Sejarah AURI

Petualangan Para Pendiri AURI Selama Perang Dunia II

Infografik Petualangan Para Pendiri Angkatan Udara RI
Pameran Kedirgantaraan di Pangkalan Udara Maguwo. FOTO/tni-au.mil.id
Oleh: Petrik Matanasi - 26 Agustus 2019
Dibaca Normal 3 menit
Beberapa pendiri Angkatan Udara sempat berada di luar negeri untuk berperang bersama sekutu selama Perang Dunia II.
tirto.id - Berbeda dengan Angkatan Darat Indonesia yang bangga punya banyak jenderal didikan militer fasis Jepang, Angkatan Udara adalah angkatan yang tidak bisa membangga-banggakan warisan balatentara Jepang di Indonesia.

Jepang hanya meninggalkan pesawat rongsokan, yang mengancam keselamatan penerbang dan penumpangnya jika digunakan. Jepang juga hanya melatih pekerja militer atau pasukan infanteri setengah jadi bernama Pembela Tanah Air (PETA) di Jawa atau Gyugun di Sumatra. Jepang nampaknya tidak mencetak penerbang udara.

Peraih brevet penerbang untuk militer macam Agustinus Adisutjipto pun akhirnya tersia-siakan pada zaman Jepang. “Zaman pendudukan Jepang. Adisutjipto tidak lagi menjadi penerbang. la pulang ke rumah orangtuanya di Salatiga dan bekerja sebagai jurutulis pada perusahaan angkutan bis,” tulis buku Wajah dan sejarah perjuangan pahlawan nasional, Volume 6 (1994, hlm. 13).

Tak hanya Adisutjipto. Kawannya yang pernah diangkat sebagai calon penerbang dinas pendek KNIL, Hubertus Soejono, menyatakan dalam Bunga Rampai Perjuangan dan Pengorbanan Jilid III (1986:158) bahwa Adisutjipto bekerja di pabrik karung di Malang.

Ketika Adisutjipto bekerja di perusahaan bis di Salatiga dan Soejono di pabrik karung di Malang, militer Belanda dengan bantuan sekutunya di benua lain sedang melatih segelintir pemuda Indonesia sebagai calon penerbang, navigator, operator bahkan penerjun payung.

Pemuda-pemuda ini dibawa kabur dari pulau Jawa sebelum Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada militer Jepang pada 8 Maret 1942 di Kalijati, Subang.

Soekotjo adalah perwira Marine Luchtvaart Dienst (MLD) alias Angkatan Laut Kerajaan Belanda. Menurut pengakuan Soedjono dalam buku Baret Jingga (1999, hlm. 36-41), Soekotjo “sudah pernah dilatih dan dilemparkan in action behind enemy lines dengan parasut untuk silent operations. Dia mengajarkan saya kepada saya teknik pendaratan yang klasik, yakni dengan koprol”.


Soedjono juga di Australia. Ketika hendak dibawa ke Australia, sepengakuan Soedjono dalam Bunga Rampai Perjuangan dan Pengorbanan Jilid III (1986:215), dia adalah anggota korps penerbang sukarela ikatan dinas pendek. Pangkat awalnya adalah prajurit calon penerbang. Ketika perang berakhir, pangkatnya Letnan Dua. Baik Soedjono dan Soekotjo belakangan adalah pelopor pasukan payung di tubuh AURI.

Sudah tentu ada pemuda Indonesia yang dilatih menjadi penerbang. Pahlawan Nasional Iswahjudi adalah salah satu pemuda yang hendak dijadikan penerbang sebelum Jepang datang. Iswahyudi kemudian disusupkan ke Jawa yang diduduki Jepang. “Sesampai di Indonesia Iswahyudi berhasil ditangkap oleh pemerintah militer Jepang,” tulis Mardanus Safwan dalam buku Iswahyudi (1982, hlm. 2). Setelah bebas, ia dipekerjakan Jepang. Ketika Jepang kalah dan Belanda masuk lagi ke Indonesia, ia tak berurusan lagi dengan militer Belanda.

Pemuda Indonesia lain yang dilatih terbang oleh militer sekutu adalah Kopral Hartojo Moekardanoe. Pemuda yang disapa Harry ini adalah anggota MLD dilatih terbang oleh Sekutu. Moekardanoe lain yang dilatih terbang adalah Kopral Bimanto Moekardanoe yang kelak meninggal dunia di Amerika Serikat. Harry Moekardanoe kemudian terus berdinas di MLD. Dalam konfrontasi Trikora ia menjadi pilot Neptune yang membawa malapetaka bagi KRI Matjan Tutul di Laut Aru.

