Perjalanan Panjang Dirk Nowitzki, Ikon Dallas Mavericks

Oleh: Renalto Setiawan - 11 Januari 2019
Dibaca Normal 4 menit
Selama berada di NBA, Nowitzki mempunyai prestasi segudang. Ia pernah menyabet MVP tahun 2007, 13 kali masuk NBA All-Star, juga berhasil membawa Dallas Mavericks menjadi kampiun pada tahun 2011 lalu.
tirto.id - TD Garden bergemuruh hebat pada 5 Januari 2019 kemarin. Itu adalah jenis gemuruh yang langka. Sekitar 18.624 penonton yang memadati TD Garden bergemuruh bukan karena Boston Celtics berhasil mengalahkan Dallas Mavericks 114-93, melainkan karena Dirk Nowitzki, power forward gaek milik Dallas Mavericks: mereka semua ingin Nowitzki mencetak angka dalam pertandingan itu.

Setiap kali Dirk menguasai bola, para penonton berteriak, “Dirk, Dirk, Dirk!” Dan setiap kali pemain asal Jerman itu mengambil ancang-ancang untuk menembak, dukungan yang mereka berikan semakin kencang: “Masukkan, Dirk!”

Brad Stevens, pelatih Celtics, bahkan tak mau kalah dari para penonton. Kala Dirk menembak dan bola mulai lepas landas dari tangannya, Stevens mengaku selalu merapal mantra: “Masuk, masuk!”

“Aku dua kali mendukung pemain lawan untuk mencetak angka di sepanjang hidupku: Paul Pierce dan Dirk Nowitzki,” ujar Stevens sesudah pertandingan, dilansir dari ESPN.

Hari itu, mereka semua berharap bahwa Dirk setidaknya bisa melesakkan dua angka dalam pertandingan tersebut. Sayangnya, selama 16 menit bermain, pemain bernomor punggung 41 itu gagal mencetak mencetak sebiji pun angka dari 10 kali percobaan tembakan yang dilakukannya.

Semua orang yang berada di TD Garden, kandang Boston Celtics, jelas kecewa. Harapan mereka menguap di angkasa. Seandainya saja salah satu tembakannya itu masuk, Dirk akan melewati catatan Kobe Bryant, menjadi pemain lawan yang paling banyak mencetak angka saat bermain di TD Garden, sebagaimana harapan semua orang di TD Garden.

Black Mamba, julukan Kobe, berhasil mencetak 427 angka selama bermain di TD Garden, sedangkan Dirk mengumpulkan 426 angka.

Yang membikin lebih kecewa, Dirk barangkali sudah tidak lagi memiliki kesempatan untuk memecahkan rekor Kobe itu. Setelah sekitar 21 musim berkarier di NBA, ada tanda-tanda bahwa ia akan pensiun akhir musim nanti. Kontraknya bersama Mavericks habis pada akhir musim. Ia juga sudah dimakan usia, sudah berusia 40 tahun.

Lantas, meskipun gagal memenuhi harapan orang-orang, mengapa hampir semua orang yang berada di TD Garden tetap menghujani Dirk dengan aplaus panjang sesudah pertandingan?

Alasannya, menurut Brad Stevens, sederhana: Dirk Nowitzki adalah pemain spesial.


Dallas adalah Dirk, Dirk adalah Dallas


Pertama kali datang ke Dallas dari Jerman pada tahun 1998 lalu, Dirk tampak seperti seorang pemuda kikuk yang tak tahu kanan-kiri. Ia gagap bahasa Inggris, masih berusia 20 tahun, tak kenal siapa pun, juga jauh dari keluarga. Karenanya ia tentu membutuhkan bantuan yang bisa membuatnya nyaman tinggal di Dallas. Beruntung, bala bantuan itu kemudian datang dari orang-orang yang kelak akrab dengan dirinya: Steve Nash, Chris Antsey, serta Lisa Tyner.

