Menuju konten utama

Penyebab Harga Telur Meroket Menurut Mendag, Termasuk Piala Dunia

Kemendag menyimpulkan harga telur meroket pada beberapa pekan terakhir karena pasokan menurun di saat permintaan meningkat.

Penyebab Harga Telur Meroket Menurut Mendag, Termasuk Piala Dunia
Seorang peternak memanen telur ayam di desa Balongan, Indramayu, Jawa Barat, Sabtu (14/7/2018). ANTARA FOTO/Dedhez Anggara.

tirto.id - Menteri Perdagangan (Mendag), Enggartiasto Lukita menyebut sejumlah penyebab harga telur terus melambung pada beberapa pekan terakhir. Sejumlah penyebab harga telur terus menjadi semakin mahal itu terkait dengan penurunan pasokan dan peningkatan konsumsi komoditas pangan ini.

Dia menjelaskan hal itu usai menggelar pertemuan dengan para pelaku usaha di rantai pasok telur di kantor Kemendag, Jakarta, pada Senin (16/7/2018). Pertemuan itu juga dihadiri Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Fini Murfiani.

Menurut Enggartiasto, penyebab pertama harga telur melonjak adalah penurunan pasokan yang dipengaruhi intensitas tinggi kasus kematian ayam. Dia mengatakan kasus kematian ayam tinggi karena dipicu oleh pelarangan penggunaan Antibiotic Growth Promoters (AGP) untuk ayam.

Larangan itu tertuang di Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 14 Tahun 2017 tentang Klasifikasi Obat Hewan. Meski Permentan itu berlaku sejak 12 Mei 2017, akan tetapi pengawasan pada pelaksanaannya dimulai 1 Januari 2018.

"Kami sepakat kurangi kadar obat-obatan antibiotik agar lebih sehat, tapi memang ini jadi penyebab banyak kematian ayam," kata Enggartiasto.

Karena itu, dia melanjutkan, pelarangan penggunaan antibiotik AGO akan dievaluasi kembali oleh Kementan.

Penyebab kedua, kata Enggartiasto, pasokan telur bekurang karena banyak ayam mati saat muncul cuaca ekstrem berupa penurunan suhu pada beberapa pekan terakhir.

Penyebab ketiga, dia menambahkan, suplai telur terganggu oleh masa libur yang panjang saat Lebaran 2018. Sementara, permintaan dan harga telur sudah cenderung meningkat sejak H-7 Lebaran 2018.

"Suplai ke pasar ada kendala, karena ada masa cuti. Karena ternyata yang didistribusi juga mau cuti. Itu yang menyebabkan relatif mengganggu," ujar Enggartiasto.

Sementara untuk penyebab terakhir, Enggartiasto menengarai ada peningkatan konsumsi telur yang dipicu oleh sejumlah hal, salah satunya Piala Dunia 2018.

"Alasannya [yang disebut pelaku usaha] macam-macam [soal sebab] demand [permintaan] meningkat tajam, sampai sepak bola [Piala Dunia 2018]," kata Enggartiasto.

"Karena yang malam [menonton laga Piala Dunia] makan nasi goreng pakai telur [atau] Internet, Indomie telor kornet kan pakai telur," dia menambahkan.

Dia mengaku, dalam pertemuan dengan para pelaku usaha di rantai pasok telur, Kemendag memberi tenggat waktu satu minggu untuk penurunan harga telur. Jika harga telur tidak kunjung menurun secara bertahap pada sepekan mendatang, Kemendag akan melakukan intervensi pasar.

Intervensi itu dilakukan dengan mengeluarkan stok telur ayam milik para integrator atau perusahaan besar pengepul komoditas pangan ini.

Penjelasan Enggartiasto soal penyebab harga telur meroket berbeda dengan analisis Ketua Asosiasi Peternak Layer Nasional, Musbar. Analisis itu disampaikan oleh Musbar kepada Tirto pada pekan kemarin.

Menurut Musbar, penyebab pertama ialah penurunan produktivitas ayam petelur. Hal itu tercermin dari penyusutan populasi ayam (deplasi) yang lebih tinggi dari normalnya, yakni 8-10 persen dari populasi. Belakangan, deplasi bisa mencapai 20 persen. Situasi ini, menurut dia, terjadi sejak 2 tahun terakhir.

"Pada waktu catur wulan terakhir 2017, anak-anak ayam banyak yang mati saat periode grower. Tingkat kematian dari 20 persen sampai 100 persen," ujar Musbar.

Dampak tren deplasi itu diperparah oleh penjualan ayam afkir yang meningkat saat masa Ramadan dan Lebaran 2018. Ayam afkir merupakan ayam indukan berumur di atas 70 minggu yang dijual ke konsumen.

"Indukan yang diafkir itu tidak tergantikan sepenuhnya oleh ayam-ayam muda, karena pada November-Desember [2017] tingkat kematian [sedang] tinggi-tingginya. Tingkat produksi ayam itu berpengaruh pada kontinyuitas suplai telur," ujarnya.

Penyebab kedua, kata dia, ialah harga pakan ayam impor yang meningkat karena rupiah sedang melemah. Sementara selama ini 30 persen dari komponen pakan ayam jadi merupakan barang impor.

Sedangkan penyebab ketiga, Musbar menduga peningkatan permintaan telur dipicu oleh momentum tahun politik yang memunculkan konsumen baru dari kalangan menengah ke bawah. Maksud musbar salah satunya berupa indikasi pembagian sembako yang marak.

Selain itu, program bantuan pangan non-tunai juga membuat penyaluran subsidi ke warga miskin saat ini berbentuk bahan pokok pangan, yang salah satunya, adalah telur ayam.

"Ini masih menjadi suatu pengamatan, belum suatu kepastian," ujar dia soal penyebab terakhir.

Baca juga artikel terkait HARGA TELUR atau tulisan lainnya dari Shintaloka Pradita Sicca

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Shintaloka Pradita Sicca
Penulis: Shintaloka Pradita Sicca
Editor: Addi M Idhom