tirto.id - Sebatang korek api menyala dalam satu gesekan. Berkat itulah kakek-nenek kita zaman dulu bisa dengan mudah memasak; simbah kita dengan gampang menyalakan lampu petromaks; administratur perkebunan era Hindia Belanda bisa membakar cerutunya. Tapi pertanyaannya, bagaimana mungkin batang kayu tipis bisa mengeluarkan api saat digesek?
Api dapat sekonyong-koyong terpecik di batang kayu kecil tersebut karena bergesekan dengan permukaan di sisi kotak koreknya yang mengandung fosfor merah.
Itulah mulanya salah satu manfaat penting fosfor dalam kehidupan manusia, selain obat kuno dan atraksi sulap. Namun seiring waktu, pemanfaatan fosfor makin beragam.
Dalam bentuk fosfat, fosfor dapat menjelma menjadi pupuk. Tanaman membutuhkan fosfor untuk menumbuhkan akar dan berbunga.
Bahkan di tubuh kita, peran fosfor lebih mendasar lagi. Tubuh kita menyimpan sekitar 750 gram fosfor, sedikit lebih berat dari sebotol air mineral 600 mililiter. Sebagian besarnya tersimpan di tulang dan gigi. Fosfor juga berfungsi menyusun DNA (Deoxyribonucleic Acid) dan ATP (Adenosine Triphosphate).
Kendati akrab dengan keseharian dan bahkan tubuh kita, riwayat fosfor jarang ditengok. Padahal, kisahnya cukup unik, bermula dari seorang lelaki Jerman, yang sebetulnya sedang memburu emas.
Niat Mencari Emas, Malah Nemuin Fosfor
Namanya Hennig Brand. Friedrich Krafft, peneliti sejarah sains dari Universitas Hamburg yang mengabadikan kisah Brand, hanya bisa menuliskan tanggal lahir, tanpa titimangsa wafatnya. Namanya nyaris terkubur.
Hennig Brand disebut-sebut menikahi janda kaya, kemudian mampu membuka praktik mandiri sebagai dokter. Ia pun menyebut dirinya doctor medicinae. Namun, namanya tak pernah tercantum dalam daftar perhimpunan dokter Hamburg.

Soal temuan fosfor, semuanya bermula dari perburuan batu filsuf, sebuah zat mitos dalam alkimia yang diyakini mampu mengubah logam biasa menjadi emas. Dari beberapa sektor pekerjaan alkemis, Hennig Brand bertugas ada di urusan pencarian batu filsuf. Kisahnya diabadikan, salah satunya, oleh Friedrich Krafft dalam Phosphorus: From Elemental Light to Chemical Element” (1969: 660–670).
Setelah beberapa kali percobaan dan melalang buana, Brand akhirnya memutuskan mencari batu filsuf di dalam urine. Para alkemis, termasuk dia, memandang manusia sebagai alam semesta dalam bentuk kecil. Jika alam menyimpan logam dan mineral, tubuh manusia pun menyimpannya, dan urine adalah salah satu jalan keluarnya.
Cara kerjanya tak pernah ia umumkan. Satu-satunya catatan yang tersisa ditulis orang lain, yakni seorang filsuf bernama Gottfried Wilhelm Leibniz, yang kelak mengundang Brand ke Hanover dan mendengar prosesnya langsung.
Brand mengumpulkan urine sampai satu tong penuh, lalu membiarkannya membusuk. Cairan busuk tersebut kemudian dijerang sampai sekental sirup, sebelum disuling. Ketika tetes-tetes merah mulai jatuh, penampung disorongkan ke mulut bejana.
Prosesnya memakan waktu belasan jam. Namun, penantiannya terbayar setelah ia melihat sebagian zat menempel di dinding kaca. Rupanya seperti ambar. Ketika ruangan digelapkan, kaca tersebut terang benderang, dan bagian yang kering berpijar paling kuat.
Brand tidak mendapatkan emas. Ia mendapatkan cahaya. Ia menamainya “api dingin”. Alasannya sederhana, karena zat tersebut memancarkan cahaya terang seperti api (bersinar), tetapi tidak mengeluarkan panas.
Temuan itu ia pertahankan dan simpan rapat-rapat. Tujuh tahun lamanya zat itu tak dikenal di luar Hamburg.
Pengetahuan yang Menguntungkan Orang Lain
Pertahanan itu runtuh pada awal 1676. Uang yang merobohkannya. Brand kehabisan uang. Modal warisan istrinya sudah ludes untuk eksperimen alkimia.
Krisis keuangan itu menekan Brand. Sampai akhirnya, pada tahun yang sama, ia memperlihatkan “api dingin” temuannya kepada Johann Kunckel, kimiawan terpandang yang tengah singgah di Hamburg.
Kunckel tak menyimpan informasi itu sendirian. Ia menyampaikannya kepada Johann Daniel Kraft, penasihat perdagangan penguasa Saxony, dan bahkan menyerahkan satu contoh zat itu saat di Berlin.
