Penumpang Keluhkan Tidak Adanya Gerbong Kereta Khusus Wanita

Penumpang Keluhkan Tidak Adanya Gerbong Kereta Khusus Wanita
Gerbong Kereta Api khusus wanita. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
Reporter: M. Ahsan Ridhoi
20 Juni, 2017 dibaca normal 1:30 menit
Terlebih dengan membawa seorang bayi, Safwah mengeluhkan tidak adanya fasilitas khusus untuk ibu yang membawa bayi, atau gerbong wanita.
tirto.id - Safwah (27) baru saja sampai di Stasiun Pasar Senen sekitar pukul 10.00 WIB setelah menempuh perjalanan lebih kurang 10 jam dari Malang menggunakan kereta Majapahit. Ia hanya bersama seorang bayi perempuannya yang baru berusia 14 bulan. 

"Ke sini pulang. Suami sedang tidak bisa ikut. Ada kerjaan. Rumah saya di Kemayoran," kata Safwah pada Tirto di Stasiun Pasar Senen, Selasa (20/6/2017). 

Barang bawaannya lumayan banyak untuk ukuran pemudik yang seorang diri dan membawa bayi. Ia pun mengaku menyewa jasa porter untuk membawakan barangnya dari kereta menuju ke tempat parkir mobil. 

"30 ribu rupiah tadi bayarnya. Ini nunggu saudara jemput," tutur Safwah. 

Selama perjalanan ia mengaku lelah. Terlebih dengan membawa seorang bayi. Ia pun mengeluhkan tidak adanya fasilitas khusus untuk ibu yang membawa bayi. 

"Harusnya ada fasilitas untuk ibu-ibu yang membawa bayi. Semacam gerbong khusus gitu ya. Kan kadang anak juga rewel. Belum lagi kalau harus menyusui. Malu aslinya kalau dilihat penumpang laki-laki," katanya menjelaskan. 

Dalam perjalanan itu, dirinya mengaku anaknya juga sedang tak sehat. "Badannya panas gitu. Mungkin mabuk pertama kali dibawa jalan jauh," katanya memaparkan. 

Dirinya pun menyayangkan tidak adanya petugas kesehatan khusus di gerbong kereta. "Nanya ke mbak yang layani, ditawari obat saja," ujar Safwah. 

Keluhan terkait tidak adanya fasilitas khusus wanita di gerbong kereta juga dirasakan oleh Maya (19), seorang mahasiswi salah satu universitas negeri di Surabaya yang tiba di Stasiun Pasar Senen sekitar pukul 08.45. 

"KRL saja ada kok. Masak kereta jarak jauh enggak ada," kata Maya di Stasiun Pasar Senen pada Tirto, Selasa (20/6/2017). 

Meskipun pada dasarnya dirinya tidak mempermasalahkan duduk campur dengan penumpang laki-laki, tapi menurut mahasiswi jurusan kesehatan masyarakat itu, tetap seharusnya ada demi keamanan.

"Kan kalau satu gerbong cewek semua itu terasanya lebih aman. Apalagi perjalanan jauh. Tapi gak masalah juga sih. Mungkin lebih ke ibu-ibu kali ya yang butuh," kata Maya. 

Hal itu karena menurutnya sepanjang perjalanan ia kerap mendengar tangisan anak kecil. "Itu pasti karena enggak nyaman. Namanya kelakuan orang di kereta kan macem-macem. Bisa jadi namanya anak-anak kan peka," tuturnya. 

Berbeda dengan keduanya, Hadi (40) dan keluarganya merasa nyaman saja dengan perjalanan jauh menggunakan kereta. Menurut mereka yang telah melakukan perjalanan dari Surabaya menuju Jakarta dengan kereta Kertajaya, mudik naik kereta lebih nyaman ketimbang bus. 

"Kereta ekonomi sekarang mah enak. Adem. Tapi sumpek juga enggak bisa ngerokok," kata Hadi di Stasiun Pasar Senen.

Hadi pun mengenang kembali masa-masa kereta ekonomi belum memiliki pendingin ruangan. Saat itu, ia pun mengaku selalu kesulitan untuk tidur. "Sekarang mah pules," ungkapnya. 

Namun, perkara pendingin ruangan itu menjadi masalah bagi istri Hadi, Nia (32). Menurutnya, sepanjang perjalanan malam hari itu dirinya harus mengenakan jaket tebal dan mengoleskan minyak kayu putih untuk mengusir dingin. 

"Ora kuat adem aku iki, Mas. Wong ndeso, bedo karo Pak'e," kata Nia. 

Meski begitu, dirinya mengaku tak masalah dan merasa lebih nyaman dengan kereta ekonomi hari ini. "Anak-anak gak kasihan. Kalau dulu mereka selalu mabuk," ucapnya menambahkan. 

Perihal keluhan-keluhan tersebut, Kepala Stasiun Pasar Senen Dedi Kristanto enggan mengomentari. Menurutnya, itu adalah wewenang dari PT. KAI. 

"KAI yang bikin kereta. Saya mengelola stasiun. Enggak tahu saya. Kalau di stasiun ada tempat untuk laktasi," ungkap Dedi.

Baca juga artikel terkait ARUS MUDIK atau tulisan menarik lainnya M. Ahsan Ridhoi
(tirto.id - san/rat)

Keyword