Penelitian: Udara di Cina Punya Kadar Ozon Tertinggi di Dunia

Oleh: Febriansyah - 6 Februari 2019
Dibaca Normal 1 menit
Berdasarkan hasil penelitian, Cina punya tingkat polusi ozon yang lebih tinggi daripada semua negara seperti Amerika Serikat, Eropa, Jepang, dan Korea Selatan.
tirto.id - Masyarakat di Cina menghirup udara yang mengandung ozon yang dapat merusak paru-paru dua hingga enam kali lebih sering daripada orang di Amerika Serikat, Eropa, Jepang, atau Korea Selatan, menurut penelitian baru.

Penelitian yang diterbitkan oleh Environmental Science & Technology Letters ini menemukan bahwa, di daerah perkotaan terpadat di Cina timur dan tengah, ada lebih dari 60 hari dalam satu tahun kalender dengan tingkat ozon permukaan melebihi standar kualitas udara ozon nasional Cina.

"Cina telah menjadi titik panas polusi ozon permukaan saat ini. Paparan polusi pada manusia dan vegetasi di Cina lebih besar daripada di wilayah maju lainnya di dunia,” kata Owen Cooper, salah satu peneliti.

Banyak negara mulai mengatur lapisan ozon mereka yang mulai rusak akibat polusi. Di Amerika Serikat, misalnya, standar berbasis kesehatan saat ini untuk ozon di permukaan tanah, yang ditetapkan oleh Badan Perlindungan Lingkungan AS, adalah 70 ppb berdasarkan maksimum harian rata-rata 8 jam. Sementara di Cina melebihi itu, bahkan setara dengan 80 ppb.

Ozon permukaan tanah paling umum terbentuk ketika senyawa organik yang mudah menguap dan nitrogen oksida bereaksi di atmosfer dengan adanya sinar matahari.

Pembakaran bahan bakar fosil dan pembakaran biomassa (dari pembukaan tanaman atau kebakaran hutan) adalah sumber utama senyawa organik yang mudah menguap dan nitrogen oksida.

Sejak 1990-an, kontrol yang lebih ketat pada emisi bahan-bahan tersebut telah mengurangi polusi ozon di banyak kota di Eropa dan AS.

Tetapi tingkat pencemaran ozon permukaan di Cina belum diakui secara luas, sebagian karena ada begitu sedikit lokasi pemantauan Cina sebelum 2012, menurut para peneliti.

Untuk studi ini, para peneliti menggunakan data dari jaringan yang relatif baru dari 1.600 pemantau ozon di Cina dan database ozon global besar baru untuk mengukur tingkat ozon di Cina dan membandingkannya dengan tingkat di negara lain.

Hasilnya menunjukkan bahwa, Cina memiliki tingkat polusi ozon yang lebih tinggi daripada semua negara dengan monitor ozon, termasuk Amerika Serikat, Eropa, Jepang, dan Korea Selatan.

Setiap metrik ozon yang dilihat para peneliti naik terus di Cina selama lima tahun terakhir.

Faktanya, tingkat ozon saat ini di kota-kota besar Cina sebanding dengan tingkat AS pada 1980-an dan 1990-an.

"Tingkat ozon di Beijing hari ini mirip dengan Los Angeles pada 1990-an, ketika kontrol emisi baru mulai berdampak pada pengurangan tingkat ozon di sana," kata Cooper.

Selama beberapa tahun terakhir, polusi asap musim dingin telah menjadi perhatian publik utama di Cina dan fokus tindakan pemerintah terhadap polusi udara.

Pemerintah Cina telah menerapkan langkah-langkah pengendalian emisi yang ketat untuk meningkatkan kualitas udara, yaitu Sejak 2013, Rencana Aksi Pencegahan dan Pengendalian Polusi Udara telah mengurangi konsentrasi polutan udara primer dan partikulat rata-rata 35 persen untuk 74 kota besar.

"Banyak orang di Ciina tidak menyadari bahwa kita mungkin menderita polusi ozon parah di bawah langit biru pada hari-hari musim panas. Keparahan yang muncul dari polusi ozon di Cina sekarang menghadirkan tantangan baru untuk strategi pengendalian emisi," jelas Lin Zhang dari Peking University, seperti dilansir Cires.

Selain itu ozon dapat membahayakan tanaman. Para peneliti menemukan satu metrik vegetasi yang mereka periksa menangkap akumulasi paparan ozon melebihi ambang batas di mana pertumbuhan pohon atau hasil panen diperkirakan akan berkurang, selama musim tanam tiga bulan.

Di Cina, nilai untuk metrik itu 1,4 - 2 kali lebih tinggi daripada di Jepang, Korea Selatan, Eropa, dan Amerika Serikat.

Studi yang dilakukan sebelum 2010 di beberapa situs Cina menyimpulkan bahwa polusi ozon sudah mengurangi hasil gandum hingga 6-15 persen.


Baca juga artikel terkait POLUSI UDARA atau tulisan menarik lainnya Febriansyah
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Febriansyah
Editor: Yandri Daniel Damaledo