Pemilu Iran adalah Pertarungan Reformis melawan Konservatif

Pemilu Iran adalah Pertarungan Reformis melawan Konservatif
Perempuan Iran memilih di TPS Masjid Lorzadeh, Teheran. Atta Kenare/AFP
Reporter: Windu Jusuf
20 Mei, 2017 dibaca normal 2 menit
Ebrahim Raisi akhirnya keok. Seandainya menang, ia dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mungkin akan membikin sekuel sinetron kesukaan masyarakat dunia: adu bacot Bush dan Ahmadinejad.
tirto.id - Sabtu (20/05/17), Rouhani kembali terpilih sebagai presiden Iran. New York Times melaporkan, Rouhani memperoleh 23 juta (57%) dari 41 juta suara. Pesaingnya, Ebrahim Raisi, mendapat 15,7 juta suara (38,5%). Jumlah pemilih tahun ini diproyeksikan sebanyak 55 juta dari keseluruhan populasi 80,8 juta jiwa.  Salah satu isu yang dipertaruhkan adalah kesepakatan nuklir dengan Amerika Serikat pada 2015, di mana Iran berjanji untuk menghentikan proyek reaktor nuklirnya sedangkan AS menghapus sanksi ekonomi. Adapun isu domestik yang mengemuka adalah tingginya angka pengangguran.

Setiap warganegara Iran boleh mengajukan diri sebagai kandidat presiden. Persyaratan formalnya mudah: serahkan pas foto dan dokumen ke Kementerian Dalam Negeri, yang kemudian diseleksi oleh Dewan Wali Konstitusi (Shora-ye Negahban-e Qanun-e Assassi) yang terdiri atas ulama dan hakim. Tahun ini, Dewan Wali telah meloloskan tujuh kandidat dari 1.600 pendaftar. Selain Rouhani dan Raisi, ada Eshaq Jahangiri (wakil presiden), Mohammad Bagher Ghalibaf (Walikota Tehran), Mostafa Agha Mirsalim, dan Mostafa Hashemi-Taba. Mantan presiden Mahmoud Ahmadinejad dikabarkan tak lolos seleksi.

Pemilu Iran adalah Pertarungan Reformis melawan Konservatif

Dua Poros Politik

Bandul politik Iran berayun di antara demokrasi dan teokrasi, antara dialog dengan Barat dan retorika anti-Amerika, antara pragmatisme pro-pasar dan populisme kanan, antara politik reformis dan konservatif.

Kecenderungan pertama diwakili oleh pemerintahan Khatami (1997-2005) dan Rouhani (sejak 2013), sementara yang kedua oleh Khameini (1981-1989) dan Ahmadinejad (2004-2013). Pemilu kali ini juga merupakan pertarungan antara dua tendensi tersebut, dan sama seperti suksesi-suksesi kepemimpinan sebelumnya, peran dalam Revolusi Iran dan kedekatan dengan para pemimpin besar saat itu masih dipandang sebagai modal penting.

Menjelang kejatuhan Shah Iran pada 1979, Rouhani mendampingi Ayatollah Khomeini dan Rafsanjani dalam pengasingan di Prancis. Setelah Revolusi, ia sempat menjadi anggota parlemen. Sebagai calon moderat, ia mendapat dukungan dari para aktivis reformis yang memprotes hasil pemilu pada 2009 lalu, termasuk dua pembangkang yang populer di kalangan massa-rakyat Iran, Mousavi dan Karroubi, yang dihukum tahanan rumah sejak 2011.

Jika Rouhani merupakan orang dekat Rafsanjani, Raisi adalah anak didik Ayatollah Ali Khamenei, yang saat ini menjabat Pemimpin Tertinggi Iran. Pada tahun 1988, Raisi dan tiga hakim lain memerintahkan eksekusi terhadap 30 ribu tahanan politik Iran. Belakangan, ia mengepalai yayasan amal dan bertindak sebagai imam Masjid Imam Reza. Sebelum momentum kampanye tahun ini, Raisi bukan sosok yang populer. Kendati demikian, ia dianggap sebagai representasi klik militer, terlihat dari dukungan beberapa jenderal dalam tubuh Garda Revolusi, angkatan bersenjata Iran.

Pada 2009, Garda Revolusi dan pasukan paramiliternya, Basij, diduga memanipulasi hasil pemilu Iran, sehingga Ahmadinejad menang atas kandidat reformis Mousavi. Rabu lalu (17/05/15) kantor berita Reuters mengabarkan bahwa Rouhani telah memberi peringatan kepada angkatan bersenjata yang menguasai kerajaan bisnis senilai milyaran dolar ini agar menjauh dari kotak suara.

Raisi yang didukung lapisan ekonomi terbawah Iran, berjanji akan melakukan pemerataan pendapatan dan membuka jutaan lowongan pekerjaan baru. Ekonomi Iran secara umum membaik setelah pencabutan sanksi ekonomi pada 2015. Data terbaru dari Pusat Statistik Iran menunjukkan bahwa tingkat pengangguran melampaui 12 persen, timpang dengan pertumbuhan ekonomi yang mencapai 7,2 persen, dan inflasi berada di titik terendah selama 10 tahun terakhir.

Rouhani mewakili Partai Moderasi dan Pembangunan Iran, partai tengah berorientasi teknokrat yang sebelumnya sempat mencalonkan Khatami (2001), Rafsanjani (2005), dan Mousavi (2009). Sementara Raisi mendapat tiket dari Asosiasi Ulama Kombatan, yang bukan partai politik namun menjadi kendaraan politik sebagian ulama di parlemen.

Para pengamat mengatakan bahwa kemungkinan terpilihnya Raisi bisa menjadi sinyal buruk untuk kesepakatan AS dan Iran menyangkut reaktor nuklir dan sanksi ekonomi. Dengan Trump di Gedung Putih, Presiden Raisi hanya akan membangkitkan tradisi lawas adu bacot a la Bush dan Ahmadinejad di forum-forum dunia.

Baca juga artikel terkait IRAN atau tulisan menarik lainnya Windu Jusuf
(tirto.id - win/dea)

Keyword