PayPal Menantang WeChat Pay Hingga Go-Pay via Grab?

Kantor PayPal di San Jose, California. Analis memperkirakan perusahaan di S & P 500 melaporkan lonjakan pendapatan selama tiga bulan pertama tahun ini. Perusahaan teknologi akan berada di bawah pengawasan karena di situlah harapan pertumbuhan pendapatan mendekati yang tertinggi. Analis menyerukan kenaikan lebih dari 10 persen untuk berbagai perusahaan, dari Apple ke PayPal. AP / Jeff Chiu
Oleh: Ahmad Zaenudin - 29 November 2018
Dibaca Normal 3 menit
PayPal dikabarkan akan mengucurkan investasi ke Grab, menjadi pesan bahwa bisnis transportasi online bermuara pada fintech.
PayPal, perusahaan teknologi finansial asal Amerika Serikat, dikabarkan tengah berunding dengan Grab soal kemungkinan memberikan kucuran investasi bagi perusahaan ride-sharing Asia Tenggara itu. Sebagaimana dilansir Vulcan Post, yang mengutip Deal Street Asia penjajakan PayPal pada Grab merupakan bagian dari pendanaan Seri H yang dilakukan Grab. Rencananya, Grab menargetkan dana senilai $2 miliar dari seri pendanaan tersebut. Namun, masuknya PayPal membuat target mereka ditingkatkan menjadi $3 miliar.

Dalam pendanaan Seri H yang telah dilakukan, Grab telah memperoleh kucuran investasi dari dua perusahaan pada November 2018. Pertama, pada 6 November, Grab memperoleh investasi senilai $250 juta dari Hyundai, perusahaan otomotif asal Korea Selatan. Pada 8 November 2018, Grab memperoleh tambahan investasi Seri H dari Kasikorn Bank, bank swasta Thailand, senilai $50 juta.

Dari perolehan dana yang kian mengalir itu, Grab kini berstatus “decacorn,” perusahaan dengan valuasi lebih dari $10 miliar. Meninggalkan Go-Jek, Tokopedia, Traveloka, SEA, hingga Razer, startup-startup Asia Tenggara yang masih berstatus unicorn--perusahaan bervaluasi di atas 1 miliar.

Pada awal November 2018, Grab mengumumkan akan menambah fitur remittance, jasa transfer mata uang, ke layanan GrabPay. Rencananya, fitur remittance akan aktif digunakan pada kuartal I-2019 mendatang. Rencana masuknya PayPal ke Grab kemungkinan tak hanya soal uang, tetapi juga dukungan teknis soal teknologi finansial (fintech) yang mahir dilakukan PayPal.


PayPal yang Kalah Saing


Lahirnya PayPal terkait dengan dua startup fintech asal Amerika Serikat bernama Confinity dan X.com. Confinity merupakan startup pencipta sistem keamanan bagi perangkat genggam. Pada 1999, Confinity meluncurkan produk baru berupa layanan transfer uang online. Pada tahun yang sama, X.com lahir. Ia adalah startup perbankan online, didirikan oleh Elon Musk. Pada Maret 2000, Confinity dan X.com melakukan aksi merger, dan setahun berselang mereka mengubah nama menjadi PayPal.

Di masa-masa awal kemunculannya, PayPal merupakan layanan finansial yang populer digunakan para belanja online di eBay. Ini lantas melecutkan semangat eBay membeli PayPal pada Juli 2002 senilai $1,5 miliar. PayPal bertransformasi jadi salah satu perusahaan fintech terbesar. Sayangnya, kebesaran PayPal hanya berada di kancah desktop. Di era smartphone, mereka masih belum bisa berbuat banyak.

Dikutip dari pemberitaan The Montley Fool, PayPal kini harus berjuang keras melawan pesaing-pesaingnya, yang memiliki cengkeraman khusus yang tak dimiliki PayPal. Apple Pay, Samsung Pay, hingga Android Pay, bisa memaksakan pengguna menggunakan layanan mereka karena ketiga layanan finansial itu dikelola oleh perusahaan pembuat smartphone.

Cengkeraman khusus itu, misalnya, sukses membuat Apple Pay memproses lebih dari 1 miliar transaksi di akhir kuartal I-2018 karena mereka memiliki 1,3 miliar perangkat aktif Apple yang digunakan pengguna di seluruh dunia.

PayPal telah digunakan di lebih dari 200 negara dengan dukungan 25 mata uang berbeda. Sayangnya, PayPal hanya kuat di Amerika Serikat. Dilansir dari laman Statista, per kuartal III-2018 PayPal memiliki 254 juta pengguna aktif, sebanyak 69 juta berasal dari Amerika Serikat.


