Nasib PlayStation di Tangan Para Peretas

Oleh: Ahmad Zaenudin - 22 Oktober 2018
Dibaca Normal 3 menit
Sony menuntut Eric Scales di pengadilan California dalam kasus penjualan PS4 jailbreak.
tirto.id - Monika Pleyer Lee, advokat dari kantor Lee Law Office, Sony, raksasa elektronik asal Jepang, mengajukan tuntutan hukum kepada Eric Scales alias “Blackcloak13” di Pengadilan California, Amerika Serikat (AS).

Melalui dokumen berjudul “Complaint for Injunctive Relief and Damages Based On Copyright Infringement and Violation Of The Digital Millennium Copyright Act,” Sony memperkarakan Scales, penjual PS4 jailbreak, yang secara tak langsung telah mengajak orang “berhenti membeli video games”.

Unit PlayStation versi “Jailbreak” atau retasan memungkinkan pemiliknya memainkan video game bajakan di konsol itu, yang dijual Scales melalui eBay. Hingga tuntutan diajukan, Scales menawarkan lebih dari 60 video games PlayStation 4 yang bisa dimainkan cuma-cuma.

Secara tersirat, melalui dokumen tuntutan, aksi Scales merugikan Sony maupun pihak pengembang video games. Pasalnya, video game PlayStation 4 asli dijual antara $20 hingga $40 tiap kopinya. Menjual PlayStation versi Jailbreak sama saja menghilangkan pendapatan.


PlayStation 4 merupakan konsol seri terbaru yang dirilis Sony pada 20 Februari 2013. Pada seri ini, Sony membenamkan arsitektur x86 pada prosesor yang menunjang kinerja konsol ini. x86 sendiri merupakan nama umum dari arsitektur mikroprosesor yang diprakarsai oleh Intel. Lalu, pada PlayStation 4, pengguna bisa menggunakan aplikasi khusus bernama PlayStation App, aplikasi yang memungkinkan smartphone menjadi layar kedua konsol.

Sony juga menghadirkan PlayStation Now, layanan streaming game online untuk menunjang PlayStation 4. Dari dokumen tuntutan kepada Scales, Sony mengklaim telah menjual lebih dari 80 juta unit PlayStation 4 semenjak diperkenalkan ke pasaran.

Dilansir Torrent Freak, PlayStation 4 memegang tajuk “piracy-free” sejak diperkenalkan. Namun, di akhir 2017, tajuk tersebut lenyap dari dalam diri PlayStation 4. Kelompok peretas yang menamai diri KOTF alias Knight of the Fallen sukses menjebol pertahanan PlayStation 4.

Menggunakan exploit, sebagai kode yang menyerang keamanan komputer secara spesifik, video game bajakan bisa dijalankan di konsol tersebut. Sayangnya, exploit KOTF punya kelemahan. Pengguna yang ingin PlayStation 4-nya terbebas dari video game asli harus rela menurunkan versi firmware. Perusahaan ini adalah aplikasi khusus yang bertugas mengendalikan perangkat keras ke versi v1.76, yang dirilis pada Agustus 2014. Ini artinya, hanya video game jadul PlayStation 4 yang bisa dimainkan di konsol retasan itu secara cuma-cuma.

Unit PlayStation 4 yang dijual Scales nampaknya menggunakan teknik ini guna memungkinkannya memainkan video game bajakan.

Peretasan pada PlayStation 4 bukan cuma dilakukan KOTF. Dilansir Extrem Tech, tim peretas bernama Fail0verflow mengeluarkan exploit lain bernama “namedobj.” Sama seperti KOTF, exploit tersebut, jika dipasang, sanggup mengubah PlayStation 4 menjadi bisa memainkan video game bajakan. Tetapi, lagi-lagi, pengguna harus rela menurunkan versi firmware-nya ke versi v4.05.

Namun, tak seperti KOTF. Exploit bikinan Fail0verflow dipublikasikan di Github, dan si pembuatnya mewanti-wanti bahwa mereka “tak menyertakan kode apapun untuk melawan mekanisme anti-bajakan milik PlayStation.” Secara tersirat, exploit namedobj hanya ditujukan untuk pengetahuan semata.


Aksi meretas konsol agar bisa menjalankan video game bajakan bukan hanya menimpa PlayStation 4. Satu tingkat di bawahnya, PlayStation 3, juga kena. Kala itu, peretas George Hotz, sukses meretas PlayStation 3 untuk bisa menjalankan video game bajakan. Melalui situsweb miliknya, Hotz mengklaim berhasil meretas selepas konsol tersebut berumur 3 tahun, 2 bulan dan 11 hari. Menurut Hotz, “PlayStation 3 merupakan sistem yang benar-benar aman. (Saya membutuhkan) waktu selama 5 pekan (untuk meretasnya).”

