Menuju konten utama

Pilpres Menghitung Hari, Tingkat Undecided Voters Masih Tinggi

Dalam berbagai survei, undecided voters atau mereka yang belum menentukan pilihan hampir selalu menyentuh angka 10 persen. Sebabnya ada beberapa, salah satunya karena kegagalan capres-cawapres meyakinkan mereka.

Pilpres Menghitung Hari, Tingkat Undecided Voters Masih Tinggi
Petugas sortir dan lipat surat suara menunjukan surat suara yang terdapat percikan tinta di surat suara DPR RI, di Gudang Logistik KPU Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa(19/2/2019). ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/pd.

tirto.id - Warga yang belum menentukan pilihan atau yang biasa disebut undecided voters masih jadi rebutan kedua kubu dalam Pilpres 2019. Soalnya, dari segi jumlah, mereka sangat mungkin menambah perolehan suara cukup signifikan.

Sepanjang Januari sampai Maret 2019, setidaknya ada 14 lembaga yang merilis hasil survei dan hanya dua yang menyebut undecided voters di bawah 10 persen: Cyrus Network sebanyak 5,3 persen lewat survei 18-23 Januari, dan Indomatrik sebanyak 7,99 persen lewat survei 21-26 Januari.

Mereka yang mengaku belum menjatuhkan pilihan pada 12 survei lain selalu berada di atas 10 persen. Bahkan Indobarometer pernah mengeluarkan angka 20,9 persen lewat survei 6-13 Februari--tertinggi di antara yang lain.

Empat survei terakhir juga menunjukkan angka undecided voters cukup tinggi: SMRC pada 24 Februari hingga 5 Maret dengan hasil 10,6 persen, Charta Politika pada 1-9 Maret dengan hasil 11 persen, Vox Populi pada 5-15 Maret dengan hasil 12,3 persen, dan terakhir CSIS pada 15-22 Maret dengan hasil 15,3 persen.

Sebagai gambaran, pada Pilpres 2014, selisih antara Joko Widodo-Jusuf Kalla dan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa hanya terpaut 6,3 persen. Sementara Jokowi-JK mendapat suara 70.997.833 atau setara 53,15 persen, Prabowo-Hatta mengantongi 62.576.444 suara atau setara 46,85 persen.

Pertanyaannya, mengapa masih saja banyak orang belum memilih, padahal hari pencoblosan tinggal sebentar lagi?

Tak Dapat Solusi Konkret

Direktur Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) Fajar Nursahid mengatakan penyebabnya setidaknya ada dua.

Pertama, lembaga survei belum bisa meyakinkan publik untuk memberitahu pilihan mereka ketika disurvei. Jadi ketika ada petugas bertanya, mereka memilih tak menjawab, meski sebetulnya telah menjatuhkan pilihan ke salah satu paslon.

Menurutnya hal ini sangat mungkin terjadi karena di tengah polarisasi seperti sekarang, mengungkapkan pilihan politik kadang menjadi hal yang berat untuk dilakukan. Apalagi, misalnya, itu dilakukan di tengah orang-orang terdekat seperti keluarga.

"Jika saya berbeda pilihan dengan keluarga, rasanya akan berat. Apalagi kita tidak dibiasakan dalam perbedaan seperti itu," kata Fajar saat ditemui reporter Tirto, Selasa (9/4/2019) kemarin.

Faktor lain, lanjut Fajar, ialah gagalnya kedua paslon untuk bisa memberikan solusi dan jawaban konkret atas permasalahan masyarakat.

"Jadi orang belum memilih itu masih menunggu apa yang mereka dapatkan dari kedua pasangan ini," kata dia.

Bukan Pemilih yang Loyal

Peneliti senior dari Pusat Penelitian Politik LIPI, Siti Zuhro punya pendapat lain. Menurutnya ada faktor tidak loyalnya masyarakat terhadap tokoh tertentu.

"Mereka ini, kan, pemilih tidak loyal. Pemilu 2009 memilih siapa, dan Pemilih 2014 memilih siapa, dan 2019 juga beda. Kenapa? Mereka sangat tematik dan kontekstual," kata Siti, pada kesempatan yang sama.

Jika tak loyal terhadap tokoh tertentu, mereka akan lebih rasional dan skeptis. Ujungnya sama seperti pernyataan Fajar, bahwa ini tinggal perkara yakin-meyakinkan dari paslon.

"Kalau memang sesuai dan kompatibel dengan aspirasi mereka, mereka enggak akan segan untuk memilih. Begitu juga sebaliknya," ujarnya.

Siti dan Fajar sama-sama mengatakan faktor yang membuat undecided voters menentukan pilihan adalah dengan memberikan gambaran program-program konkret dan menyentuh permasalahan mereka sehari-hari. Masalahnya, ini bukan pekerjaan yang mudah ketika pencoblosan hanya tinggal menghitung hari.

Dengan keadaan seperti itu, ke mana kencenderungan mereka?

"Tentu yang mereka lakukan adalah mengevaluasi petahana. Apa yang sudah dilakukan dan apa yang belum, di mana kekurangannya," kata Siti.

Ia memperkirakan para undecided voters, khususnya segmen milenial dan pengusaha, akan lebih condong ke Sandiaga, dan dengan demikian juga Prabowo.

"Mereka realitis. Kalau melihat sekarang ekonomi lesu, ya bisa saja pindah haluan pilihan," ujarnya.

Namun pandangan berbeda disampaikan Fajar dengan berpegangan pada metodologi survei yang dilakukan saat penelitian. Ia mengatakan pada undecided voters tak bisa diprediksi akan cenderung memilih siapa dalam Pilpres 2019.

"Misal ada 15 persen undecided voters, kita kemudian tak bisa melakukan estimasi memblok menjadi A atau B secara signifikan. Harus membacanya dengan distribusi normal, 15 persen dibagi dua," jelas Fajar.

Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan lainnya dari Haris Prabowo

tirto.id - Politik
Reporter: Haris Prabowo
Penulis: Haris Prabowo
Editor: Gilang Ramadhan