Asia Masa Depan PayPal


Bila PayPal jadi mengucurkan dana kepada Grab, ini bisa dibaca sebagai salah satu cara bagi PayPal masuk lebih dalam ke pasar Asia. Asia merupakan salah satu pasar pembayaran digital terbesar dunia. Pada 2018, nilai transaksi pembayaran digital ini mencapai $1,6 triliun.

Nilai transaksi tersebut diperkirakan meningkat. PayPal, dalam studi internalnya berjudul “Digital Payments: Thinking Beyond Transaction” menyebutkan masyarakat Asia masih suka menggunakan uang kontan. Sebanyak 70 persen responden dari India, Filipina, Indonesia, mengakui hal tersebut. Hanya responden asal Cina yang telah terdepan soal bertransaksi secara digital di kawasan ini. Artinya, sangat terbuka peluang meningkatkan pasar finansial digital di Asia.

Rohan Mahadevan, Senior Vice President Asia Pacific PayPal, sebagaimana dikatakannya pada CNBC, menyebut “masyarakat Asia sangat tahu keberadaan dompet digital, tapi penggunaannya masih teramat kecil.” Kecilnya jumlah pengguna tersebut, kata Mahadevan, terjadi “ketika masyarakat memperoleh informasi yang sempit dan membuat mereka takut untuk mencobanya.”

Pada 2016, seperti dilaporkan Nikkei, PayPal sesungguhnya telah masuk Asia. Saat itu mereka membuka secara resmi sistem pembayaran digital di Jepang, Hong Kong, Singapura, dan Malaysia. Namun, kala itu PayPal khusus memberikan layanan pada orang-orang kaya di Asia. Peluang dari kerja sama dengan Grab, PayPal nampaknya ingin masuk secara lebih masif pada masyarakat Asia.

Sayangnya, di Asia mereka akan berhadapan dengan lawan tangguh, lawan yang secara hitung-hitungan statistik lebih besar dibandingkan PayPal, yaitu WeChat Pay.

WeChat Pay merupakan layanan teknologi finansial di dalam aplikasi pesan instan WeChat. WeChat adalah aplikasi pesan instan, memiliki 1,08 miliar pengguna aktif. Zhang Yu, analis iResearch, sebagaimana diwartakan Forbes, mengatakan 80 persen pengguna WeChat itu merupakan pengguna WeChat Pay. Capaian ini jomplang dengan jumlah pengguna PayPal yang kini hanya memiliki 254 juta pengguna.

Dipacak dari laporan berjudul “2017 Mobile Payment usage in China Report” yang dirilis Ipsos, pada akhir 2016, WeChat Pay memproses 600 juta transaksi. Menurut laporan itu, WeChat Pay telah menjelma menjadi “bagian dari kehidupan keseharian.” Catatan Statista PayPal baru memproses uang senilai $143 miliar per kuartal III-2018.

Hingga saat ini, Cina memang masih jadi tempat tersakral WeChat Pay. Namun, perlahan layanan itu merasuk ke kawasan Asia lainnya. Melalui Tencent, induk usaha WeChat Pay, mereka berinvestasi misalnya ke Go-Jek di Indonesia. Pada 2017, Tencent menyuntik dana senilai $1,2 miliar. Suntikan tambahan senilai $1 miliar digulirkan kembali pada Go-Jek. Sebagaimana diketahui, Go-Jek memiliki aplikasi serupa seperti yang dimiliki Tencent bernama Go-Pay.

Khusus di Bali, WeChat Pay bahkan lebih menggurita. Mereka menyasar 1,2 juta turis asal Cina menghabiskan uang di Bali untuk menggunakan WeChat Pay.


Sama seperti Apple Pay atau Android Pay, kuatnya WeChat Pay terjadi karena mereka memiliki cengkeraman khusus melalui ekosistem yang sudah tercipta. Laporan Forbes, ekosistem itu berasal dari aplikasi pesan instan. Pengguna WeChat, menghabiskan lebih dari satu jam berkomunikasi via platform tersebut. Hal yang kemudian mudah digiring untuk turut menggunakan layanan fintech.

PayPal memang harus bergandengan tangan dengan perusahaan yang punya ekosistem pengguna sebagai alat "paksa". Grab adalah pilihannya karena punya pengguna transportasi ojek dan mobil online. Ini juga menegaskan bahwa bisnis transportasi online melekat dengan fintech.

Baca juga artikel terkait PAYPAL atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra
DarkLight