Steve Nash, point guard Mavericks, menunjukkan cara membayar tagihan saluran tivi kabel dan bagaimana layanan pos bekerja; Chris Antsey, forward Mavericks, mengajari Dirk memasak dan mencuci; dan Lisa Tyner, akuntan senior di Mavericks, dengan senang hati membantu Dirk mengurusi keuangan dan mengajari cara bergaul dengan pemain muda Dallas lainnya.

Kini, Nowitzki adalah pengubah peruntungan Dallas Mavericks. Ia merupakan alasan utama mengapa Dallas yang pada tahun 90 seringkali menjadi bahan olok-olok para penggemar NBA, bisa 15 kali menembus play-off dalam 18 tahun terakhir. Catatan statistik memberi bukti: dari tahun 2000-2001 hingga musim 2018-2019, Nowitzki setidaknya 14 musim mencatatkan win shares terbaik bagi Dallas.

Bahkan pada 2011 lalu, Nowitzki juga berhasil membawa Dallas menjadi kampiun NBA untuk pertama kalinya di sepanjang sejarah. Saat itu, Dallas berhasil mengatasi perlawanan Miami Heat dengan skor 4-2. Dan karena penampilan apiknya di laga final, Nowitzki juga dinobatkan sebagai peraih MVP final.

Untuk prestasi Nowitzki itu, Tim Cato dalam 100 Things Mavericks Fans Should Know & Do Before They Die kemudian berani memuji Nowitzki setinggi langit.

”Nowitzki mengubah Mavericks sebagai waralaba – dan Dallas sebagai kota. Bersamanya, ia menghadirkan momen yang patut diingat. Mereka bisa datang dalam bentuk piala dan upacara penghargaan, melalui tembakan dan pertandingan yang terwujudkan. Mereka membawa perayaan, kebanggaan, air mata, serta suka cita.”

Yang menarik, ternyata tidak semua orang setuju jika Nowitzki dikultuskan seperti itu. Scoop Jackson, penulis ESPN, bahkan melakukan hal sebaliknya. Dalam For Dirk Nowitzki, the Slate is Cleane, Jackson justru menulis bahwa Dirk Nowitzki adalah seorang “pemain yang tidak bisa diandalkan.” Alasan Jackson, sebelum Nowitzki berhasil mengangkat gelar NBA musim 2010-2011, Nowitzki selalu gagal membawa Mavericks menjadi yang terbaik.

Pada tahun 2006 lalu, misalnya. Menghadapi Miami Heat dalam laga final, Mavericks unggul 2-0 terlebih dahulu. Namun, tim yang berdiri pada 1980 ini tiba-tiba melempem dan Nowitzki, menurut Jackson, tampil layaknya sebuah celanan jins tua yang memudar. Alhasil, Mavericks pun akhirnya gagal meraih gelar karena kalah dalam empat pertandingan berikutnya.

Kekalahan mengejutkan Mavericks dari Golden State Warriors pada babak pertama play-off 2007 juga bisa menjadi contoh lain. Bayangkan, Mavericks yang berada di peringkat 1 Wilayah Barat jelas-jelas lebih diunggulkan dibandingkan dengan GSW yang berada di posisi ke-8. Tetapi kenyataan ternyata berkata lain: mereka kalah 2-4. Dan sekali lagi, Nowitzki, yang beberapa hari setelah kegagalan itu dinobatkan sebagai peraih MVP reguler, dijadikan sebagai kambing hitam.

Dari sana, apa yang dikatakan Jackson tersebut memang beralasan. Namun, ia sebenarnya lupa akan satu hal: di balik setiap kegagalannya itu Nowitzki tak pernah lari, dan ia selalu membalasnya dengan kerja keras.


Fadeaway Shot ala Nowitzki

Ada beberapa macam gerakan unik dalam permainan basket, dan beberapa di antaranya merupakan ciri khusus sekaligus menjadi keunggulan dari seorang pemain.

Kareem Abdul-Jabbar, pencetak angka terbanyak dalam sejarah NBA, memiliki gerakan yang bernama sky-hook, Hakeem Olajuwoon, mantan center Houston Rocket, sulit dihentikan karena dream shake yang membingungkan pemain lawan, dan Dirk Nowitzki mengandalkan one-footed fadeaway untuk membuat geleng-geleng kepala pemain lawan.

