xbox Series S yang lebih murah tetapi lemah dalam beberapa aspek seperti grafik dan prosesor.

Banyak orang—termasuk saya—mengira Playstation 5 dan Xbox Series X akan menjadi laga lanjutan antara kedua raksasa teknologi ini. Tetapi kali ini Microsoft lebih mengutamakan layanan berlangganan Game Pass Ultimate dibandingkan penjualan konsol. Sony pun sudah melirik keuntungan dari penjualan digital. Terlebih pengguna Playstation Network semakin meningkat.

Meski akan segera berakhir, bagaimana kisah pertarungan dua perusahaan yang merajai industri game ini?

Sepak Terjang Pertarungan Sony dan Microsoft

Sony lebih dulu masuk ke dalam industri game di akhir tahun 1994 dengan meluncurkan produk Playstation. Dilengkapi dengan kecanggihan CD-ROM, konsol ini mampu membawa Sony menyaingi Nintendo yang sedang menguasai industri lewat konsol Nintendo Entertainment System (NES) dan Super Nintendo Entertainment System (SNES).

5 tahun berselang, tepatnya pada Oktober 2000, Sony menjadi raja baru di industri game setelah merilis Playstation 2. Guinness World Records mencatat, konsol karya Ken Kutaragi ini sukses menorehkan penjualan sebanyak 157,68 juta unit. Hingga kini, belum ada konsol yang mampu mengalahkan rekor penjualan dari Playstation 2.

Kemajuan industri game berhasil menarik minat Microsoft. Di bawah supervisi Bill Gates, Microsoft merilis konsol tercanggih di masanya, Xbox. Meskipun menyediakan fitur Xbox Live, layanan yang memungkinkan penggunanya bermain secara daring, Xbox gagal merongrong kemahsyuran Playstation 2.

Kekalahan pertama dalam perang konsol game tidak menghentikan langkah Microsoft. Pada 2005, Microsoft mencuri start dengan merilis Xbox 360 yang sukses memikat pecinta konsol game melalui keunggulan grafik High-Definition (HD) dan Xbox Live Arcade Games.

Menurut John E. Gamble dalam “Competition in Video Game Consoles: Sony, Microsoft, and Nintendo Battle for Supremacy” (2007), rilisnya Xbox 360 satu tahun sebelum kehadiran Playstation 3, memberikan Microsoft berbagai keuntungan, salah satunya keberhasilan menjual sebanyak 5 juta unit Xbox 360. Penjualan konsol ini memberi kontribusi terbesar bagi keuntungan Microsoft di tahun fiskal 2006 yang mencapai $4,256 juta. Dengan terjualnya lebih dari 5 juta Xbox 360 sebelum peluncuran PlayStation 3, pengembang game tidak punya banyak pilihan selain mengembangkan game untuk Xbox 360.

Tingginya angka penjualan Xbox 360 membawa angin segar bagi layanan Xbox Live. Layanan ini berhasil menambah keuntungan Microsoft melalui iklan, biaya langganan Xbox Live Gold, dan biaya mengunduh film bagi pengguna Xbox Live Silver—kini menjadi Xbox Live Free. Selain meraup keuntungan besar, Microsoft memanfaatkan momentum dengan meningkatkan penjualan aksesoris dan menurunkan biaya produksi.

Langkah cepat yang diambil Microsoft sukses mengalahkan Sony di beberapa tahun awal penjualan. Playstation 3 baru dirilis oleh Sony pada November 2006 dengan harapan akan mengulang kesuksesan Playstation 2.

Gamble mencatat perilisan Playstation 3 sebagai langkah terburu-buru dari Sony. Berbagai masalah muncul sejak awal perilisan. Dengan harga $499 dan $599, Playstation 3 dianggap terlalu mahal. Apalagi saat perilisan hanya disertai 24 judul game. Dari semua judul, tidak ada game yang bisa dimainkan dalam resolusi High-Definiton. Para pengembang game terpaksa mempersingkat waktu pengembangan akibat tanggal rilis yang berubah. Masalah lainnya terjadi pada bagian produksi sehingga persediaan Playstation 3 di pasar sangat terbatas.