Petualang Indonesia yang paling sohor dalam Perang Dunia II tentu saja Abdul Halim Perdanakusumah. Ia ikut dibawa Belanda sebagai anggota MLD dan dilatih menjadi navigator Udara. Ia sempat menjadi petugas persenjataan Angkatan Laut Belanda, sebelum akhirnya masuk sebagai kru udara di Angkatan Laut. Seperti dicatat M. Sunjata Kardarmadja dalam Halim Perdanakusuma (1978, hlm. 21), "sebagai awak pesawat pembom [Halim Perdanakusumah] berkali-kali ikut dalam pemboman (di daerah pendudukan militer) Jerman, dan mengalami pertempuran udara yang sengit”.

Halim pulang dari misi dengan kondisi selamat. Ketika Perang Dunia II selesai, Halim berada di Australia bersama Soedjono. Kala itu pangkat keduanya sudah setara letnan. Meski sedikit telat, mereka mendengar kabar kemerdekaan Indonesia. Setelah lebih dari tiga kali puasa dan tiga kali lebaran tak pulang, akhirnya mereka memutuskan kembali ke rumah.

“Akhirnya saya bersama saudara Halim Perdanakusumah berhasil menumpang pesawat B-25, hal ini karena menggantikan tempat orang lain,” aku Soedjono (1986, hlm. 217). Sesampainya di Jakarta, Halim dan Soedjono sempat menginap di Hotel Central—yang belakangan berganti nama jadi Hotel Sriwijaya—di pojok Jalan Veteran I. Bersama Ruslan Danurusamsi, mereka berdua mencari cara untuk bergabung dengan pihak Republik dengan menghubungi pemuda-pemuda pro Republik di sekitar Menteng. Berkat bantuan pemuda-pemuda inilah mereka sampai di Yogyakarta.



Halim dan Soedjono tak disambut sebagai pahlawan perang. Sebagai orang yang pernah berperang bahkan ditawan pihak Belanda zaman Perang pasifik, mereka dicurigai pihak Republik. Sepengakuan Soedjono, Halim lebih dulu bebas dan mencari kontak ke armada penerbangan TKR. Setelah diterima sebagai Komodor Muda Udara, Halim mencari Soedjono.

Setelah cek kesehatan, akhirnya mereka masuk Angkatan Udara Republik Indonesia pada 1 April 1946. Soedjono sempat diperbantukan untuk mendampingi komandan pangkalan udara Maguwo, Komodor Muda Udara Adisutjipto. Pangkat Soedjono waktu itu adalah Opsir Udara II. Soedjono sempat melatih pemuda-pemuda untuk AURI yang belakangan menjadi cikal-bakal Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP). Tak lama kemudian, ia dipanggil Halim untuk membentuk pasukan payung. Opsir Muda Udara I Soekotjo juga diajaknya.

Petualang lain yang tidak bisa dilupakan AURI adalah bekas radio dan telegrafis armada udara tentara Belanda bernama Adi Soemarmo Wirjokoesoemo. Menurut buku Lintasan Sejarah Pangkalan Udara Adi Soemarmo (2003), pemuda kelahiran Blora, 31 Oktober 1921 adalah tamatan Europeesche Lagere school dan Meer Uitgerbeid Lagere Onderwijs. Ia sempat masuk Korps Penerbang Sukarela.

“Kinerja AURI menjadi semakin baik dengan datangnya Adi Soemarmo Wirjokoesoemo,” tulis Boediardjo dalam Siapa Sudi Saya Dongengi (1996, hlm. 33). Buku Awal Kedirgantaraan di Indonesia: Perjuangan AURI 1945-1950 (2008, hlm. 47), menyebutnya kelak memimpin jawatan perhubungan AURI.

Bersama Sersan Mayor Udara Boediardjo, Opsir Muda Udara II Mohamad Tohir Harahap (mantan markonis kapal selam) mendirikan Sekolah Radio AURI. Belakangan, Adi Soemarmo, Abdurachman Saleh dan Adi Soetjipto gugur dalam peristiwa jatuhnya pesawat Dakota di Bantul. Ketiganya kemudian jadi nama bandara: Adi Soemarmo di Panasan, Solo; Abdurachman Saleh di Malang; dan Adi Soetjipto di Yogyakarta.

Baca juga artikel terkait AURI atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Windu Jusuf
DarkLight