Kraft bergerak lebih gesit. Setelah mengaku membeli "lisensi" temuan Brand, pada 24 April, ia memperagakan kemampuan zat itu di istana Brandenburg di Berlin. Nama penemunya tak sekali pun disebut di sana. Baru pada lawatan selanjutnya ke Hanover dan London ia menyebutkan nama Brand.
Di tangan Kraft, temuan Brand berubah menjadi tontonan. Dokter istana, Johann Sigismund Elsholtz, mencatat peragaan tersebut, sekaligus menjadi tulisan pertama tentang temuan Brand. Di situ pula zat itu pertama kali dinamai fosfor, dari bahasa Yunani phosphorus 'pembawa cahaya'.
Kunckel lebih dulu tahu, tetapi kalah cepat. Ia menempuh jalan lain. Keterangan awal dari Brand belum cukup baginya. Juni 1676, ia mengaku sudah dua kali menyuling tanpa bisa membuahkan api. Lewat surat, dengan menyatakan bersumpah menjaga kepercayaan, ia bertanya kepada Brand soal pembagian laba.
Brand menampik permintaan Kunckel. Ia sudah menyesal membuka sebagian rahasianya pertama kali, dan tak hendak menambah lagi.
Meski begitu, Kunckel akhirnya berhasil secara mandiri. Ia mencampur ekstrak urine dengan pasir, lalu mengaku sebagai penemu, atau setidaknya orang yang menemukannya kembali. Klaim itu melekat lama. Lebih dari satu abad orang Eropa mengenal zat tersebut sebagai fosfor Kunckel.
Giliran berikutnya datang dari kalangan istana. Leibniz, penasihat di Hanover, sampai dua kali membujuk Brand datang ke sana untuk membuat fosfor. Dalam kesepakatan yang direstui penguasa Hanover, Brand wajib menjelaskan caranya. Dari penjelasan itulah lahir catatan yang kini menjadi satu-satunya jejak autentik cara kerjanya.
Namun di istana Hanover, ia dicap buruk, terutama soal fakta bahwa ia memburu hal-hal khayali seperti batu filsuf.
Dari Hanover, ia pulang nyaris dengan tangan hampa. Bayarannya datang tersendat. Penguasa Hanover meninggal pada 1679 sebelum sisa "upah"-nya terbayar lunas.
Kesulitan uang terus membuntuti Brand. Namun, ia tetap berusaha selama bertahun-tahun berikutnya. Pada September 1688, di sebuah bukit dekat Schipbek, Brand menyewa sejumlah serdadu kota untuk membantunya menggali dan mencari emas. Namun, tak sekeping pun ditemukan.
Musim semi berikutnya, lelaki yang menyebut dirinya dokter itu menyerahkan jubah beludrunya kepada pemilik penginapan sebagai jaminan utang. Serdadu yang tak kunjung dibayar membalasnya dengan pukulan dan makian.
Sementara Brand menggali bukit, fosfor sudah berpindah ke London. Informasinya sudah sampai pula ke telinga ilmuwan Inggris bernama Robert Boyle, yang kemudian memproduksinya dalam skala besar.
Pada 1736, giliran Prancis. Akademi Ilmu Pengetahuan Paris membeli lisensi proses pembuatannya agar Prancis tak terus bergantung pada fosfor mahal dari Inggris.

Pengakuan yang Terlambat
Sejak kali pertama ditemukan oleh Brand pada 1669, pamor fosfor terus melonjak. Wawasan soal itu menyebar. Keuntungan berkatnya pun sedemikian besar.
Sekitar 50 tahun pasca-penemuan Brand, fosfor diproduksi dan dijual kepada filsuf alam, apoteker, dan pemain sandiwara, yang memanfaatkannya sebagai tontonan untuk istana-istana kerajaan.
Ketika waktu sudah merambat satu abad setelahnya, pengetahuan soal fosfor sudah dibukukan. Salah satunya tertuang dalam buku teks kimia karya P. J. Macquer, Elements of Theoretical and Practical Chemistry (1777).
Setengah abad setelahnya, fosfor sudah makin menonjol dan penting dalam kehidupan manusia. Zat itu telah digunakan sebagai bahan utama korek api, pupuk, dan bahkan bom.
Tahu betul bahwa nama Brand kurang dihargai dalam catatan-catatan awal temuan fosfor, Macquer berupaya membalikkannya. Dalam buku tersebut, ia menulis secara terang bahwa fosfor yang dijelaskan di setiap lembar karyanya "ditemukan pertama kali oleh seorang warga Hamburg bernama Brandt..." (hlm. 204)
Menurut Macquer, dengan interpretasi simpatiknya, temuan Brand soal (dari yang awalnya hanya berusaha mencari batu filsuf) mampu mengilhami beberapa "penemuan" yang menarik. Bahkan, di bidang seni sekalipun.
Salah satu buktinya, pada 1771, seniman bernama Joseph Wright of Derby merekonstruksi gambaran situasi ketika Brand menemukan fosfor dalam laboratoriumnya. Potret itu ia ejawantahkan dalam bentuk lukisan bertajuk "The Alchemist Discovering Phosphorus".
Penulis: Rizqy M. Farhan & Fadli Nasrudin
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id

