Perlahan tapi pasti, Sony mulai membenahi kekurangan Playstation 3. Pada 2011 harga konsol dipangkas menjadi $249. Sony juga meluncurkan berbagai game eksklusif yang hanya dapat dimainkan di Playstation 3 seperti The Last of Us, Infamous, Uncharted, Gran Turismo 5, dan Metal Gear Solid 4. Strategi ini membuahkan hasil. Hingga penjualannya dihentikan pada 2017, statista mencatat penjualan Playstation 3 sebanyak 87.4 juta unit. Mengalahkan Xbox 360 yang terjual 85.8 juta unit.

Peluncuran Playstation 3 dianggap telalu terburu-buru dan menghasilkan berbagai masalah di awal peluncuran. Namun kesalahan ini tidak terulang saat Sony merilis Playstation 4 pada 15 November 2013. Sony membandrol konsol terbarunya dengan harga $399 atau $100 lebih murah dibandingkan konsol terbaru milik Microsoft, Xbox One. Selisih harga yang sama terulang pada konsol Playstation 4 Pro dan Xbox one X.

Selain berhasil memenangkan pertarungan harga, Sony juga konsisten dengan pengembangan berbagai game eksklusif. Diantaranya game God of War 4, The Last of Us II, Uncharted: The Lost Legacy, Insomniac’s Spider-Man, dan Ghost of Tsushima yang selalu menarik perhatian pecinta game.

Harga konsol yang lebih murah dan game eksklusif setidaknya berkontribusi pada pencapaian baru Sony. The Verge melaporkan Playstation 4 sudah terjual lebih dari 100 juta unit hanya dalam waktu 5 tahun 7 bulan. Sementara Playstation Network, dikutip dari Fortune, telah mencapai sebanyak 103 juta pengguna.




Pada Agustus silam, Sony mengumumkan laporan keuangan kuartal pertama (PDF) yang berakhir pada Juni 2020. Laporan tersebut menyebutkan, meski terjadi penurunan dalam penjualan konsol namun penjualan software digital mengalami peningkatan 83% year-on-year. Hasil penjualan ini memberikan Sony pendapatan sebesar $5.65 miliar.

Dari sisi penjualan konsol, Playstation 4 memang berhasil mengalahkan Xbox one. Namun, kecanggihan konsol besutan Microsoft ini tentunya menyaingi Playstation 4. Dari sisi performa konsol, misalnya, Xbox one memiliki resolusi 4K dan 60 FPS (Frame Per Second). User Interface (UI) Xbox one juga lebih ramah pengguna dan desainnya pun mirip dengan Windows 10.

Awal kerjasama Sony dan Microsoft

Pada awal 2019, para penggemar Sony dan Microsoft dikejutkan dengan berita kerjasama antara kedua perusahaan yang merajai industri game. Bloomberg melaporkan kerjasama tersebut bahkan mengagetkan para karyawan Playstation yang ternyata tidak mendapat informasi tentang adanya pembicaraan kerjasama antara Sony dan Microsoft.

Kedua perusahaan sepakat berkolaborasi untuk mengembangkan teknologi layanan cloud dan game-streaming. Kerjasama ini tampaknya terjalin setelah adanya ancaman baru di industri game. Pasalnya Google telah meluncurkan Stadia, sebuah layanan cloud gaming. Melalui layanan ini, Google berambisi untuk memudahkan para penggunanya dalam bermain game di semua perangkat. Kedepannya, Stadia berencana memanfaatkan platform Youtube yang sudah memiliki banyak konten game. Dengan satu klik, penonton video game di platform Youtube bisa langsung memainkan game tersebut. Selain Google, Amazon juga tidak ketinggalan mengembangkan layanan cloud gaming yang diberi nama Luna.

Dengan adanya pesaing baru di industri game, kompetisi penjualan konsol video game antara Sony dan Microsoft memang akan segera berakhir. Tetapi bagi para pecinta game, persaingan kecanggihan konsol dari kedua perusahaan tetap akan dinantikan.

Baca juga artikel terkait KONSOL GAME atau tulisan menarik lainnya Rangga Naviul W
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Rangga Naviul W
Editor: Windu Jusuf
DarkLight