Apa itu one-footed fadeaway? Dalam situasi terjepit, Nowitzki akan menembak sambil melompat mundur; kaki kiri menjadi tumpuan, dan kaki kanan diangkat untuk menjaga jarak dengan pemain yang melakukan blok. Ditambah dengan badan Nowitzki yang miring ke belakang sekitar 20 derajat dan tinggi Nowitzki yang mencapai 2,13 meter, tembakan itu adalah senjata yang nyaris tiada lawan.

Menyoal kehebatan one-footed fadeaway itu, Anthony Guliza pernah menulis di ESPN: “Aneh. Kikuk. Luar biasa efektif. Nowitzki one-footed fadeaway membuat tembakan pemain bertinggi tujuh kaki itu mendekati mustahil untuk diblok. Selama 15 musim, dia melakukan 1.076 tembakan fadeaway – 372 kali lebih banyak daripada pemain NBA lainnya."

Sebelum menciptakan gaya itu, Dirk sebetulnya ingin mempelajari dream shake milik Hakeem Olajuwon. Bagaimanapun, sebagai seorang power forward, ia harus terlihat jago saat berada di bawah ring lawan. Namun, karena tak kunjung berhasil, ia lantas memilih untuk menyempurnakan kemampuan menembaknya dengan cara barunya itu.

Infografik Dirk Nowitzki
Infografik Dirk Nowitzki


One-footed fadeaway Dirk kemudian seringkali dikombinasikan dengan skema pick-and-pop. Saat Mavericks menyerang, mula-mula Dirk akan melakukan screen terhadap point guard lawan, memberikan jalan kepada point guard Dallas sekaligus membuat pemain yang menjaganya dalam posisi dilematis. Setelah itu, point guard Dallas akan memberikan bola kepadanya. Dan boom! Nowitzki akan mulai menghujani ring lawan dengan tembakannya yang cukup akurat.

“Bagi sebagian besar tim, ini [pick-and-pop] adalah alat yang efektif. Untuk Dallas Mavericks, ini merupakan instrumen kehancuran total. Karena tidak ada seorang pun yang dapat memengaruhi permainan dengan satu serangan seperti Dirk Nowitzki dengan pick-and-pop,” tulis Brett Koremenos di Grantland pada tahun 2014 lalu.

Brett tidak sedang berjualan kecap. Sampai sekarang, hanya ada 9 orang pemain yang mampu mencetak 30 ribu angka di NBA, dan Dirk adalah salah satunya – menjadi orang luar Amerika Serikat pertama yang berhasil melakukannya. Selain itu, ia juga berada di peringkat ketujuh dalam deretan pencetak angka terbanyak dalam sejarah NBA. Sejauh ini, Nowitzki sudah mencatatkan 31.230 angka. Lantas bagaimana kebanyakan angka itu cetak? Tentu saja dengan kombinasi pick-and-pop dan tembakan one footed-fadeaway .

Menyoal kemampuan Dirk dalam menghancurkan lawan dengan gerakannya yang unik itu, suatu kali Steve Nash pernah bilang, “Aku tidak tahu apakah ada orang yang seperti Dirk. Dan untuk alasan itu kita barangkali tidak akan melihat pria seperti itu lagi selama bertahun-tahun. Namun jika kita melihatnya, Dirk jelas memungkinkan dirinya untuk menjadi inspirasi.”

Pernyataan Nash itu tepat sasaran. Saat Dirk sudah tidak lagi memungkinkan untuk melakukan one-footed fadeaway karena usianya, LeBron James dan Kevin Durant, dua bintang ternama NBA, menggunakan teknik itu untuk menghukum pertahanan lawan. Dan saat Dirk akhirnya pensiun nanti, karena saking efektifnya, one-footed Fadeaway tak akan pernah mati.

Baca juga artikel terkait BASKET atau tulisan menarik lainnya Renalto Setiawan
(tirto.id - Olahraga)


Penulis: Renalto Setiawan
Editor: Nuran Wibisono