Aksi Hotz meretas agar PlayStation 3 dapat menjalankan video game bajakan dilakukan melalui OtherOS, fitur yang memungkinkan pengguna memasang perangkat lunak, seperti Linux. Hotz lantas merancang Linux buatannya sendiri agar bisa memperdaya “Hypervisor,” sistem keamanan yang terpasang di PlayStation.

Melansir Wired, meretas PlayStation 3 pun bisa dilakukan mudah hanya dengan menggunakan perangkat USB. Kelompok yang menamai diri mereka PS Jailbreak, menjual USB tersebut secara online. Sebagaimana diwartakan The Guardian, meretas PlayStation 3 menggunakan perangkat khusus USB dimungkinkan karena PlayStation 3 bisa menjalankan aplikasi dari pengguna. Diduga, USB mengandung aplikasi “homebrew”, yang memungkinkan video game bajakan melewati pemeriksaan keamanan dari Sony. Ini mirip seperti aksi yang dilakukan Hotz.

Atas celah yang mengemuka itu, Sony lantas mengirim pembaruan Firmware dan mematikan fitur OtherOS.

Sesungguhnya, sistem keamanan bukan hanya terpasang di konsol. Semenjak PlayStation 3, Sony menggunakan Blue Ray sebagai medium video game ditempatkan. Menggantikan CD ataupun DVD. Pada Blu Ray terdapat “copy protection,” yang mengandung kata kunci atau tanda tangan digital untuk mengenkripsi sistem PlayStation. Jika kata kunci atau tanda tangan identik, video game bisa dijalankan. Jika tidak, video game yang dipasang adalah produk bajakan.

Sukarnya meretas konsol seperti PlayStation juga dipengaruhi karena kini bermain gim berlangsung online. Firmware konsol diperbarui secara otomatis secara online. Autentifikasi video game dilakukan pula secara online. Ini membuat, jika toh konsol beserta “kaset” video game bisa diretas, pengguna hanya bisa memainkannya secara offline.

Sony tak sendirian. Dreamcast, konsol video game dari Sega, tercatat jadi yang pertama terkena peretasan agar bisa memainkan video game bajakan. Lalu, Xbox pun terkena. Konsol ciptaan Microsoft itu mengalami nasib sial atas bocornya SDK (software development kit) konsol tersebut. Akibatnya, peretas memiliki akses low-level Xbox.


Infografik Playstation

Antara Eric Scales dan George Hotz


Sebelum Eric Scales dituntut Sony ke pengadilan, atas tindakan yang hampir mirip, George Hotz juga dituntut raksasa teknologi itu ke pengadilan. Meskipun sama-sama jadi pesakitan Sony, Scales dan Hotz bak langit dan bumi. Jika Scales dituntut karena tindakannya menjual versi jailbreak dari PlayStation 4, Hotz diperkarakan karena ialah yang meretas konsol video game populer itu. Tak hanya meretas, Hotz menyebarluaskan exploit yang dibikinnya hingga membuat peretas-peretas lain bisa beraksi.

Hotz bukan sosok sembarangan. Ia merupakan legenda di dunia peretasan. Kala usianya 17, Hotz sukses jadi orang pertama yang berhasil meretas iPhone (1st generation). Kala itu, Hotz menciptakan kode yang sanggup mengecoh baseband processor, chip pada iPhone yang berguna menentukan mana provider telekomunikasi yang dipakai, untuk bisa mendeteksi provider banyak provider. Akibatnya, iPhone yang hanya bisa digunakan pada provider AT&T, sanggup menggunakan provider lain.

Pada seri iPhone berikutnya, iPhone 3GS, Hotz merilis “purple1n,” exploit bagi iPhone.

Aksi peretasan Hotz berlanjut. Kala usianya menginjak 21 tahun, Hotz sukses meretas PlayStation 3, yang berujung pada sengketa hukum dengan Sony. Lalu, Hotz pun diketahui sukses meretas sistem mobil swakemudi untuk bisa dijalankan sesuai kemauannya.

Menurut klaim, Hotz pernah diminta Elon Musk bergabung pada Tesla, tetapi Hotz menolaknya. Pada usia 28 tahun, Hotz mendirikan Comma.ai, startup yang membikin sistem artificial intelligence bagi mobil. Salah satu produk yang dibuatnya ialah “Comma One,” paket perangkat lunak dan keras yang bisa mentransformasi mobil biasa menjadi pintar, seperti Tesla atau Waymo. Pada mulanya, Comma One dijual $1.000, tetapi Hotz berubah arah dan mempublikasikan kode sumber produk itu secara gratis di internet dan dinamainya “Openpilot.”

Hotz jelas berbeda dibandingkan Scules, dari dokumen yang dikirim ke pengadilan, Scules hanya seorang pedagang PlayStation versi jailbreak.

Baca juga artikel terkait PLAYSTATION atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)


Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra